Mendukung Kampanye ‘Setop Bertanya Kapan Nikah’ Menjadi Sebuah Revolusi Budaya

Mendukung Kampanye ‘Setop Bertanya Kapan Nikah’ Menjadi Sebuah Revolusi Budaya

The Irish Times

Saya kaget ternyata di Bengkulu ada kelompok anak muda, namanya Forum Generasi Berencana (GenRe), yang menggagas kampanye ‘Setop Bertanya Kapan Nikah’. Sebuah ide yang saya rasa sangat revolusioner.

Bagaimana tidak? Ide tersebut, menurut saya, bisa menjadi benih-benih sebuah revolusi budaya. Tentunya menggedor budaya yang konservatif, sebuah budaya yang disebut Roger Scruton – filsuf asal Inggris – sebagai sebuah ‘pelestarian ekologi sosial’.

Di Indonesia, kuatnya pelestarian tradisi dan budaya konservatif soal pernikahan jadi biang kerok munculnya pertanyaan kapan nikah. Sebuah pertanyaan yang tampak ramah, sopan, tapi menusuk tepat di jantung para jomblo yang sudah sekarat. Lalu mati gaya tidak berdaya.

Pertanyaan kapan nikah seolah menegaskan kalau pernikahan itu bak perlombaan yang menentukan prestasi dan kenaikan kelas dalam kehidupan sosial. Tidak peduli, apakah sudah siap atau tidak. Yang penting teror dulu setiap kali ketemu. Banyak juga yang akhirnya menyerah. Tak heran kalau angka pernikahan dini di Indonesia tinggi banget.

Kalau kita lihat hasil penelitian Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia tahun 2015, angka pernikahan dini di Indonesia menduduki peringkat dua di Asia Tenggara. Sekitar 2 juta dari 7,3 juta perempuan Indonesia yang berusia di bawah 15 tahun sudah menikah. Jumlah itu diperkirakan naik menjadi 3 juta pada 2030.

Tentunya kawin cepet-cepet ini berdampak pada putus sekolah atau kuliah. Belum lagi risiko tinggi terjadinya kekerasan rumah tangga dan perceraian. Kalau begini biasanya yang jadi korban ya perempuan.

Percuma saja kita mengagung-agungkan bonus demografi yang katanya bisa bikin Indonesia melompat menjadi negara maju nantinya. Sekadar mengingatkan, syarat mutlak meraih bonus demografi itu adalah penduduk yang berkualitas, termasuk peran perempuan.

Jadi, dengan mendukung kampanye ‘Setop Bertanya Kapan Nikah’, kita bisa mendobrak kekolotan tradisi dan budaya yang cenderung represif sampai ke persoalan asmara segala.

Bagi saya, sebuah budaya yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat tidak berhak melakukan intervensi, karena persoalan nikah sudah masuk ruang pribadi, bukan?

Selama ini, intervensi budaya begitu kuat. Setelah kapan nikah, pertanyaan selanjutnya sudah menunggu. Udah isi? Kapan punya anak? Anak sudah berapa? Serem nggak tuh pertanyaannya. Tujuan nikah seolah-olah hanyalah bikin anak. Ini sudah offside namanya, karena sudah masuk ke persoalan ranjang. Banyak pasangan stres, karena ML hanya jadi rutinitas bikin anak.

Apakah sampai di situ? Tidak juga. Giliran sudah punya anak, datang pertanyaan kapan nambah? Ini maunya apa sih? Terus kalau sudah nambah, apa lagi? Kapan kawin lagi gitu?

Sudahlah, hentikan itu semua. Dengan setop bertanya kapan-kapan itu, budaya konservatif nan represif akan runtuh. Sudah saatnya kita merevolusi budaya. Persoalan nikah, punya anak, dan nambah anak itu urusan privat. Tugas budaya adalah membentuk lingkungan yang mendukung pengembangan masyarakatnya.

Mungkin langkah konkretnya bisa dimulai dari kita sendiri untuk setop bertanya kapan nikah, termasuk bertanya kapan punya anak, kapan nambah, dan kapan-kapan lainnya. Singkirkan pula imaji menakutkan, seperti julukan ‘bujang lapuk’, ‘perawan tua’, dan kawan-kawannya. Itu teror bro, sis… Anda bukan teroris, bukan?

  • J3rk

    Stop galau gara2 ditanya nikah aja lah. Kalo kurang bekel ilmu (dan iman tentunya) pantesan ngerasa diteror ?

  • Octa

    Huwahhh…I need to spread this all over the world lol
    Makasih tulisannya…