Mendarat Darurat di Norimbi, Kota Para Pecandu Kompetisi
SERIAL FIKSI MISTERI

Mendarat Darurat di Norimbi, Kota Para Pecandu Kompetisi

Ilustrasi (rykoszet.info)

Semua bermula dari kesalahan.

Si Neng mengepaki pakaian ke dalam koper besarnya dan mengingat kencan terakhirnya dua malam lalu yang berakhir muram. Ia dan Abang saat itu sedang merayakan hari pertunangan mereka di sebuah resor indah di luar kota, sebelum atasan baru Abang menelepon dan memintanya berangkat ke Istana malam itu juga.

Neng ingat gaun hitam pemain harpa yang mendentingkan Kiss Me untuk mereka. Neng ingat harum anggur yang dituang dengan satu gerakan santun oleh kepala pelayan. Neng juga ingat dekapan hangat tunangannya sambil berbisik bahwa malam itu akan menjadi momen yang teramat bahagia.

Namun, Neng bakal selalu ingat mulut lelaki itu yang terus mengatup setelah kembali ke meja. Hanya matanya yang berbicara, dan ia kadung hapal sorot mata semacam itu, sebab bukanlah kali pertama. Dengan lelah, Neng berkata, “Pergilah.”

Ia sendiri juga akan pergi. Ia sedang ingin sendiri. Ia merasa perlu mengevaluasi hubungannya dengan Abang, sebab ia mulai lelah menjadi pihak yang selalu mengalah. Pengorbanan, bila memang disyaratkan oleh sebuah hubungan, pantaskah ia tanggung sendirian?

Maka, sebaiknya ia menyingkir. Telah dipesannya tiket pesawat ke Paris siang tadi, dan segala dokumen telah siap. Ia tak menghubungi tunangannya untuk mengucapkan selamat tinggal. Ia pikir itu tak perlu.

Namun, Neng tak tahu bahwa ketika ia telah berada di ketinggian tiga puluh ribu kaki, Abang mencarinya untuk meminta maaf dan bercerita mengenai atasannya yang keliru memencet nomor. Bukan dia yang diinginkan atasannya untuk bertugas di Istana.

Dan, Neng tak tahu kalau pesawatnya nanti tak akan mendarat di Paris.

***

Kota ini telah lama lupa pada sinar matahari. Delapan gunung berdiri di delapan penjuru kota, membuat kota itu berada dalam bayang-bayangnya ketika pagi dan senja.

Saat matahari berada di ubun-ubun, awan gelap bergulung-gulung turun dari kedelapan puncak gunung dan melindungi kota itu dari garangnya terik siang.

Tak ada penduduk yang mengeluh, begitu pula dengan hewan-hewan dan tetumbuhan. Alam mengurung mereka dalam kemurungan, tetapi kemurungan hanya bermakna bila ada pembandingnya. Maka, seisi kota menjalani hidup senormal penduduk kota-kota lain yang mengenal matahari.

Tetapi, sore itu lain. Penduduk digemparkan oleh pesawat komersial yang mendarat darurat di jalan pinggiran kota. Tak ada kendaraan yang tergilas, untungnya begitu. Namun, kondisi pesawat yang ringsek di sana-sini membuat orang-orang panik. Asap tebal membubung dari kedua mesinnya.

Semua penumpang pesawat itu selamat, kecuali seorang kakek yang tewas tersedak geraham palsunya sendiri akibat terlalu panik. Kakek itu duduk di kursi 17A, sementara di sebelahnya, di kursi 17B, seorang wanita tak hentinya menangisi selembar foto.

Kota itu sendiri bernama Norimbi. Dan, wanita yang menangisi foto itu, yah, siapa lagi kalau bukan Si Neng?

***

Tak ada orang lain yang dirawat di ruangan itu selain dirinya. Tak ada yang bisa ia perbuat untuk mengabari Abang. Layar ponselnya retak akibat tertindih entah apa di pesawat.

Namun, ia berharap Abang datang. Ia benar-benar membutuhkan dekapan tunangannya. Dan, ia mendengar langkah-langkah gegas di koridor. Pintu pun terbuka.

Tapi yang muncul ternyata suster. Ia membawa nampan berisi obat-obatan dan kabar baik. Obat-obatan itu ia taruh di meja samping ranjang Si Neng, sementara kabar baiknya adalah ia boleh keluar dari rumah sakit hari itu. Cederanya tak serius, dan ia tak perlu membayar apa pun.

“Kau bisa menumpang bus untuk pergi ke ibukota, sehari semalam perjalanannya,” ujar suster itu. “Tapi, ada baiknya kau berjalan-jalan dulu di kota ini beberapa hari. Norimbi adalah kota yang sempurna untuk orang yang kecanduan kompetisi.”

Neng tak begitu paham dengan perkataan suster itu. Ia tak suka berkompetisi, dan sejujurnya ia keok di semua lomba yang pernah ia ikuti. Hanya perlombaan merebut hati Abang-lah yang ia menangi, dan itu pun tak tersedia medali.

Tapi ia mengucapkan terima kasih dan membiarkan suster itu berlalu. Aroma parfum suster itu mengingatkannya pada gladiol yang ia tanam semasa kecil dulu.

***

Slogan Norimbi terpampang di segala tempat: “Di mana Tanah Dipijak, di situ Kompetisi Digelar”. Hanya butuh dua detik untuk membacanya dan detik berikutnya untuk memahaminya. Kompetisi diadakan untuk hal apa pun, di mana pun, dan pemenangnya akan diarak sejenak oleh peserta lain, tak peduli mereka kalah.

Baru saja keluar dari gerbang rumah sakit, Neng menyaksikan empat orang beradu cepat membungkus nasi. Keempatnya memang pedagang nasi yang saling bersisian lapak, dan lomba itu dimungkinkan karena keempatnya kebetulan sama-sama dikunjungi pembeli.

Seluruh pemakai jalan berhenti untuk menonton adu ketangkasan tersebut. Pejalan kaki menghentikan langkahnya. Pengendara motor memarkir kendaraannya di bahu jalan. Pengemudi mobil melongok dari kabin sambil bersorak. Penumpang bus dan taksi memilih berhenti di situ, meski belum tiba di tujuan.

Dan, pemenangnya adalah penjual bercambang lebat itu. Ia merampungkan dua puluh enam bungkus dalam waktu empat menit. Semua penonton bersorak untuknya, dan ia ditandu pada bahu salah satu penonton seperti raja. Setelah kira-kira sepuluh menit kegembiraan itu, mereka bubar.

Kemudian dimulailah kompetisi yang lain. Orang-orang yang memarkir motornya beradu cepat mengeluarkan motor dari kerumunan. Orang-orang yang naik mobil berlomba menyalakan mesin. Mereka yang turun dari bus dan taksi berkompetisi memperoleh tumpangan.

Penontonnya adalah pejalan kaki yang lagi-lagi menghentikan langkah mereka dan bertempik sorak untuk siapa pun yang berlomba. Neng terhimpit di antara kerumunan, tetapi ia tak lagi peduli. Pada dasarnya ia menyukai keriuhan, dan kini ia sudah tersengat euforia kota Norimbi.

Ia bertepuk tangan riuh sekali. Ia menyukai adu kecepatan seperti ini.

***

“Bisakah lebih cepat lagi?” tanya Si Neng kepada sopir taksi.

“Maaf, Nyonya, saya sedang beradu lambat saat ini,” jawab sang sopir taksi. Jarum speedometer tak pernah lebih dari angka 20.

“Aku belum kawin, jangan panggil nyonya.” Neng menoleh ke segala arah, tetapi tak ada kendaraan yang tampaknya sedang berlomba dengan taksi ini. Semua kendaraan melaju dengan kecepatan normal. “Lomba melawan siapa?”

Sang sopir memekik pelan ketika menyadari bahwa kecepatan mobilnya bertambah dua kilometer per jam dari batas perlombaan. “Maaf kalau begitu, Nona. Saya berlomba dengan diri sendiri. Tidak bisakah anda diam sebentar?”

***

Si Neng mendapati wajah suster yang pernah merawatnya di halaman pertama koran lokal di lobi hotel. Penampilan suster itu sama persis dengan yang terakhir ia lihat: setelan serba putih dengan tanda silang merah di dada, gelang bermata giok, lesung pipi, jam emas di tangan kiri. Si Neng bahkan yakin ia mencium aroma parfum gladiol suster itu.

Ia baru tahu bahwa nama suster itu adalah Sunday. Dan, Miss Sunday, seperti yang ditulis koran tersebut, memenangi kontes ratu senyum yang diadakan oleh pemerintah kota.

Puas membaca profil suster Sunday, Neng membolak-balik halaman dan mengetahui bahwa itu bukan lomba satu-satunya yang diadakan oleh pemkot. Ada enam belas lomba lain yang sebagian kategorinya cukup absurd untuk dilombakan.

Contohnya, pemkot menggelar kompetisi menulis surat wasiat, yang dimenangi oleh gadis berusia sebelas tahun. Sayembara menonton TV berhasil dijuarai oleh pemuda yang belum cukup umur untuk masuk ke gedung bioskop. Sementara kejuaraan melamun dimenangi oleh seorang profesor matematika.

Lomba bulan ini telah berakhir, tetapi pemkot telah menyiapkan daftar lomba berikutnya. Di halaman delapan belas koran itu, Neng membaca persyaratan untuk peserta kompetisi mencoblos surat suara dan adu khusyuk berdoa. Hanya dua lomba itu yang diadakan pemkot untuk bulan depan.

“Itu hanya akal-akalan walikota agar terpilih kembali,” kata salah satu resepsionis yang namanya tak diketahui Neng. “Walikota selalu mengadakan lomba seperti itu tiap pemilu. Semakin banyak suara tidak sah yang disebabkan oleh peserta lomba, maka semakin besar peluang walikota untuk menjabat kembali.”

Neng belum sepenuhnya paham, maka dengan sabar resepsionis itu menjelaskan aturan pemerintah mengenai pemilu. Bila jumlah penduduk yang tak memilih siapa pun lebih dari empat puluh persen dari total jumlah konstituen, walikota petahana secara otomatis akan menjabat kembali. Tak peduli seberapa remuk perolehan suara untuknya.

“Penduduk yang ikut lomba itu akan mencoblosi surat suara lebih dari sekali. Beberapa malah mencoblos hingga surat suaranya hancur. Tetapi intinya adalah bila kau mencoblos lebih dari sekali, suaramu tak akan dianggap. Kau dianggap tak memilih. Dan lihatlah, walikota tak perlu berkampanye untuk memenangi pemilu.”

Neng memuji kecerdikan walikota Norimbi, tetapi muka si resepsionis tampak masam. Maka, cepat-cepat ia mengalihkan pembicaraan dengan bertanya apakah resepsionis itu bakal mengikuti lomba yang satu lagi, dan dengan mantap resepsionis itu menjawab:

“Itu sudah pasti. Besok aku akan cuti selama sebulan dan mengurung diri di rumah untuk berlatih berdoa dengan khusyuk agar walikota itu tak terpilih lagi. Kau mungkin mengerti betapa membosankannya memiliki walikota yang sama selama tiga puluh tahun.”

***

Si resepsionis menjadi kampiun di lomba berdoa itu. Ia menguras air mata selama seminggu penuh di hadapan dewan juri dan penonton, dan itu tak mungkin terjadi bila ia berdoa setengah hati. Ia memohon kepada dewa-dewa agar walikota gagal menang, yang sayangnya tak terkabulkan.

Si Neng sudah mengurus segala sesuatunya agar ia bisa pulang. Ia mendapati wajah si resepsionis di halaman muka koran dan bersorak untuknya. Tetapi wajah si resepsionis di koran itu tampak murung. Setelah Neng mengamati dengan lebih saksama, tahulah ia bahwa si resepsionis memakai baju tahanan.

Bagaimanapun, tak ada walikota yang gembira saat mendapat doa yang buruk.

***

Pada dasarnya, walikota Norimbi adalah seorang nasionalis tulen. Ia mencintai negaranya dan kota tempat ia bermukim, dan di atas segalanya ia mencintai ruang kerjanya yang nyaman. Lelaki tua itu tahu kegandrungan rakyatnya pada kompetisi, dan ia selalu ingin menyenangkan hati rakyatnya.

Seminggu setelah hasil pemilu, walikota membaca kolom opini di ruang kerjanya dan mengetahui bahwa situasi negaranya sedang kacau sekali. Menurut opini yang ditulis oleh seorang pejabat teras di ibukota itu, situasi runyam tersebut disebabkan oleh keterlibatan pihak asing dalam pelbagai kebijakan negara.

Walikota itu membanting korannya ke lantai. Dadanya naik turun memikirkan situasi runyam yang mungkin akan menular ke kotanya. Ia harus bertindak untuk menyelamatkan Norimbi, dan yang terpenting, ruang kerjanya yang nyaman. Ia akhirnya menemukan gagasan yang brilian.

Pada Minggu yang cerah di alun-alun kota, dengan bangga sang walikota mengumumkan lomba terbaru. Lomba itu menjanjikan hadiah berlimpah bahkan untuk juara keseratus sekalipun. Rakyatnya bersorak dan mengelu-elukan dirinya. Semuanya mendaftar dengan antusiasme berlebihan. Dan, walikota tersenyum senang.

Lomba itu adalah berburu orang asing.

***

Neng terpojok di bilik toilet paling pojok di pojok terminal bus. Ia mengempit tasnya amat erat, sementara koper besarnya ia pakai sebagai pengganjal pintu. Ia menggigil dalam duduknya, dan ia lamat-lamat berdoa. Tolong, ujarnya, tolong aku.

Ia melihat jam tangannya dan menyadari bahwa pesawat yang akan membawanya pulang telah berangkat. Shelter bus ke bandara juga telah lama lewat.

Ia bisa menumpang taksi, tetapi itu hanya dimungkinkan bila ia bisa keluar dari sini, yang tampaknya tak mungkin. Maka ia berdoa dan bergumam tolong, tolong aku.

Ia mendengar derap langkah orang-orang. Ia yakin itu mereka yang memburunya di ruang tunggu penumpang. Ia mendengar salakan dan pekikan mereka, tetapi sampai sejauh ini ia tak tahu apa kesalahannya. Ia hanya bisa berdoa, tolong, tolong aku.

Ia merintih dalam takutnya ketika pintu toilet itu digedor-gedor. Ia memekik nyaring saat mendengar salah satu pengejarnya menyarankan agar pintu itu didobrak saja.

Neng menangis geru-geru sewaktu mereka meneriakkan aba-aba. Ia tak lagi berdoa, tetapi ia masih berkata tolong entah pada siapa. Tolong aku.

Pintu menjeblak dengan keras. Kopernya terguling ke dekat kakinya. Ia masih terduduk dan menangis. Sementara satu wajah yang familiar mengayun-ayunkan borgol di ambang pintu. Seringainya penuh kemenangan ketika berkata, “Kau tak bisa lari ke mana-mana lagi, Nona!”

Orang itu ia ingat pernah mengantarnya ke hotel: si sopir taksi yang bertanding dengan dirinya sendiri. Kini, orang yang sama akan mengirimnya entah ke mana dengan tangan terborgol.

Tapi sebelum lelaki itu memiting tangannya dan menyeretnya keluar bilik, ia berujar dengan putus asa, “Tolong, tolong aku.”

Tiba-tiba ia amat merindukan tunangannya.

***

Lelaki itu memutus obrolan di telepon dengan mata berbinar. Dia bersyukur sang atasan salah memencet nomor, sehingga tak jadi menugasinya ke Istana. Sang atasan tak mengucap maaf, tetapi dia juga tak mengharapkannya. Atasan tetaplah atasan, bagaimanapun.

Dia merapikan setelan jasnya lalu menyemprotkan kembali pengharum mulut. Telah dia abaikan tunangannya cukup lama, maka sepantasnyalah dia meminta maaf dengan penampilan yang sempurna. Maka, dia semprotkan pula parfum ke leher dan pergelangan tangannya.

Denting harpa masih melantunkan Kiss Me, tetapi dia mendapati tunangannya menangis. Cahaya lilin terpantul di air mata yang menganak-sungai di pipinya.

Tiba-tiba tunangannya itu bangkit dari kursi dan menghambur kepadanya, memeluknya erat-erat sambil terus terisak.

“Aku berjanji tak akan meninggalkanmu seperti itu lagi. Aku takut, Bang, mereka ingin menangkapku,” ujarnya di sela tangis.

“Maukah kau memaafkanku?”