Hal-hal Kecil tapi Penting saat Mendaftar Beasiswa

Hal-hal Kecil tapi Penting saat Mendaftar Beasiswa

Ilustrasi (Edwin Andrade/unsplash.com)

Album musik anak-anak tahun 1990-an biasanya diselipi percakapan-percakapan penuh petuah oleh sang penyanyi di antara satu lagu dan lainnya. Salah satunya adalah percakapan antara boneka Susan dan kak Ria Enes. Kak Ria pada saat itu meminta Susan untuk memilih-milih dalam bergaul.

“Jadi kalau aku berteman sama petinju, aku akan jadi petinju, gitu?” ujar Susan setengah kesal. Menurut Susan, kita harus berteman dengan siapa saja, tidak boleh pilih-pilih. Kita harus ambil sisi positif dari setiap teman dan buang sisi negatifnya. Betul juga!

Namun, setelah dipikir-pikir, saya kira Kak Ria ada benarnya. Mengelilingi diri dengan orang-orang yang termotivasi, memiliki tujuan yang sama, dan memiliki aura positif, sangatlah penting untuk membantu mengobarkan semangat. Kalau tidak, pada November 2015, saya pasti sudah mengundurkan diri dari beasiswa yang sudah saya terima.

Sebab itu, pilih-pilih teman adalah saran pertama saat ingin mendaftar beasiswa.

Penerima beasiswa bukanlah mereka yang paling pintar, melainkan mereka yang paling termotivasi, bekerja keras, saling membantu, dan pandai bekerja sama.

Saya selalu percaya, keberhasilan meraih cita-cita (pekerjaan impian, kenaikan jabatan, sekolah, jalan-jalan, apapun itu) bukan sekadar perjuangan individu, tetapi juga harapan ibu yang didengar semesta dan bantuan orang-orang di sekitar kita. Sekecil apapun kelihatannya.

Sebab itu, mencari komunitas yang tepat, yang saling menyemangati, saling membantu, dan mau bekerja sama, sangatlah penting. Kelilingi diri dengan orang-orang yang tidak mencibir cita-cita kita dan saling menyemangati dari pada saling bersaing tidak sehat.

Sayangnya, dalam kehidupan kapitalis, manusia lebih sering dicetak sebagai pesaing, karena hal tersebut akan menguntungkan pasar dan proses produksi. Bahkan, untuk hal-hal tidak penting saja kita bersaing.

Misal, saat kamu curhat, “Duh, capek banget semalam tidur jam 2 pagi.” Pasti ada aja yang jawab, “Itu sih masih mending banget, gue aja uda ga tidur dua hari dua malam!”

Atau, saat kamu bahagia, “Akhirnya kelar juga, kemarin udah kirim aplikasi ke beasiswa anu, paling gak satu check-list udah kelar.” Lalu ada yang tak mau kalah, “Wah, baru satu? Gue dong udah kirim lima!”

Yaelah, tidur aja jadi saingan. Nah, kalau nemu yang begini, mending cari temen berjuang yang baru.

Saran kedua adalah kenali diri sendiri. Aplikasi adalah salah satu alat utama menjual diri. Kalau tidak mengenal diri sendiri dengan baik, akan kesulitan untuk memahami potensi paling baik apa yang harus dijual.

Mengerjakan aplikasi (baik beasiswa maupun kerja) sebenarnya juga salah satu cara baik untuk mengenali diri, karena kita dituntut untuk berpikir dan bercerita dengan runut dan terstruktur tentang diri sendiri, termasuk ruang untuk pamer ilmu dan mengutarakan rencana masa depan.

Karena itu, mengisi aplikasi jangan sekadar menyontek gaya aplikasi yang sudah lolos sebelumnya. Aplikasi sekolah dan aplikasi beasiswa haruslah unik, tidak hanya mendemonstrasikan pengetahuan, tetapi juga ajang pamer karakter diri.

Saran ketiga, kalau sudah kenal sama diri sendiri, selanjutnya, pastikan kenal juga sama si pemberi beasiswa. Pengetahuan umum soal pemberi beasiswa dapat ditemukan di situsweb mereka, termasuk juga soal tujuan program dan fokus jurusan.

Dari banyak fokus jurusan yang ditampilkan, biasanya ada prioritas yang berbeda setiap tahun. Hal ini menjadi penting, karena dapat mempengaruhi kesempatan mendapatkan beasiswa dan strategi menentukan jurusan.

Selain itu, mengenal pemberi beasiswa juga dapat membantu memahami apa yang sebaiknya diutarakan dan bagaimana mengutarakannya dalam aplikasi. Misalnya, jika ingin mendaftar beasiswa ke Amerika Serikat, mungkin bagus juga kalau tidak terlalu fokus pada argumen anti-kapitalisme.

Alasan lain mengapa harus memahami pemberi beasiswa adalah karena bisa jadi setelah kenal malah jadi tak sayang. Misalnya, jadi ogah daftar karena ada perbedaan ideologi dengan pemberi beasiswa, atau karena dana yang ditawarkan kurang banget buat hidup layak.

Persoalannya, tidak semua detil dapat ditemukan di internet. Sebab itu, jangan ragu untuk mencari kontak alumni atau penerima beasiswa yang sedang bersekolah.

Tanyakan pada mereka mengenai detil pelatihan yang harus dilakukan (kalau ada), perjanjian dengan pihak beasiswa, nominal dana yang akan didapat, benefit (asuransi dan biaya mengikuti konferensi, misalnya), kegiatan yang harus dilakukan, bahkan kalau ada pastikan tentang pinalti.

Jangan malu bertanya karena ini menyangkut hidup kita nantinya, namun juga jangan memberi pertanyaan malas yang bisa dicari di internet.

Lalu apa, kalau sudah mengisi aplikasi?

Revisi dan revisi lagi. Baca aplikasi berulang-ulang. Tulis ulang, perbaiki berkali-kali. Minta pendapat banyak orang, teman, atasan, mantan dosen, mentor di bimbingan belajar.

Mentor saya, yang juga istri dari Duta Besar Amerika Serikat pada saat itu, pernah bilang, “Jangan kirim aplikasi sekolah atau aplikasi beasiswa sebelum direvisi 10 kali.”

Jangan khawatir kalau revisi nggak selesai-selesai. Proses beasiswa memang nggak selalu sekali jadi, atau setahun jadi. Proses pencarian beasiswa ini bisa bertahun-tahun, sebab itu jangan ditunda prosesnya.

Terakhir, proses mendaftar beasiswa bisa jadi dimulai jauh sebelum mengisi aplikasi. Proses saya dimulai dengan bertanya pada diri sendiri, apa saya sungguh perlu sekolah lagi? Mau jadi apa 10 tahun lagi?

Kemudian, apa yang saya butuhkan untuk berada di posisi tersebut? Apakah sekolah bisa membantu meraih hal tersebut? Bagaimana bersekolah bisa jadi salah satu alat untuk membantu untuk berada di posisi tersebut? Proses kontemplasi ini juga akan sangat membantu saat mengisi aplikasi.

Bagi saya, satu hal yang paling penting dari proses kontemplasi ini adalah menjawab pertanyaan, “Apa iya betulan butuh dan mau sekolah ke luar negeri?

Seorang teman yang sudah lolos aplikasi sebuah beasiswa, pada akhirnya memutuskan untuk nggak melanjutkan beasiswa karena pekerjaannya tidak membutuhkan pendidikan tinggi. Bersekolah lagi justru akan membuat dia kehilangan banyak kesempatan dalam pekerjaan. Sah-sah saja, kebutuhan orang berbeda-beda.

Beasiswa dan bersekolah di luar negeri memang bukan jawaban dan bukan tujuan. Orang yang sekolahnya jauh nggak menjamin akan jadi lebih baik dibanding yang sekolahnya dekat.

Saya percaya sekolah cuma alat, dan nggak semua orang butuh sekolah sebagai alat untuk meraih hidup yang lebih baik.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN