Gebetan Baru dan 4 Tips Menawan sebagai Bekal Menaklukkan Jakarta

Gebetan Baru dan 4 Tips Menawan sebagai Bekal Menaklukkan Jakarta

Ilustrasi (posberitakota.com)

Libur Lebaran sudah berlalu, saatnya kembali kerja, kerja, kerja! Catat ya, kerjanya tiga kali, gajiannya tetep sekali. Soalnya yang swasta kan sudah gajian tanggal 20-an bulan kemarin.

Sudah habis? Syukuri…

Arus balik juga telah mewarnai tayangan televisi dengan rona bahagia bagi fans Jokowi karena tidak ada lagi Brexit. Namun, bikin muram para hater Jokowi karena tak bisa menggoreng isu kemacetan. Paling sebentar lagi keluar cerita-cerita PKI yang menghiasi keceriaan media sosial kita.

Bersamaan dengan arus balik, bergabunglah sebagian kaum yang tadinya tidak mudik, tapi ikutan balik. Urbanisasi menjadi kata kunci setiap kali liburan Idul Fitri. Itu menurut berita, sih.

Tapi kalau menurut teman-teman saya para ibu pekerja, justru tidak ada itu yang namanya urbanisasi. Lha wong, Asisten Rumah Tangga (ART) mereka pulang, kemudian memberi ucapan selamat Idul Fitri paling keji sepanjang hayat, “Selamat Idul Fitri, Bu. Mohon maaf lahir batin. Mohon maaf juga saya tidak balik. Semoga sukses. Salam super!”

Pendatang baru, terutama di Jakarta, adalah sesuatu yang normal. Bagaimana pun, Jakarta adalah idola. Kalau diterjemahkan dalam sosok manusia, Jakarta adalah gadis seksi atau cowok berperut roti sobek.

Jakarta sungguh menawan dan mempesona, menarik hati banyak kalangan, mulai dari kalangan setara debu dibelah seribu hingga kaum yang sama cakepnya. Pokoknya idola semua bangsa.

Karena itu, sebagai suara rakyat, Voxpop perlu mewartakan hal-hal yang patut diperhatikan oleh para pendatang baru di Jakarta. Ini semata-mata agar berhasil menarik hati Jakarta, syukur-syukur bisa jadian. Ingat, di dunia ini – apalagi di Jakarta – tak ada yang tidak mungkin. Toh, Bastian Setil saja bisa jadian sama Chelsea Islan.

Lalu, apa saja yang bisa menjadi bekal untuk pendatang baru? Bisa simak di bawah ini. Dan, ini juga berlaku bagi pendatang lama, baik yang KTP-nya masih era laminating maupun yang elektronik tapi nggak jadi-jadi.

1. Gebetan itu milik bersama

Zaman masih susah cari jodoh dahulu kala, ada yang bilang ke saya bahwa lebih baik mendekati pacar orang daripada menggebet jomblo. Dalam mendekati pacar orang, musuhnya jelas dan cuma satu: si pacar itu sendiri.

Sedangkan dalam menggebet jomblo, saingannya bisa lebih dari satu dan kadang-kadang tidak kasat mata. Itulah yang harus dipahami kalau ingin menggebet Kota Jakarta. Kita harus paham bahwa yang memuja Jakarta sedemikian banyak.

Tidak usah jauh-jauh. Itu zaman Pilkada DKI Jakarta yang seolah-olah Pilkada Indonesia bisa jadi patokan. Orang-orang yang bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di Jakarta saja bisa berkomentar dengan bahagia. Perang komentar hingga pemutusan pertemanan begitu marak, meski yang tinggal di Jakarta paling hanya 1-2 oknum saja.

Maka, pahamilah wahai para pendatang baru, bahwa Jakarta itu milik bersama, sehingga yang ingin menggebet dia jumlahnya banyak. Kamu tidak sendirian dan untuk itu kamu perlu siap berkompetisi. Jangan lupa, dalam berkompetisi, perhatikan aspek nomor 2 di bawah ini.

2. Waspada sama yang cakep

Dalam mendekati gebetan yang cakep, selain fakta bahwa dia juga banyak yang gebet, maka kita haruslah waspada. Bagaimana pun yang cakep-cakep itu perlu ditelaah lebih lanjut.

Kalau ketemu cowok cakep di gym, sudah rahasia umum bahwa sebelum menggebet kita harus mencari tahu suatu hal yang penting, yakni seleranya. Kalau bersua gadis cakep di Mangga Besar, juga harus ditelaah lagi latarbelakangnya.

Sesuatu yang tampak cakep di muka, kadang-kadang tidak cakep di hati. Sama halnya Jakarta, penuh solek dengan gedung-gedung tinggi berikut aneka rupa perbuatan rezim yang katanya bikin Jakarta lebih kece. Namun, perlu dicatat, Jakarta juga sosok yang suka marah-marah.

Kalau nggak percaya, sana mampir ke Perempatan Matraman yang tidak jauh dari markas PKI – menurut Kivlan Zein. Di perempatan ajaib itu, kita tidak akan berhenti mendengar klakson dipencet silih berganti, tidak akan absen melihat orang saling melotot, dan sesekali bonus teriak-teriak karena kena senggol. Itu satu contoh saja, masih banyak tempat lain yang tak kalah keji.

Jangan lupa, Jakarta juga tidak gemar menabung. Mau sebesar apapun gaji, bisa tandas kalau dipakai menggebet Jakarta. Butuh niat dan upaya ekstra untuk bisa bertahan menumpuk pundi-pundi.

Selain jarak tempat tinggal ke tempat kerja yang jauh dan jelas butuh ongkos, Jakarta juga menyediakan banyak sarana untuk menghabiskan uang. Mulai dari Pasar Tanah Abang hingga Grand Indonesia yang siap menampung uang para remah-remah kehidupan yang ingin mencari kebahagiaan sesaat. Yah, paling tidak per 30 Juni sudah berkurang satu, karena 7-Eleven tutup.

Jadi, sekali lagi, waspadalah dan jangan sekali-kali melakukan hal yang dilarang pada nomor 3 di bawah ini.

3. Jangan serahkan diri seutuhnya

Kadang, saking cintanya sama gebetan, belum apa-apa kita sudah menyerahkan diri seutuhnya. Begitu juga dengan Jakarta. Segala pundi-pundi diserahkan, bahkan hingga harga diri juga ditawarkan semata-mata agar bisa ‘menaklukkan’ Jakarta. Jangan, sekali-kali juga jangan!

Soal ini, saya punya pengalaman buruk. Alkisah, saya hendak menyewa apartemen di Jakarta Pusat. Saya lantas menemukan seorang agen yang begitu religius, ditandai dengan keikutsertaannya dalam aksi-aksi religius yang marak di Jakarta.

Saya pun menyerahkan nasib saya sepenuhnya pada seorang agen yang selalu membawa istrinya kemana-mana itu untuk kemudian mendapati diri bahwa uang yang saya serahkan kepadanya sudah amblas dan hasilnya zonk.

Ah, namanya juga masih gebetan, tetap berikan jarak. Jika memang Jakarta menginginkan sesuatu dari kamu, berikanlah, tapi jangan semua. Salah-salah, kamu bisa amblas.

Dan percayalah, hidup amblas pasca menyerahkan diri seutuhnya itu tidak mudah. Ini ibarat ditinggal Raisa jadian sama Hamish Daud dan kemudian mendapati Chelsea Islan juga jadian sama yang setil-setil itu tadi.

4. Fisik nan tangguh

Tips terakhir adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jakarta yang hanya secuil, jika dibandingkan provinsi-provinsi lain di Indonesia, merupakan kota yang mensyaratkan banyak-banyak berolahraga.

Jakarta sungguh setara dengan gebetan kekinian yang mensyaratkan sporty sebagai prasyarat memulai hubungan. Gebet-menggebet masa kini kan tidak jauh-jauh dari jogging pada ajang Car Free Day. Itu lho, yang lari 100 meter, lantas makan bubur ayam.

Nah, untuk menaklukkan Jakarta, kamu harus siap naik turun tangga di halte TransJakarta maupun di stasiun-stasiun KRL. Mengingat penggebet Jakarta banyak, kamu juga harus siap-siap berdesak-desakan di dalam moda transportasi apapun.

Jangan lupa juga bahwa selain cakep, Jakarta kadang kejam. Bisa jadi dalam suatu perjalanan menggebet yang kamu dapati justru kamu ditodong atau setidaknya ditodong halus dengan adegan makan silet sambil berkata, “Daripada kami merampok, bapak-ibu…”

Yes, semua hal itu membutuhkan fisik yang tangguh untuk menghadapinya. Kalau loyo, Jakarta sebagai gebetan yang cakep akan menendangmu pada kesempatan pertama. Jadi, selamat datang di Jakarta!

  • Muhammad Elfanza

    kereen gan artikelnya 🙂