Daya Pikat Sophia Muller, Annisa Pohan, dan Olla Ramlan

Daya Pikat Sophia Muller, Annisa Pohan, dan Olla Ramlan

google.com

Ada opini kalau Pilkada Jakarta serasa pilpres. Ya itu sah-sah saja, kalau kita melihat skala pemberitaannya, tokoh-tokoh yang terlibat, termasuk segala komentar yang terus mengalir meski bukan dari warga Jakarta. Namanya juga ibukota, pastilah semua orang di republik ini ingin melihatnya lebih baik. Duh, perhatian banget.

Tapi bagaimana kalau ada anggapan lain bahwa Pilkada Jakarta sebetulnya tidak menarik-menarik amat. Anda merasakan itu? Jangan khawatir, pikiran anda masih waras kok, sama seperti saya. Kalau tidak waras, saya tak mungkin bisa menulis ini.

Memang benar, banyak orang bilang kalau calon gubernur DKI Jakarta adalah orang-orang hebat. Tersohor pula. Ada Agus Harimurti Yudhoyono, anak mantan Presiden SBY. Lalu Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, sang petahana, dan Anies Baswedan yang mantan menteri. #SesuaiNomorUrut #CariAman

Meski begitu, tidak ada kegembiraan yang hakiki dalam pesta demokrasi ini. Tak ada pula kemeriahan yang tulus. Yang ada pesta amarah antar pendukung. Caci maki para kurcaci. Dan, seolah mengulang pilpres lalu, kuatnya tradisi pemutusan hubungan teman di media sosial. Ah, bukankah kita semua seharusnya bergembira, kawan?

Tapi, beruntung, di tengah kebisingan menjelang pemilihan gubernur pada Februari 2017 itu, muncul oase yang bikin saya kembali bergairah mencermati perpolitikan di ibukota. Oase itu datang dari tiga mbak cantik nan cerdas, yakni Sophia Muller (Sophia Latjuba), Olla Ramlan, dan Annisa Pohan. Sepak terjang tiga mbak nan aduhai ini patut ditunggu. Mari kita bahas daya tarik mereka.

Sophia Muller

Ahok mengangkat Sophia Muller menjadi juru bicaranya, begitu berita yang saya baca dari sejumlah media. Mbak Sophia yang mantan model dan pernah jadi bintang iklan itu tentu pesonanya warbiyasak, meski usianya sudah 46 tahun. Jika tak mempesona, mana mungkin orang sekelas Ariel Noah yang digandrungi banyak cewek itu, lututnya tertekuk.

Tak hanya fisik, Sophia juga punya keunggulan lain. Suaranya. Ya, suara mbak yang satu ini bisa membuat kaum Adam kehilangan kesadaran. Menyihir! Ini tentu modal awal baginya untuk menjalani tugas sebagai juru bicara kubu petahana. Saya yakin, bara emosi yang menyala dari pendukung kubu sebelah, bakal langsung padam. Mungkin, jangan marah-marah dulu.

Politik itu terkadang tak perlu dengan koar-koar. Tak perlu pula dengan mencaci-maki. Politik adalah seni merayu. Seni menaklukkan perasaan dan pemikiran publik. Bukan ajang tawuran kata-kata. Apalagi, merayu sambil memukul. Kalau begitu, tidak ada yang akan tertarik.

Rasanya Ahok tepat mendapuk Sophia Muller menjadi jubirnya. Ya kalau mau jujur, banyak orang sudah bosan dengan juru bicara jebolan partai, yang begitu-begitu saja. Banyak orang juga bosan dengan para juru bicara ormas, yang hanya bisa marah-marah.

Tolong rayu kami dengan kelembutan, kecerdasan. Saya yakin, mbak Sophia bisa merayu kami. Sudah saatnya mengajari kami dengan rindu. Bukan mengajari kami dengan caci maki.

Olla Ramlan

Sepertinya kita saat ini harus banyak mengucap syukur, setelah beberapa hari sebelumnya lebih banyak mengucap istighfar. Kubu Ahok, menghadirkan Sophia Muller. Kini giliran kubu Anies yang menyorong Olla Ramlan. Ini juga anugerah yang terindah. Ternyata Gusti Allah nggak pernah sare.

Mbak Olla yang cantik, jangan terlalu banyak pikir-pikir, Mbak. Kami sudah terlalu lelah. Lelah mata, lelah telinga, dan juga hati. Sama seperti Sophia, kehadiran mbak Olla adalah obat yang mujarab untuk mengusir segala kejenuhan politik.

Olla Ramlan punya kemampuan mumpuni, tapi mungkin masih malu-malu. Daya pikat dan kecerdasan perempuan berusia 36 tahun itu sebenarnya tak kalah dengan Sophia Muller. Kalau dilihat dari jejak rekam, Olla sepertinya memenuhi syarat untuk jadi ‘perayu ulung’. Olla adalah salah satu presenter terhebat, bahkan melampaui presenter Rey Utami.

Seorang presenter pasti mempunyai kemampuan komunikasi yang teramat bagus. Dinamis, penuh keceriaan. Bukankah itu sangat dibutuhkan saat menjelang Pilkada Jakarta seperti saat ini? Saya yakin, calon pemilih yang semula berniat golput, bisa saja berpikir ulang. Yang tadinya apatis, sangat mungkin menjadi kritis.

Annisa Pohan

Mbak Annisa bagaimana? Aih, sejak dulu saya mengaguminya dalam diam. Nuwun sewu mas Agus, jika saya pernah mengagumi garwa njenengan. Namun, yang pasti, njenengan adalah pria paling beruntung di negeri ini.

Ya, jodoh memang soal bibit, bebet, dan bobot. Itu rumus yang tak bisa disangkal. Tapi, begini mas Agus. Tolong mbak Annisa jangan sekadar jadi pemanis pencalonan saja. Saya mohon, biarkan mbak Annisa yang ‘merayu’ kami. Jangan pak Syarif Hasan.

Annisa Pohan bisa dibilang juga memenuhi semua persyaratan untuk ‘merayu’ kami. Anggun. Mungil tapi menawan. Suaranya, tak kalah memikat dengan mbak Sophie. Mungkin lebih punya keunggulan dari sisi kelembutan. Pun wajahnya, tak kalah mempesona dengan mbak Olla atau mbak Sophia. Kalau kecerdasan perempuan berusia 34 tahun itu, sudah pasti, tak usah diragukan lagi.

Biarkan mbak Annisa yang mendekati kami. Coba bayangkan, mas Agus yang mantan tentara saja takluk. Apalagi kami-kami ini yang tak punya mental seperti serdadu. Bukan saja takluk, mungkin tersungkur.

Dan, ini sekadar saran saja untuk semua kubu pasangan calon, biarkan mbak Annisa, Sophia, dan Olla mengambil peran strategis untuk berkomunikasi dengan publik. Lagipula, telinga kami sudah terlalu sering terganggu dengan kebisingan. Butuh politik yang merdu supaya kami nyaman ikut memeriahkan pesta ini.

Seandainya Sophia Muller, Olla Ramlan, dan Annisa Pohan yang menjadi calon gubernur Jakarta, saya sudah membulatkan niat tak akan golput pada pilkada kali ini. Saya pasti akan coblos ketiganya. Lho?