Memilih Pemimpin Makhluk Halus di Bataaf Garden
SERIAL FIKSI MISTERI

Memilih Pemimpin Makhluk Halus di Bataaf Garden

blog.lofty.com

Bila ada profesi yang dihindari oleh Ronal Awesom sejak dulu, itu adalah juru kunci pemakaman. Menurutnya, profesi itu tidak keren, tidak menjamin kemapanan, dan membuatnya lebih banyak berurusan dengan orang mati ketimbang orang hidup.

Ronal mendambakan bekerja di laboratorium. Baginya, berurusan dengan tabung reaksi dan rumus-rumus nan runyam adalah sebentuk kekerenan. Lagipula, ayahnya adalah kepala laboratorium pangan milik pemerintah Jarconi, dan ia mengidolakan ayahnya sejak mula.

Tapi, cita-citanya kandas akibat dikhianati oleh deretan nilai di ijazahnya sendiri. Kini, Ronal berumur 47 tahun. Ia telah lama melupakan cita-citanya itu. Beruntung sekali, ia berhasil diterima sebagai pegawai pemerintah sejak 20 tahun lalu, dan tinggal lima tahun lagi ia akan pensiun dari profesi juru kunci pemakaman.

Pada pengujung karirnya, ia ditempatkan di Bataaf Garden, sebuah pemakaman di ujung timur Jarconi. Selama 20 tahun perjalanan karirnya, ia berhasil mengoreksi sebagian besar alasannya membenci profesi juru kunci. “Ternyata lebih enak berurusan dengan mayat,” ujarnya. “Mereka umumnya pendiam.”

Adalah benar orang mati tak banyak omong. Tetapi, orang-orang mati yang bersemayam di Bataaf Garden tak sependiam itu. Bahkan, mereka seperti sekadar pindah tempat tinggal. Kegaduhan terjadi sepanjang hari di sana, tak peduli matahari sedang bersinar terik.

Oleh sebab itulah, Bataaf Garden dianggap sebagai pemakaman terseram di dunia. Dua lusin juru kunci datang dan pergi selama setahun ini, dan daftar itu tampaknya akan diperpanjang oleh Ronal.

“Selama ini aku memang kerap mendapat gangguan dari makhluk-makhluk astral, dan itulah risiko profesiku. Tetapi, ketika aku mendapat gangguan serius saat jam makan siangku – bayangkan! – maka amatlah bijak kalau aku mulai mempertimbangkan untuk pensiun dini,” kata Ronal.

Pada mulanya, pemakaman ini dibuat khusus untuk taman makam pahlawan. Tetapi, pada awal tahun lalu, pemerintah memutuskan untuk memakamkan orang-orang sipil di Bataaf Garden akibat keterbatasan lahan. Bagaimanapun, untuk membuat satu komplek pemakaman dibutuhkan lahan yang cukup luas, yang terganjal oleh kepadatan penduduk negara Jarconi.

Diduga kuat sejak itulah kegaduhan di pemakaman itu bermula. Namun, kejadian di sana tak memikat media-media besar untuk datang meliput. Minimnya narasumber yang cukup kasat mata untuk diwawancarai menjadi ganjalan utama.

Baru hampir setahun kemudian sebuah tabloid klenik nekat menerjunkan tenaga ahli – dua paranormal dan satu penerjemah segalanya, yaitu saya, untuk menginvestigasi keanehan di Bataaf Garden.

Hasil investigasi sementara kami membuahkan tiga fakta berikut ini:

Fakta pertama: Ronal Awesom, sang juru kunci pemakaman, tak tahu penyebab kegaduhan di tempatnya bekerja. Tidak pula penduduk di sekitar pemakaman.

Ronal menyesal tak mampu memberi keterangan lebih kepada kami. Ia hanya mengulang pernyataan sebelumnya, sembari menambahi detail-detail kecil tentang suara desingan peluru, ledakan hebat, bau sesuatu yang terbakar, dan jerit kemarahan. Keterangan penduduk juga tak lebih baik dari Ronal.

Fakta kedua: Ketiadaan hantu nakal yang terlibat dalam kegaduhan di Bataaf Garden. Alih-alih, beberapa hantu yang berhasil kami wawancarai mengaku sedih dengan situasi dan kondisi yang terjadi di pemakaman itu.

“Menjijikkan sekali,” kata salah satu hantu dengan nada muram. “Tak semestinya orang-orang mati itu melanggar hukum astral yang melarang segala aktivitas pada waktu selain malam. Terlebih lagi, saling berperang! Di pemakamannya sendiri!”

Itulah fakta ketiga: Telah terjadi perpecahan serius di antara penghuni Bataaf Garden. Butuh penyelidikan selama dua minggu penuh untuk tahu bahwa akar masalah di situ adalah krisis kepemimpinan.

Biasanya, orang mati tak menganut ideologi apapun di liang kuburnya. Namun, itu tak berlaku di Bataaf Garden. Para penghuninya menganut sistem ‘demokrasi’ sejak liang pertama digali. Dan, sejak dulu, sebelum penduduk sipil menginvasi area yang seharusnya hanya boleh dihuni oleh para pahlawan, Bataaf Garden dipimpin oleh Fijai Sawiah.

Inspektur Fijai, begitu ia biasa disapa, adalah orang berpangkat tertinggi yang dimakamkan di Bataaf Garden. Berhubung ia dimakamkan bersama lusinan anak buahnya yang tumpas dalam tugas, dan mengingat bahwa amatlah tak wajar bila anak buah memimpin bosnya, mudah ditebak kalau Inspektur Fijai menjadi pemimpin abadi di sana.

Ia dipilih dengan metode pemungutan suara selayaknya ‘sistem demokrasi yang beres’, dan selalu meraup suara seratus persen. Fakta bahwa tak ada calon selain dirinya tak menggugurkan hasil pemilihan. Toh, belum pernah ada lembaga pemantau pemilu yang menggugatnya.

Pada periode kedelapan kepemimpinannya, Inspektur Fijai dihadapkan pada situasi pelik. Rakyat sipil dimakamkan di Bataaf Garden, dan jumlah mereka menjadi banyak sekali. Hal itu, ia pikir, mengancam stabilitas ‘demokrasi’ yang ia bangun. Terlebih, orang sipil yang bersemayam di Bataaf Garden menginginkan Si Neng menjadi pemimpin pada pemilihan berikutnya.

Si Neng adalah nama julukan Casius Morisette. Ia penyanyi berbakat yang meninggal ketika tengah merampungkan album ketiga akibat ditembak oleh seorang fans yang depresi. Usianya baru 24.

Makamnya mudah dikenali, sebab makamnya lah yang termegah. Pagar menjulang bercat perak melingkari pusaranya yang sepenuhnya terbuat dari marmer terbaik. Dan, pada nisannya, dibubuhkan selarik kalimat bersepuh tinta emas: sekali berarti, sesudah itu mati.

Semua pencapaian pada masa hidupnya yang singkat membuat Si Neng disegani oleh warga sipil yang dimakamkan di Bataaf Garden. Maka, mudah ditebak bila Si Neng didukung penuh untuk mencalonkan diri pada pemilihan berikutnya. Si Neng bersedia, sebab ia pikir ada yang salah dengan sistem ‘demokrasi’ di Bataaf Garden.

“Rakyat sipil di sini adalah mayoritas,” terang si Neng kepada kami. “Jumlah militer tak sampai sepertiga dari sipil. Berdasarkan fakta itu, coba terangkan padaku, demokrasi berkeadilan macam apa yang mengizinkan minoritas berkuasa?”

Sementara itu, Inspektur Fijai, sang petahana, tak sudi kaumnya dipimpin oleh sipil. Barangkali – lebih tepatnya – ia tak mau kepemimpinannya digantikan oleh siapapun. Maka, ia mulai melancarkan perang urat saraf, yang berkembang menjadi perang betulan beberapa bulan kemudian.

“Lebih baik saya mati daripada dipimpin sipil seperti dia,” kata Inspektur Fijai dalam satu sesi wawancara dengan kami. Ia jelas melupakan keadaan dirinya yang tak mungkin mati lagi.

Rakyat sipil yang dipimpin oleh Si Neng menggelar aksi demo di makam Inspektur Fijai pada siang hari di pengujung Maret. Sang inspektur, yang mereka kira sedang tidur sebagaimana umumnya makhluk astral, ternyata telah bersiaga di balik nisan-nisan bersama seluruh anak buahnya.

Serempak mereka menembaki gerombolan sipil itu. Pendemo yang tak menduga bahwa makhluk astral diperkenankan memiliki senjata api, semburat lari. Meskipun tak bisa mati, terkena peluru dan pecahan granat tetap saja menyakitkan.

“Aku kena selusin tembakan di sini dan di sini,” kata Si Neng sembari menunjuk dada dan kepalanya. Ia menegaskan bahwa rakyat sipil tak boleh ditindas sedemikian buruknya, hidup atau mati.

Kapak perang telah digali. Si Neng mulai mengontak Kuasa Kegelapan, atau apalah itu namanya, demi mendapatkan senjata. Ia tak tahu bahwa pemasoknya itu juga bekerja sama dengan pihak lawan. Namun, pada akhirnya, ia mendapat apa yang ia perlukan.

Bulan-bulan berikutnya adalah waktu yang berat bagi penghuni Bataaf Garden selain kedua kubu tersebut. Gelegar bom dan desingan peluru terus terdengar sepanjang hari, begitu pun dengan rintihan dan pekik peperangan. Hantu-hantu yang dulunya mendiami pemakaman itu memilih untuk mengungsi, sama halnya dengan dua lusin juru kunci.

“Tidak ada makhluk di jagad ini yang bahagia melihat peluru berseliweran di atas kepalanya,” kata Roban, salah satu hantu yang mengungsi. “Perang tidak baik untuk perkembangan mental anak kami.”

Ronal Awesom juga mengepaki barang-barangnya saat kami mengabarinya apa yang kami dapat. Ia tampak agak frustrasi, tetapi juga mengaku lega karena akhirnya tahu alasan di balik aroma makanannya yang selama ini berbau mesiu.

Sementara itu, pada hari terakhir investigasi kami, kedua kubu yang berseteru sepakat untuk gencatan senjata. Mereka tampaknya sadar bahwa peperangan tak bisa dimenangkan tanpa adanya pihak yang terbunuh, yang tak mungkin terjadi. Oleh sebab itu, kedua kubu sedang menyusun strategi baru.

Kubu mayoritas menggelar aksi mogok makan di depan pusara Inspektur Fijai. Meskipun tak pernah terdengar kasus orang mati yang mati lagi akibat kelaparan, Si Neng, pemimpin aksi, menjelaskan kepada kami mengenai pentingnya melanjutkan protes pada masa gencatan senjata.

“Kami tidak boleh bersantai sampai petahana itu mengundurkan diri,” ujar Si Neng. “Kalau ia tetap berkeras memimpin kaum mayoritas di sini, kami akan memastikan bahwa dialah orang pertama di dunia yang mati dua kali.”

Diwawancarai terpisah, Inspektur Fijai memberi keterangan bahwa ada kemungkinan gencatan senjata dibatalkan. Ia menyayangkan sikap non-kooperatif rakyat sipil sekaligus mengingatkan betapa banyak mereka berutang budi kepada militer ketika hidup dulu. Kemerdekaan Jarconi tak bisa dipertahankan tanpa militer.

“Apa yang diperbuat rakyat sipil di sini adalah cerminan buruk demokrasi,” ujar sang petahana. “Saya, pemimpin sah di sini, telah berbesar hati untuk tidak memindahkan kuburan mereka ke penjara, yang sepatutnya mereka dapatkan.”

Menyimak ujaran Si Neng dan Inspektur Fijai, besar kemungkinan konflik ini bakal berumur panjang. Gencatan senjata hanya jeda pendek sebelum pertempuran panjang berikutnya, yang barangkali akan terjadi tak lama lagi.

“Tak seperti orang hidup, orang mati memiliki waktu tak terbatas untuk saling bantai,” kata Ronal Awesom memungkasi pertemuan kami. “Bila kedua pihak itu tak segera mengubah paradigma mereka tentang mayoritas dan minoritas, aku sangsi ada yang mau menjadi juru kunci di sini.”

Sore itu, diiringi rinai gerimis, Ronal mengunci pintu pondoknya, lalu menyeret kopor coklat tuanya keluar area pemakaman. Lelaki tua yang pensiun dini itu adalah juru kunci Bataaf Garden di era konflik yang mampu bertahan hingga tiga setengah bulan. Namun, tampaknya, ia bukanlah juru kunci yang terakhir. Apakah anda bersedia menggantikannya?