Meme, Meme, dan Meme…

Meme, Meme, dan Meme…

Ilustrasi ikon meme (dream.co.id)

Ketika Setya Novanto melaporkan warganet perihal meme, tagar #SaveMeme langsung ditegakkan. Warganet panik. Para pembuat dan penyebar meme tersebut dicap sebagai para pembenci alias htrz.

Namun, terlepas dari itu dianggap menghina atau satire jaman now, meme sebetulnya punya sisi baik. Meme telah merevolusi budaya populer. Bikin gaya hidup kita berubah, melompat lebih tinggi. Yang nggak bisa lompat, ya sudah pasti tertinggal.

Selain Setya Novanto, tentu saja ada sosok Sandiaga Uno. Kalau Setnov melaporkan warganet terkait meme, Sandiaga justru berbeda. Saat dirinya dijadikan meme, malah makin banyak aksi ‘konyol’. Tentu saja jadi bahan meme semua.

Sandiaga tampaknya senang dijadikan meme. Terakhir, pas photo shoot untuk pelantikan sebagai wakil gubernur DKI Jakarta, beliau malah berdiri dengan jurus bangau terbang yang legend banget itu. Sontak, Meme kembali membahana, Sandiaga pun selow.

Dalam perjalanannya, meme sebetulnya tak hanya urusan haha-hihi atau sarkas-lucon antar teman di internet. Banyak orang yang justru menganggap informasi dari meme adalah sebuah kebenaran.

Misalnya, meme ramalan Albert Einstein tentang generasi saat ini. Beberapa orang malas melakukan fact check. Tapi sebagian memilih untuk tertawa, karena menganggap ini sebuah guyonan.

Dalam meme tersebut, ada wajah Einstein yang menyatakan ketakutannya terhadap generasi yang tergila-gila dengan teknologi dan akan dihuni oleh sekumpulan idiot. Apakah itu benar?

Berdasarkan fact check dari Snoopes, itu bohong. Andai saja kutipan Einstein itu ditulis Adaada saja kids jaman now”, mungkin semua orang akan langsung tahu bahwa itu bohong.

Kemudian, mari kita lihat yang dekat-dekat. Berapa banyak orang yang malah belajar politik dari meme, sih?

Menyebut bahwa ideologi itu gini atau gitu hanya karena meme? Bicara soal ancaman negara asing hanya karena meme? Atau, secara bodohnya menekan angka 1 agar air surut di meme foto perempuan berendam di Facebook? Ketahuilah, jumlah mereka sangat banyak.

Lalu, mengapa bisa begitu?

Nicholas Carr, dalam bukunya The Shallows, memperingatkan kita bahwa mereka yang biasa membaca dari link (atau meme), hanya sedikit paham daripada mereka yang membaca linear teks yang tradisional (buku, koran, dan hal-hal yang bersifat print).

Mereka yang terbuai dan sibuk dengan pemberian informasi secara multimedia akan sedikit ingat daripada mereka yang benar-benar berusaha terfokus akan informasi.

Mereka yang terdistraksi melalui email dan notifikasi di telepon seluler akan memahami sedikit daripada mereka yang benar-benar berkonsentrasi.

Dan, mereka yang mengaku bisa multitasking adalah orang yang kurang kreatif dan kurang produktif daripada mereka yang melakukan satu hal pada suatu waktu.

Ini artinya bahwa pada masa kini, semua dituntut serba cepat. Terima kasih kepada internet, kita jadi kerap menarik kesimpulan secara tergesa-gesa. Dalam konteks meme, banyak akun-akun yang tidak bertanggungjawab yang menyebarkan hoax melalui meme.

Inilah yang bikin nilai-nilai meme menjadi bergeser. Dari awalnya hanya guyonan, jadi ujaran kebencian (hate speech).

Dan, banyak juga yang melahapnya. Ditambah dengan kealpaan sebagian masyarakat kita dalam mengenal mana sumber yang kredibel, menyebabkan kondisi ini menjadi semakin sulit.

Tapi, apa perlu membuat Fakultas Media Sosial di kampus yang mempelajari meme, seperti usulan Jokowi saat berkunjung ke kampus saya di Unpad?

Usulan itu memang ditanggapi beragam. Ada yang serius, ada yang menganggapnya sebagai guyonan, bahkan kombinasi keseriusan dalam berguyon.

Tapi, faktanya, dalam situasi seperti ini, kita perlu meme yang lebih berkualitas, dan lucu tentunya, daripada meme yang beredar di grup-grup WhatsApp.

Saat Jokowi di Unpad, ada kutipan menarik yang hendak saya kutip. “Harusnya Unpad ini punya fakultas media sosial, jurusannya meme, kenapa tidak? Jurusannya animasi, kenapa tidak? Karena ini yang ke depan akan kita hadapi.”

Betul, meme adalah masa depan. Jangan kaget, kalau nanti ada lowongan kerja yang mencari pembuat meme, dikontrak secara full-time, dan digaji di atas UMR. Politisi, tak hanya Sandiaga, toh memanfaatkan meme sebagai senjata branding.

Lalu, nanti bisa jadi ada kampanye dari berbagai NGO perihal meme yang asoy. Bahkan, tak mustahil ada kompetisi membuat meme di berbagai universitas dan komunitas, sebagaimana kompetisi menulis. Mimpi para pembuat meme menjadi semakin nyata.

Untuk mempersiapkan masa depan yang cerah ini, sudah waktunya kita memberi perhatian khusus pada meme. Seperti apa meme yang hqq itu? Agar keseharian kita tak melulu panas karena melihat meme-meme ala grup WhatsApp. Untuk Indonesia yang lebih gembira…