Membayangkan Ahok, Ahmad Dhani, Buni Yani, Habib Rizieq, dan SBY Dirikan Republik...
CEPIKA-CEPIKI

Membayangkan Ahok, Ahmad Dhani, Buni Yani, Habib Rizieq, dan SBY Dirikan Republik Cinta

Ilustrasi/http://7-themes.com/

Kata orang, dalam urusan musim, Indonesia jauh lebih hebat daripada Barat. Kalau di Barat cuma ada empat musim, di Indonesia ada banyak: musim kemarau, musim hujan, musim rambutan, musim durian, musim layangan, sampai musim kawin. Sekarang malah tambah satu lagi: musim lapor Bareskrim.

Ada Ahok yang dilaporkan atas kasus penistaan agama (update: status terdakwa), ada Buni Yani yang dilaporkan karena mengedit video Ahok, Ahmad Dhani yang dilaporkan karena dituduh menghina presiden, Habib Rizieq yang dilaporkan Sukmawati karena dituding menghina Pancasila, dan terakhir SBY yang dilaporkan alumni HMI karena pidatonya dianggap provokatif.

Pernah nggak terpikir seandainya semua laporan itu diproses polisi, ditemukan unsur pidana, dinyatakan bersalah di pengadilan, dan semua orang yang dilaporkan tadi akhirnya masuk penjara, dan ndilalah-nya ditahan di satu sel yang sama?

Apa yang kira-kira bakal terjadi ya?

Perkiraan pertama, tentu saja, keributan. Apalagi semua orang yang dilaporkan itu sedang berseteru di dunia politik. Yang sial jelas Ahok, hampir semua memusuhinya dengan alasan masing-masing. Buni Yani jelas, karena dia yang mengedit video Ahok. Habib Rizieq juga jelas, karena dia menuduh Ahok menista agama. SBY juga jelas, karena anaknya bersaing sama Ahok di Pilkada Jakarta.

Yang absurd Ahmad Dhani, lha dia kan nyalon di Bekasi. Mana nomor urutnya sama pula sama Ahok, sama-sama nomor dua.

Tapi kira-kira keributannya seperti apa ya? Kalau adu fisik, yang bisa ngelawan Ahok jelas cuma SBY. Badannya sama-sama gede, pasti sama-sama kuat. Ahok pernah menggendong Butet Kartaredjasa di kantornya. SBY walaupun gak pernah pamer kekuatan fisik, tapi kalau dibandingkan sama kuda – maaf-maaf ini ya – kalau ngukurnya dari depan ke belakang memang lebaran kuda. Tapi kalau ngukurnya dari kiri ke kanan ya lebaran SBY ke mana-mana.

Itu kalau soal fisik, lain halnya kalau adu mulut. Kalau soal adu mulut, lawan yang pas buat Ahok, kalau bukan Habib Rizieq, ya Ahmad Dhani. Soal ketangkasan misuh-misuh, tiga orang ini nyaris setara. Cuma Buni Yani yang mungkin tidak akan melawan Ahok, baik secara fisik maupun adu mulut. Sebagai dosen, lulusan Ohio pula, tentu tak elok kalau terlibat keributan.

Kalau nggak pegang kamera, mungkin Buni Yani cuma menunggu; nunggu kalau ada yang kelepasan ngomong. Buat di-upload di akun fesbuknya…

Tapi bisa jadi yang akan terjadi malah di luar dugaan semua orang. Siapa tahu, karena merasa senasib sepenanggungan, mereka semua berdamai dan membuat sesuatu yang berguna buat negara. Bikin draft undang-undang untuk diusulkan ke DPR atau DPRD supaya korupsi tidak semakin meruyak di Bekasi, Jakarta, atau bahkan Indonesia ditinjau dari perspektif agama, pendidikan, birokrat, dan seniman, misalnya.

Tapi apa iya mereka sempat mikirin negara? Ya terus apa? Bikin grup musik? Terlalu mainstream. Lagipula nggak semuanya bisa nyanyi dan main musik. Cuma Ahmad Dhani dan SBY saja yang sudah terbukti dan teruji soal itu. Tapi bisa jadi juga, musik kan universal, bisa menyatukan semua orang.

Sekarang tinggal memikirkan peran buat masing-masing orang saja. Pertama tentu memikirkan siapa yang akan bertugas menciptakan lagu. Pilihannya cuma ada dua: Ahmad Dhani atau SBY. Kalau saya sih milih Ahmad Dhani, nggak tau kalau Mas Anang.

Lagu-lagu Ahmad Dhani terbukti lebih nge-hits di pasaran. Buktinya, saya sering dengar orang menyanyikan Kangen, Pupus, Separuh Nafas, Roman Picisan, dan sebagainya. Pernah gitu dengar orang muter Kuyakin Sampai Di Sana-nya SBY di mobil?

Lain halnya kalau yang jadi mantan presidennya adalah Hari Tanoe. Walaupun sama-sama nggak diputar di tape mobil orang, tapi melihat anak-anak menyanyikan Mars Perindo bukan pemandangan yang aneh sekarang. Malah bisa jadi anak-anak itu lebih hafal Mars Perindo daripada Indonesia Raya.

Eh tapi bukan berarti lagu ciptaan SBY buruk lho ya. Jangan lupa, cuma lagu SBY yang pernah dinyanyikan di upacara peringatan Kemerdekaan Indonesia berdampingan dengan Indonesia Raya dan Andika Bhayangkari. Prestasi yang tidak bisa dilakukan oleh Hari Tanoe atau bahkan Ahmad Dhani dengan Dewa 19-nya walaupun sudah bolak-balik ganti vokalis.

Setelah ada lagu, langkah selanjutnya tentu mencari vokalis. Untuk yang satu ini, SBY nggak ada saingannya. Ahmad Dhani kadang-kadang memang menyanyikan sendiri lagu ciptaannya, tapi hit-hit Dewa tidak pernah dinyanyikan oleh Dhani. Kalau bukan Ari Lasso, biasanya Once. Saya pikir setengah Baladewa mengundurkan diri dan memilih jadi balakurawa ketika mendengar Ahmad Dhani bernyanyi.

Lagian kasihan SBY lah… Jadi penyanyi itu nggak gampang. Ada yang latihan vokal dari kecil, ada yang ikut audisi, ada yang manggung dari kampung ke kampung, bahkan ada yang pacaran sama raja dangdut cuma supaya bisa jadi penyanyi. Lha SBY? Beliau mendaftar jadi tentara dulu, lalu jadi menteri, lalu bikin partai, lalu jadi presiden, dan akhirnya – setelah itu semua – tercapailah cita-citanya untuk jadi penyanyi.

Balik lagi, setelah punya lagu dan penyanyi, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah membuat video klip. Rizal Mantovani sebenarnya yang paling kompeten soal ini. Tapi dia kan nggak ikut-ikutan, masak iya perlu dijebloskan ke penjara cuma untuk bikin video klip. Janganlah…

Di sinilah kita harus bersyukur ada Buni Yani. Kemampuannya mengedit video tidak perlu diragukan lagi. Cuma perlu diawasi saja, takutnya nanti beliau gak sengaja menghapus satu kata dari lirik yang sudah susah payah dibikin Ahmad Dhani.

Bisa panjang nanti urusannya…

Ada lagu, ada penyanyi, ada video klip, sekarang tinggal memasarkannya, melemparnya ke publik, syukur-syukur kalau bisa viral. Sekarang kan ada Youtube. Masak kalah sama Young Lex dan Awkarin. Ahok kan youtuber juga, walaupun nama alias yang dipakai untuk akunnya nggak banget: Pemprov DKI.

Lagu sudah, penyanyi sudah, video klip sudah, selesai? Belum. Terkenal di dunia maya sama seperti kaya di permainan monopoli, sama-sama tidak nyata. Apalah artinya menangguk banyak view di Youtube kalau gak pernah tampil di Dahsyat atau Inbox. Tapi apa jadinya acara musik pagi itu kalau nggak ada penontonnya?

Di titik inilah, Habib Rizieq hadir sebagai jawaban. Memobilisasi massa adalah keahliannya. Ahok yang susah payah membereskan masalah Jakarta memang bisa mengumpulkan satu juta orang, tapi itu semua baru dalam bentuk KTP, kalah jauh dengan kemampuan Habib Rizieq.

Terakhir adalah memikirkan nama untuk grup musik baru ini. “Jakarta untuk rakyat bukan untuk konglomerat” atau “kerja keras bernyali”? Nama grup, sodara-sodara, bukan slogan pilkada.

Pikirkan sekali lagi, mereka melakukan sesuatu untuk negara ini, untuk republik, dengan mengesampingkan perselisihan pada masa lalu dan mengisinya dengan cinta. Saya rasa tidak ada nama yang lebih pantas untuk kelompok ini selain Republik Cinta. Kan adem.

Tapi kalau mau lebih keren: Republik Cinta Management. Eh?