Membalas Cinta Inggit!

Membalas Cinta Inggit!

Maudy Koesnaedi sebagai Inggit dalam film Soekarno (hai-online.com)

Sore di dalam angkot, sepanjang jalan saya trenyuh melihat bunga mawar diperjualbelikan. Bunga-bunga itu tercerabut dari tanah dan kehidupannya atas nama cinta.

Pada Hari Kasih Sayang, mungkin ada ribuan batang bunga mawar yang meradang. Mereka harus tercerai-berai, kemudian mati perlahan akibat disimpan di dalam kamar atau dipajang di depan muka sang kekasih.

Saya membayangkan ketika dulu merawat bunga mawar. Butuh waktu dan perhatian ekstra demi menunggu kelahiran kuncup bunga yang berwarna maha indah itu.

Sayang, bunga mawar itu harus mati di tangan remaja tanggung atas nama Hari Kasih Sayang. Bukankah lebih indah, jika bunga itu mekar di pot bunga atau kebun yang asri? Mewarnai kota yang semakin kusam karena pembangunan kota?

Namun apa lacur, karena desakan cinta kapitalis yang sporadis dan jargon ‘katakanlah cinta dengan bunga’, bunga mawar harus menerima takdirnya menjalani ritus kematian, terutama saat Valentine.

Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang memang persoalan usang yang kembali datang dan menjadi perdebatan banyak orang. Baik dan buruknya menjadi pertempuran ideologis dan religiusitas manusia di negeri ini. Namun, saya tidak ingin terjebak dalam persoalan itu.

Urusan kasih sayang bukan sesuatu yang harus ditunggu setiap setahun sekali. Kasih Sayang tidak harus dirayakan, dihadirkan, didramatisasi agar cokelat makin laku dan cinta menjadi peningkatan daya beli. Apalagi cuma untuk membuli kaum jomblo tuna asmara.

Saya pun menyayangi Sero – sahabat berwujud berang-berang – setiap waktu. Tidak pernah menunggu sampai tanggal 14 Februari untuk memberi seekor lele segar atau air yang bertumpah ruah di bathtube.

Terlepas dari urusan Valentine, saya lebih memikirkan Februari sebagai bulan dharma bhakti saya dan beberapa teman untuk mengenang hari kelahiran perempuan perkasa bernama Inggit Garnasih.

Siapa Inggit Garnasih?

Pasti tak banyak orang tahu.

Sejarah terlalu mengenyampingkan perjuangannya. Bahkan si Sero yang biasa berdiskusi dengan kaum aktivis tidak tahu sejarah bangsanya sendiri. Sero memang hanya seekor berang-berang, tetapi dia wajib memelajari sejarah bangsanya sendiri, bangsa Indonesia, ingat Indonesia! Bukan Endonesa!

Sungguh aneh, ketika mendengar celoteh berapi-api kaum nasionalis di pelbagai tempat, tetapi ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya, kenapa pengucapannya selalu menjadi Endonesa Raya?

Ah sudahlah mereka lebih paham tentang Indonesia…

Mungkin bukan Sero yang salah karena tidak memahami sejarah bangsanya sendiri. Saya yang bersalah karena lebih banyak mengajarkan ilmu pasti daripada sejarah kepadanya. Bagaimana pun saya menyesuaikan dengan kurikulum pemerintah agar kecerdasan si Sero bisa selevel dengan mahasiswa kekinian.

Namun, biarlah Sero dengan dunia airnya. Mungkin dia lebih tertarik memelajari Deklarasi Djuanda yang telah memersatukan pulau-pulau di Indonesia dan memiliki integritas sendiri, daripada sejarah Inggit Garnasih.

Biarlah saya sebagai anak muda Bandung yang berupaya mengenalkan kembali Inggit Garnasih kepada anak muda lainnya agar tidak pikun sejarah dan menganggap para pejuang hanya catatan buku usang di sudut perpustakaan yang berdebu.

Cobalah tanya pada saudara atau anak sekolah saat ini, adakah yang mengenal Inggit Garnasih?

Saya jamin tidak banyak yang tahu tentang Inggit.

Inggit Garnasih adalah perempuan Sunda yang lahir di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 17 Februari 1888. Sosok perempuan yang memiliki kecantikan khas wanoja Sunda.

Tidak heran, jika Inggit muda tersenyum, dirinya akan menerima pemberian seringgit uang pada masa itu, karena masyarakat menyayangi dan mencintainya. Konon dari seringgit itulah akhirnya menjadi nama Inggit.

Namun, bukan kecantikan Inggit yang ingin saya ceritakan kepada Sero dan beberapa mahluk halus di samping saya. Saya ingin menegaskan bahwa Inggit adalah sosok perempuan yang mandiri, pekerja keras, penyayang, teguh, dan Ibu Bangsa…

Ya, Ibu Bangsa…

Inggit Garnasih (tengah)/pojoksatu.id
Inggit Garnasih (tengah)/pojoksatu.id

Inggit Garnasih adalah istri kedua Bung Karno yang mengantarnya menjadi seorang Presiden Republik Indonesia. Seorang perempuan yang memberikan seluruh hidupnya demi teriak kata ‘Merdeka’ membahana ke seantero nusantara.

Saya jatuh cinta pada sosok Inggit, jauh sebelum membaca novel berjudul ‘Kuantar ke Gerbang’ karya Ramadhan KH, yang bercerita kisah asmara Inggit dan Soekarno. Namun, saya mendapatkan cerita Inggit dari bapak yang sangat memujanya.

Saya ingat ketika bapak masih ada, beliau mengajak saya berdoa untuk mengenang sosok Inggit. Semula saya tidak tahu siapa Inggit. Kemudian bapak menceritakan siapa Inggit, Bung Karno, Hatta, Tjokro, Djuanda, Muso, bahkan sampai sosok seorang Riwu Ga.

Saya tidak tahu darimana bapak kenal betul sejarah para pejuang itu. Cerita itu akhirnya menjadi jimat yang saya wariskan kepada si Sero, meski saya tahu dia lebih tertarik mengejar lele di kolam atau memainkan kecoa liar. Setidaknya Sero mengenal nama-nama itu, karena dulu saya pun tidak peduli, tetapi akhirnya bisa mengenal siapa mereka. Itu…

Jadi, ketika sekarang orang ramai membicarakan Februari dengan Hari Kasih Sayang, saya lebih memikirkan hari perjuangan perempuan Indonesia yang berjuang untuk membangun bangsanya sendiri. Sebuah bangsa terjajah yang mampu berdiri di kaki sendiri dan berani menatap dunia dengan semangatnya!

Inggit bukan semata perempuan biasa. Dia perempuan yang mampu menghidupi seorang Bung Karno dengan usahanya memeras keringat, menjual gorengan, membuat bedak Sri Pohaci, bahkan membuat rokok kretek dengan merk Djuami.

Berapa banyak aktivis saat itu yang acapkali bertukar pikiran mematangkan usaha perjuangan di rumah mereka? Sementara seorang Bung Karno belum memiliki penghasilan, meski sempat menjadi insinyur dan melepaskan kembali pekerjaannya demi bangsa ini.

Bayangkan, bagaimana kuatnya seorang istri yang berjalan sekian kilometer jauhnya demi menjenguk suami di penjara? Hujan dan ganasnya matahari tak mampu menyurutkan kaki Inggit untuk membawa makanan dan membakar arang semangat perjuangan Bung Karno yang hampir padam.

Bagaimana seorang Inggit harus melakukan puasa demi mengecilkan perutnya agar buku-buku perjuangan bisa diselipkan? Bagaimana Inggit harus menemani Bung Karno di beberapa tempat pembuangan dan memupuk semangatnya di tanah-tanah yang gersang itu?

Namun Inggit tetaplah Inggit. Kesederhanaan dan kesetiaan menjadi udara yang dihirupnya setiap waktu. Inggit selalu menemani sang proklamator dalam suka dan duka, dalam teror yang memburu, dalam kegetiran yang menyeruak, dalam keputusasaan yang mengikat.

Meski pada akhirnya, takdir menuntut Inggit berpisah. Ibu Bangsa itupun akhirnya kembali menjalani keseharian sebagai rakyat biasa yang tidak mendapatkan keistimewaan apapun sampai akhirnya hayatnya. Bahkan, peristirahatan terakhir Inggit berada di Tempat Pemakaman Umum Porib, yang terlalu sangat sederhana untuk sang pemberi jasa negeri ini.

Sebenarnya banyak hal menarik yang bisa digali dari kehidupan Inggit Garnasih, baik melalui catatan sejarah maupun cerita para pelaku. Hal itu bisa mengungkap siapa sosok Inggit yang sesungguhnya.

Hitam putih cerita Inggit memang menjadi kajian menarik untuk ditelusuri. Setidaknya, saat ini, mari berikan doa yang tulus untuk almarhumah, karena telah memberikan baktinya kepada negara ini.

Namun, ada beberapa pertanyaan tentang Inggit yang masih ingin saya tanyakan kepada gedung tua dan jalanan di Bandung.

Kenapa Inggit Garnasih tidak menempati Taman Makam Pahlawan dan tidak mendapat gelar Pahlawan Nasional?

Apakah terlalu sederhana perjuangan perempuan Sunda itu?

Apakah karena dia berasal dari rakyat biasa?

Apakah karena ada kebencian sejarah?

Entahlah… Gedung masih membisu dan jalanan sejarah semakin bercabang.

Namun yang penting bagi saya dan Sero, Februari adalah bulan keteguhan perempuan pejuang Indonesia. Bulan yang seharusnya menjadi catatan penting dalam kalender nasional.

Minimal Inggit Garnasih menjadi bagian dari pelajaran sejarah di negeri ini. Dan, yang terpenting pada bulan Februari, bukanlah bulan kasih sayang antara saya dan Sero, tetapi bulan untuk menghormati dan mencintai Ibu Bangsa…

Mari berdoa untuk Ibu Inggit Garnasih…

  • Qhe Falkhi

    Hanya tahu kalau Inggit salah satu istri bung Karno. Kisahnya perjuangan banget ya, semoga saja bu Inggit mendapat balasan yang setimpal di alam sana

  • kemuning

    saya sangat kagum dgn sosok Bu Inggit… mau berkorban demi rasa cintanya… meskipun akhirnya tersisih… semoga Tuhan menempatkan beliau di tempat terindah