Membakar Hutan Itu Mudah, Kalau Membakar Asmara?

Membakar Hutan Itu Mudah, Kalau Membakar Asmara?

Anda pernah terbakar asmara? Momen ketika hati melambung tinggi melihat si dia memuja Anda dengan mata berbinar? Syaraf bahagia Anda bergetar-getar dan malam Anda dipenuhi dengan mimpi indah (basah)?

Atau, ingatkah Anda ketika merasa cemburu melihat dia digoda orang lain? Rasanya pasti nestapa. Sama nestapanya seperti nasib kaum jomblo melarat.

Wahai jomblowan-jomblowati, harap jangan mengutuk saya. Mungkin asmara hanya milik aktor ganteng Anjasmara atau pelatih bola Anjas Asmara selagi muda.

Sesungguhnya hati saya sedang membara. Bedanya dengan orang yang lagi kasmaran, hati saya gundah gulana oleh kebakaran hutan dan lahan gambut di negeri yang katanya tanah surga ini.

Sayang sungguh sayang. Tampaknya definisi tanah surga mungkin berbeda bagi para pembakar lahan. Dimulai dari masyarakat kecil sampai pengusaha besar.

Bedanya, masyarakat membakar di lahan mereka yang kecil. Kalau pengusaha dengan mudahnya menyewa organisasi terselubung untuk membakar lahan. Bayarannya murah. Mau tahu berapa? cuma Rp 700 ribu!

Lahan gambut yang terbakar di Kalimantan Tengah. Ini tak ubahnya seperti aliran lava yang apinya membuncah ke luar. (Bjorn Vaughn)
Lahan gambut yang terbakar di Kalimantan Tengah. Ini tak ubahnya seperti aliran lava yang apinya membuncah ke luar. (Bjorn Vaughn)

Sungguh sebuah nilai yang memprihatinkan, jika melihat penderitaan sosial dan ekologis yang kini terpampang di hadapan kita. Ribuan masyarakat terserang ISPA di Kalimantan, Riau, dan Jambi. Sekolah diliburkan. Bisnis penerbangan mandek.

Sebagai kota dengan kondisi asap terparah, konsentrasi partikulat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, telah menembus angka 3.000 mikrogram per kubik. Jika menilik infografik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), angka tersebut telah berada di wilayah ungu, yang artinya berbahaya untuk kesehatan.

Jadi ini artinya apa? Ya bayangkan ketika Anda berada di sebuah ruangan dengan serangan kentut bertubi-tubi dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Pasti Anda sesak menahan napas. Tentu karena Anda tidak ingin menghirup kentut. Apalagi asap tebal.

Jika putus cinta, hati jadi sesak. Tapi kebakaran hutan dan asap membuat mata perih, dada sesak, dan sakit kepala hebat. Hal ini sudah saya alami ketika bertandang ke sana.

Gejala ini tak dapat disembuhkan oleh Konidin, Bodrex, ataupun Panadol. Sedahsyat apapun kemanjuran sebutir obat, kunci penyelesaian masalah ini tetaplah berada di tangan pemimpin kita yang terhormat lagi mulia. Bukan di tangan bapak berblangkon pancen oye…

Hari yang menguning di Palangkaraya. Slamet tidak punya uang sama sekali dan ia memancing di sungai yang penuh sampah dan polusi. Namun, ia berkata, "lebih baik makan ikan beracun dari pada tidak sama sekali. Kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan." (Bjorn Vaughn)
Hari yang menguning di Palangkaraya. Slamet tidak punya uang sama sekali dan ia memancing di sungai yang penuh sampah dan polusi. Namun, ia berkata, “lebih baik makan ikan beracun dari pada tidak sama sekali. Kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan.” (Bjorn Vaughn)

Namun adakah harapan untuk masalah ini? Pemerintah memang sudah melakukan berbagai upaya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berusaha mati-matian memadamkan api. Pasukan Manggala pun saya temui sedang bertugas ketika berkunjung ke Taman Nasional Way Kambas dan Palangkaraya.

Belum lagi instruksi Presiden Joko Widodo untuk membangun kanal di lahan gambut di Kalimantan Tengah. Padahal, kanalisasi ini bisa bikin gambut malah tambah kering lho (katanya yaaa). Kalau sudah kering titik api bakalan tambah banyak dan terbitlah percikan api (katanya lagi).

Ah, seharusnya pembakar hutan membabat habis seluruh provinsi-provinsi yang dulu berhutan lebat itu, termasuk manusianya. Bukankah lebih gampang? Para penduduk terdampak pun tak perlu repot-repot menderita setiap tahun, karena mereka sudah damai di alam sana.

Pemerintah daerah bebas memberi izin konsesi, pengusaha senang usahanya lancar, pembakar untung, dan negara pun bisa berhemat miliaran rupiah dari penanggulangan bencana asap.

Pemerintah tinggal pilih. Bikin penduduk terdampak terus menerus teracuni asap tebal atau membiarkan mereka menghirup udara segar?

Kalau saya sih pilih yang terakhir. Nggak tahu kalau Mas Joko…

Foto: pichost.me

  • Kevin91

    Sy termasuk orang yg gampang terbakar asmara, tapi gak dapet2 hahahaa….. nyesek sih, tp pastinya lbh sesek korban asap! #MelawanAsap