Memaknai MU bak Remaja Menggemaskan agar Terhindar dari Kesesatan Berpikir

Memaknai MU bak Remaja Menggemaskan agar Terhindar dari Kesesatan Berpikir

soccerbible.com

Berbincang tentang Manchester United (MU) bukan hal sembarangan. Kita berbicara tentang sebuah klub semenjana yang bergelimang gelar dan tentu saja harta, serta penggemar yang jumlahnya cukup dahsyat untuk menjadikan mas Kokok Dirgantoro sebagai presiden sebuah negara, bukan sekadar CEO Voxpop Indonesia.

Maka, berkontemplasi tentang MU kekinian – sebuah tim yang paling sering kalah dengan tim papan bawah – tentu tidak bisa sembarangan. Kiranya mendeskripsikan MU secara tepat adalah dengan menempatkan MU sebagai remaja cakep nan menggemaskan.

Nah, berikut ini kesamaan-kesamaan yang cukup untuk menahbiskan MU sebagai remaja cakep yang bikin gemez.

1. Penggemar

Seorang remaja cakep menggemaskan akan selalu menjadi idola di sekolah maupun tempat kursus, hingga di halte Trans Jakarta. Remaja lelaki yang maestro basket akan selalu ditongkrongi gadis-gadis unyu. Remaja perempuan setara Nabila JKT48 akan selalu ditunggui oleh penggemarnya, baik di kantin maupun di tempat-tempat nan strategis. Surat cinta bukanlah hal yang luar biasa, apalagi sekadar menggoda lewat WA.

Sama halnya dengan MU ini. Penggemarnya di dunia itu jumlahnya uwow bingits. Jumlahnya jelas-jelas melebihi jumlah penduduk Islandia yang pernah lolos ke Euro 2016. Penggemar MU juga jelas-jelas melebihi jumlah pemilih Setya Novanto, Fadli Zon, dan Fahri Hamzah kalau digabungkan. Bahkan dengan jumlah penggemar yang uwow itu, negara Manchester bisa didirikan dengan mudah, kalau memang diinginkan.

2. Boros

Remaja cakep menggemaskan itu butuh modal, makanya boros. Untuk menjadi unyu sepenuhnya, diperlukan aksesoris-aksesoris nan menarik hati dan tampak tsakep meski sesaat.

Maka, kadang remaja cakep menggemaskan akan segera mengeluarkan uang untuk kebutuhan yang tiada terlalu diperlukan, entah itu casing ponsel apel kegigit, entah itu sekadar penguat antena di mobil, maupun knalpot yang gaung suaranya melebih suara hati itu sendiri. Itu jelas-jelas bukan primer, toh? Makanya, boros.

Sama halnya dengan MU. Nggak banyak tim di dunia ini yang hobi dan mampu jor-joran. Membeli remaja semacam Luke Shaw dengan harga yang kurang lebih setara dengan membeli Toby Alderweireld dan Nathaniel Clyne sekaligus, plus masih ada kembalian.

Atau yang paling keren, meminjam Radamel Falcao dari AS Monaco dengan gaji per pekan yang melebihi gaji Harry Kane plus biaya peminjaman yang harganya kira-kira setara dengan harga beli Jeison Murillo.

Itu ya, kalau bukan remaja cakep menggemaskan dijamin nggak akan semudah itu keluar duit. Meminjam Falcao itu ibarat kata ngelihat kalung teman tampak lucu, lalu mau dipinjam tapi nggak boleh, terus bolehnya kalau bayar sejumlah uang.

3. Nggak Mau Nyama-nyamain Mantan

Ini ihwal paling jelas tentang kesamaan MU dengan remaja cakep menggemaskan. Remaja cakep yang bikin gemez itu mantannya banyak, hobi gonta ganti pacar. Giliran sudah putus, pasti berantem sama mantan. Kalau ada mantan di kantin, jadi ogah ke kantin. Kalau ada mantan di perpus, jelas-jelas nggak akan menginjak perpus.

Maka, kalau mantan hobinya sekarang adalah ngegolin, MU sebagai remaja cakep nan menggemaskan ogah nyama-nyamain mantan. Mereka ogah ngegolin. Kalau mantan hobinya sekarang menang, maka MU jadi ogah menang.

Contohnya dulu ketika Javier ‘Chicharito’ Hernandez mencetak hattrick ke gawang Borussia Muenchengladbach yang sebelumnya membabat si tak tersentuh Bayern Muenchen, MU nggak mau nyama-nyamain. MU lebih baik kalah lawan Bournemouth. Yang penting beda sama mantan!

4. Nggak Mau Kalah sama Saingan Abadi

Remaja cakep nan menggemaskan jelas punya saingan abadi, entah itu sama-sama sering dibawa lomba Olimpiade ini-itu sama guru, atau semata-mata bersaing cakep-cakepan di depan kapten tim basket.

Sama halnya dengan MU ini. Ibu-ibu naik motor metik bolehlah dibilang paham kalau saingan abadi MU adalah tim besar bernama Liverpool. Keberhasilan MU menyalip gelimang gelar ‘The Kop’ yang sangat bikin gagal move on itu semakin meningkatkan ecek-ecekan fans MU dan Liverpool di medium apapun.

Maka, ketika Liverpool berkiprah dengan cukup lancar di Liga Europa, MU sama sekali nggak mau kalah. Bagi mereka yang sudah dikasih gol bunuh diri sama Wolfsburg itu, lebih terhormat jika bisa bersaing dengan seteru abadi di medium yang sama.

Jadi kalau itu remaja cewek, bukan satu di bela diri, satu di cheerleaders, melainkan dua-duanya yakni di bela diri dan cheerleaders. Kalau itu remaja cowok, yang dimaksud tidaklah satu ikutan sepak bola, satunya mentereng di basket. Keduanya memilih sama-sama di sepak bola atau sama-sama di basket untuk membuktikan diri siapa yang lebih baik.

Nah, sudah jelas sekali kan kenapa tim semenjana besar nan bergelimang gelar bernama Manchester United itu adalah setara dengan remaja cakep yang bikin gemez? Maka, kalau memang menyaksikan pertandingan MU itu bikin gemas, ya wajar aja. Namanya juga mereka itu cakep dan menggemaskan. 🙂