Memaknai Kembali Hal-hal Sepele Lewat Secangkir Kopi

Memaknai Kembali Hal-hal Sepele Lewat Secangkir Kopi

Ketika itu, seorang kawan dan saya, tengah berbincang mengenai novel karya Dewi Lestari (Dee). Kawan saya mengaku menyesal membeli dan membaca salah satu karyanya, yakni Filosofi Kopi.

Katanya, Filosofi Kopi terlalu berbunga-bunga, sehingga tak membuatnya nyaman membaca berlama-lama. Ada kalimat dan kata-kata yang ia rasa tak perlu ditulis, karena tak langsung menyasar pokok cerita. Cerpen pertama lalu tutup buku.

Namun, membaca Filosofi Kopi sama dengan menyaksikan sebuah perjalanan emosi. Perjalanan emosi yang berangkat dari hal-hal kecil atau sepele di sekeliling kita.

Pengertian-pengertian umum yang kembali dimaknai dari seorang Dee. Emosi-emosi abstrak atau bahkan tak bernama terwujud melalui kisah dari tokoh-tokoh yang kerap tak lazim. Misalnya cinta seekor kecoa kepada seorang manusia (Rico de Coro).

Kumpulan cerita pendek dan prosa setebal 134 halaman yang digubahnya selama 1995-2005 ini berisi 18 cerita. Selain ketebalan dan format karyanya yang berbeda, Filosofi Kopi jelas lebih sederhana dibanding novel pertama Dee, yakni Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh.

Pada Supernova membutuhkan usaha lebih untuk mengerti plot cerita, karakter, serta pseudo name di bagian tertentu. Yang paling mencolok, tidak banyak catatan kaki dan tidak banyak istilah asing yang harus dikonsultasikan dulu pada kamus istilah khusus.

Dewi Lestari (Dee)
Dewi Lestari (Dee)

Dalam Filosofi Kopi, perumpamaan-perumpamaan khas Dee masih terasa. Misalnya, Dalam Surat yang tak Pernah Sampai (2001), Dee mengatakan sejarah merupakan hal istimewa dalam hidup manusia, namun tidak melekat utuh pada realitas.  “Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika di sentuh menjadi embun yang rapuh.” (hal 42)

Meski pada beberapa bagian Dee terkesan hanya menempelkan kebenaran yang sudah diterima umum (aforisme), namun bukan berarti tidak membuat pembaca merenungkan kembali hal-hal sederhana atau common sense yang tertulis.

Misalnya, masih dalam Surat yang tak Pernah Sampai, Dee menulis, “Cinta butuh dipelihara” (hal 43) atau “Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi.”

Siapa yang tidak tahu cinta butuh dipelihara? Siapa pula yang tidak sadar bahwa untuk mencintai butuh interaksi?

Namun, seperti yang dikatakan Gunawan Muhammad, “Aforismenya yang orisinal menunjukan kemampuan untuk tanpa bersusah payah menggabungkan konseptualisasi dengan metaphor, yang abstrak dengan yang konkret.”

Kelebihan Dee sehingga aforisme tersebut tak terasa dangkal adalah penjabaran setelahnya. Misalnya, setelah ‘cinta butuh dipelihara’, ia melanjutkan bahwa dalam sepak-terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.

Terasa tak dangkal, ketika cinta diartikan sebagai sesuatu yang logis, yang masih memiliki mekanisme. Bukan sekedar rasa yang dikendalikan perasaan.

Hal lain yang perlu dicatat adalah kemampuan Dee untuk menjelaskan satu hal. Hanya satu hal, tapi dibuatnya panjang dengan menambahkan bumbu-bumbu lain. Sebagian menganggap bertele-tele. Tapi justru, untuk saya pribadi, bertele-tele yang dilakukan Dee memperluas maknanya.

Misalnya dalam Selagi Kau Lelap (2000). Dee hanya ingin menjelaskan durasi waktu tiga tahun. Namun, ia menambahkan, tiga tahun sama dengan dua puluh delapan bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini: 4.354.560.000.

Saya yakin bukan tanpa maksud Dee membuat tiga tahun menjadi sedemikian panjang. Angka miliaran tersebut justru yang melebarkan makna bahwa tiga tahun bukan waktu yang sebentar.

Kata diuntai untuk menjabarkan sesuatu yang melebihi persepsi awam, meski beberapa menggagap banyak penggunaan kata yang tidak perlu. Namun, justru hal itu yang memperluas makna dan memperjelas imagery (penggambaran) sebuah kisah.

Sederhana dan Jenaka

Kemudian, kejenakaan Dee tampak melalui kolaborasi antara tokoh Ben dan Jody dalam Filosofi Kopi (1996). Makhluk idealis dan si praktis.

Misalnya, ketika tokoh Jody terheran-heran akan ambisi Ben, rekan kerjanya, terhadap kopi. Jody si manusia matematis, mengatakan, “Aku berandai-andai kapan ia (Jody) terpikir untuk akhirnya membangun berhala dari biji kopi, karena sepertinya hanya masalah waktu.” (hal 6)

Di sini Dee hanya mengatakan Jody tergila-gila kopi, namun Dee punya cara jenaka yang menjentik untuk itu.

Dalam Buddha Bar (2005), Dee kembali melanjutkan kesederhanaannya. Buddha Bar di sini merujuk pada sebuah gaya hidup yang kala itu digandrungi. Ia menyebutnya fusi dua budaya, seperti Buddha dan bar. Tequilla dan kacang bawang. Disko dan mantra.

Mungkin pula ‘fusi’ ini merujuk pada gabungan kelima tokoh yang ada di cerita, yang mana meski memiliki karakter berbeda, namun melebur harmonis seperti Buddha dan bar.

Namun, Rico de Coro yang ditulis Dee pada 1995 adalah terunik dari seluruh cerita pendek yang ada. Dee begitu jeli mempersonifikasikan seekor binatang jorok yang biasa bersarang di dapur.

Bagi saya, mendeskripsikan perasaan manusia dalam cerita saja tidak mudah, terlebih harus menjabarkan perasaan dari sudut pandang seekor kecoa yang jatuh hati pada seorang gadis bernama Sarah.

Dee tidak hanya berusaha berbunga-bunga mendeskripsikan rasa cinta seekor kecoa. Namun juga menciptakan nuansa heroik dan ketegangaan saat Rico (nama sang kecoa) bertarung melawan tangan-tangan manusia yang berupaya membunuhnya.

Nah, kembali ke perbincangan dengan kawan saya tadi. Pada akhirnya semua persoalan selera. Kaca mata yang digunakan saya dan kawan saya mungkin berbeda.

Apa yang dikatakannya sebagai kekurangan justru menjadi kelebihan di sisi lain. Tak ada salahnya pula kembali memaknai hal-hal sepele di sekeliling kita, bukan?

Foto: flickr.com