Memaknai Kecantikan Para Pria Korea

Memaknai Kecantikan Para Pria Korea

viral.kincir.com

Semenjak Descendants of the Sun berakhir, kaum hawa di Republik Indonesia yang tercinta ini sangat menunggu film drama Korea lainnya. Itu mengapa kehadiran film Goblin dan Legend of the Blue Sea menjadi semacam oase di tengah kegersangan hatimu suasana.

Kaum hawa akan kembali menikmati para aktor asal Korea Selatan yang warna kulitnya seperti keju meleleh, dan wajahnya menyerupai imajinasi tentang Arjuna. Para wanita rela menghabiskan waktu hingga beratus-ratus purnama demi larut dalam drama-dramaan sang idola via Youtube.

Serial yang berkelanjutan hingga belasan episode ini berdurasi sekitar satu jam per episode. Meski cukup lama, film Goblin dan Legend of the Blue Sea juga menjadi penyejuk ruangan yang panas akibat suhu fanatisme agama dan politik yang naik.

Alangkah menyenangkan, apabila linimasa media sosial dihiasi cuitan-cuitan para penggemar drama Korea. Seperti salah satu cuitan teman saya yang berkata, “Jika Tuhan memasukkan saya ke dalam neraka, setidaknya ijinkan saya memohon satu permintaan. Hadirkan aktor Goblin untuk tinggal bersama denganku, maka suasana neraka menjadi adem ayem.”

Waduh… Ekstrem bung…

Gimana coba? Segitunya cinta dia pada aktor Korea dalam film Goblin. Padahal, Goblin versi Barat sering diasosiasikan sebagai hantu jahat. Bahkan dapat dikatakan hantunya hantu.

Namun, dalam film tersebut, Goblin diperankan oleh sosok pria berwajah rupawan, berkulit putih, berkelakuan sopan, gemar menabur kebaikan, dan stylish. Ini jelas penistaan terhadap hantu.

Atau, jangan-jangan orang Korea sengaja ingin mengasosiasikan bahwa Goblin itu baik? Kalau begitu, bisa bahaya sekali. Jangan-jangan nanti akan muncul fatwa haram nonton drama Korea di Indonesia. Kan gawat…

Tapi rasanya itu tidak mungkin. Wong, penggemarnya hampir seluruh remaja putri berusia tanggung hingga mamah-mamah muda. Baik yang tanpa jilbab maupun yang berjilbab lebar, yang hobinya nongkrong di mal sampai yang hobi ikut kajian.

koalasplayground.com
koalasplayground.com

Nah kan, drama Korea mampu menembus sekat-sekat dan bisa menjadi alat pemersatu umat. Kalo sudah begini, mana mungkin fatwa akan turun? Jelas, the power of emak-emak akan lebih efektif dan efisien. “Kalo lo stop drama Korea, kelar masalah dapur lo!” Ibarat slogan, Only God can stop the power of emak-emak.

Drama Korea memang sudah merasuki jiwa kaum hawa, baik yang jomblo maupun yang sudah menikah. Termasuk istri saya sendiri. Seringkali saya merasa jengkel. Bangun pagi bukannya kecup pipi, tapi nonton si Goblin. Mau tidur bukannya peluk-pelukan, tapi malah nanggung mantengin si Goblin.

Saya pun heran, apakah kaum hawa di NKRI ini sudah tenggelam dalam benak pikiran bahwa kulit putih dan wajah rupawan adalah hal mutlak yang harus dimiliki pria?

Atau, bibir yang diolesi lipstik berwarna merah atau pink dan jari yang sedikit lentik sudah menjadi standar bahwa pria modern harus seperti itu? Atau mungkin pria modern adalah pria ‘cantik’?

Kalo benar begitu, berarti budaya pop di Indonesia sedang bergeser. Dulu, pria jantan diasosiasikan sebagai pria kekar dan berkulit sawo matang. Tampaknya sekarang standarnya berbeda. Era kekinian banyak pria yang berlomba-lomba merawat tubuhnya di salon. Di beberapa kota besar bahkan sudah ada salon dan spa khusus pria.

Dulu, setahu saya, pria hanya merawat wajah sebatas cukur kumis, jenggot, dan rambut kepala. Sekarang sudah ada sulam alis dan sulam bibir bagi pria. Kenyataannya memang terjadi bagi pria yang ingin mendapatkan label pria metroseksual ala Korea.

Istri saya sempat menawarkan perawatan agar memiliki wajah mulus seperti aktor Korea. Saya pun mengiyakan. Saya mencoba tawarannya dengan membersihkan komedo. Dan, rasanya luar biasa. Kalau dulu ada moto beauty is pain, maka hal serupa bisa terjadi pada pria. Handsome is pain.

hancinema.net
hancinema.net

Saya benar-benar tak membayangkan para aktor Korea yang sangat menjaga wajahnya agar selalu terlihat mulus. Mungkin mereka mengalami rasa sakit juga. Atau, justru ‘sengaja’ menikmati kesakitan demi meraih dan menjaga popularitas? Mungkin iya, mungkin tidak.

Tapi, kenyataannya, pria-pria Korea yang sudah memasuki usia 20 tahun mulai rajin pergi ke tempat perawatan wajah dan tubuh. Bahkan, sekalipun di Korea itu memiliki peraturan wajib militer bagi pria.

Beberapa produk kosmetik di Korea pun menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Mereka menciptakan produk kosmetik bagi pria yang sedang menjalankan wajib militer. Hasilnya? Laris manis.

Dan itu sedikit demi sedikit mulai menggerayangi benak para pria di Indonesia. Jika dirasa produk kosmetik khusus pria mahal, para pria justru beralih ke produk kosmetik wanita. Percayalah, pasti dari sekian teman-teman kamu, ada yang menggunakan produk kosmetik wanita.

Jangan kaget jika di kemudian hari, ada drama film Indonesia yang menyajikan pria Indonesia ala-ala Korea. Toh, sekarang zamannya sudah terlanjur begitu. Pertanyaannya adalah: “Kita harus menyerupai era kekinian atau kembali ke masa lampau? Memilih jadi pria modern atau konvensional?”

Ah, menjadi ganteng tampaknya adalah sebuah kesia-siaan.