Memaknai ‘Kamu Jahat’ dalam Film AADC 2 dan Pulau Buru Tanah Air...

Memaknai ‘Kamu Jahat’ dalam Film AADC 2 dan Pulau Buru Tanah Air Beta

Tapol di kamp Unit XV Indrapura. (visualdocumentationproject.wordpress.com)

Rabu sore, 16 Maret 2016, saya yang berasal dari generasi Y terbangun dari tidur dan langsung membuka gadget, mencoba mencari santapan literatur yang bisa disetubuhi. Akun Facebook saya buka, Twitter pun sama, begitu juga berbagai portal berita online yang tentu saja terpercaya. Yang jelas bukan Republika.co.id yang baru-baru ini menayangkan berita abal-abal tentang Menristekdikti yang menutup kampus saya di Maumere, Flores.

Saya sebagai manusia kekirian kekinian terperangah, kaget, sontak, plus terkejut. Beberapa kawan membagikan tautan seputar pembatalan pemutaran film dokumenter ‘Pulau Buru Tanah Air Beta’ karya Rahung Nasution, yang sedianya digelar di Goethe-Institute, Menteng, Jakarta.

Dengan libido kuriositas yang luar biasa dahsyatnya, meskipun laju gerak internet di daerah sangat-sangat lamban, saya mendapat kepastian berita ini ketika mengintip langsung di dinding Facebook Rahung Nasution. Rahung memasang judul statusnya “Pulau Buru Tanah Air Beta batal diputar di Goethe-Institute”.

Lalu, beliau mengawali tulisan tersebut dengan sangat miris, “Apa yang diharapkan dengan demokrasi yang semakin menyempit? Ruang untuk menyampaikan pendapat, untuk berekspresi semakin mengecil.”

Dalam hati yang juga ikut mengecil, saya menjawab curhatan Om Rahung, “Begitulah bangsa kita, Om, yang suka mengagung-agungkan demokrasi. Semakin gagah-gagahan dengan demokrasi juga reformasi, semakin bebal pemikiran manusia-manusianya. Semakin birahi dengan perkembangan teknologi dan informasi, semakin impoten peradabannya.”

Siapakah aku ini, manusia kecil yang terasing bak biduk di tengah lautan luas demokrasi. Apalah aku ini, suaraku mati dimakan burung bangkai monster demoncrazy. Aku ini binatang jalang… Waduh, kenapa tiba-tiba jadi puitis begini? Maaf, saya cepat baper kalau bicara tentang hal-hal seperti ini, apalagi mengenai aktivitas kekiri-kirian. Maklum, saya filsuf kiri. Bukankah begitu mas Jauhari Mahardika?

Baiklah kita kembali ke substrat persoalan. Pembatalan pemutaran film dokumenter ‘Pulau Buru Tanah Air Beta’ secara tidak langsung datang dari kepolisian, sebuah lembaga keamanan negara yang salah satu misinya memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan secara mudah, responsif, dan tidak diskriminatif.

Namun, apalah artinya sebuah misi, apabila aktualisasi hanya terjerembab dalam nihilisme. Rupanya kepolisian, dalam hal ini sektor Menteng, menginformasikan bahwa akan terjadi demonstrasi oleh ormas-ormas tertentu pada saat pemutaran perdana film tersebut.

Di sini, barangkali pihak kepolisian lebih suka menjadi pelayan ormas minim kemaslahatan semacam itu. Sebab, pemutaran film yang terinspirasi dari narasi salah seorang mantan tahanan politik di Pulau Buru ini merupakan nutrisi intelektual yang mewah bagi generasi muda.

Saya pikir generasi muda wajib mengetahui sejarah bangsa ini dengan benar, bukan mendingan. Dan, pemutaran film “Pulau Buru Tanah Air Beta” adalah bagian dari kerja kebudayaan termaktub. Ada juntrung kecerdasan di dalam suguhan kisah tentang Pulau Buru yang notabene merupakan camp concentration bagi para anti Orde Baru kala itu.

Selain itu, orang yang buta terhadap sejarah bangsa tidak lebih daripada status ngehek Tere Liye yang hanya tahu mengeruk sisa-sisa makanan tanpa tahu dari mana makanan tersebut berasal. Nah, lebih parah lagi kalau mereka yang punya niat membutakan sejarah. Entahlah mereka tidak lebih dari apa, silakan anda katakan sendiri.

Tentu, rasa kecewa sudah pasti. Terutama bagi mereka yang mencintai sejarah dan butuh ehm, ehm diluruskan. Namun, saya sangka film ‘Pulau Buru Tanah Air Beta’ bukanlah tentang lurus-meluruskan. Ini lebih pada soal penambahan amunisi pengetahuan.

Ketika lembaga formal, dalam hal ini institusi pendidikan, tidak cukup memberikan informasi tentang sejarah bangsa yang kaya ini, kehadiran ruang-ruang informal seperti itu layak didukung. Dosa, kalau anda melarang kegiatan yang berniat mencerdaskan anak bangsa. Bukan dosa terhadap Tuhan, nanti saya dibilang sok agamis lagi. Tapi dosa terhadap bangsa dan negara, terhadap anak cucumu sendiri, juga kepada para pendahulu bangsa.

Dengan begitu, orang ataupun lembaga yang terlibat dalam pembatalan pemutaran film ‘Pulau Buru Tanah Air Beta’ dapat digolongkan sebagai manusia tuna etika. Kalau ikan tuna sih sudah pasti bikin cerdas, otak terbuka, dan pemikiran aktif-kreatif. Kalau manusia tuna etika adalah jenis manusia yang tidak menghormati hukum, bertingkah seturut kemauannya, serta hanya mementingkan keinginan dan nafsu.

Mungkin ormas-ormas penentang film ‘Pulau Buru Tanah Air Beta’ tersebut butuh hiburan ringan yang juga bisa mencerahkan hati dan pikiran. Bagaimana kalau film ‘Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2’? Itu lho, yang ada Dian Sastro alias Cinta, mamah muda paling berpengaruh di republik ini.

Pihak Goethe-Institute atau siapa pun juga tidak ada salahnya bikin nobar AADC 2 untuk ormas-ormas intoleran tersebut. Tapi memang baru trailer-nya, karena yang full version baru tayang di bioskop pada 28 April 2016. Jadi sabar… Sabar… Jangan buru-buru, santai.

Saya bukan mau promo film AADC 2, bukan pula buzzer. Apalagi, buser kayak pak polisi yang lagi asyik dengan ‘Turn Back Crime’, tapi dinodai dengan pelarangan pemutaran film ‘Pulau Buru Tanah Air Beta’.

Saya hanya ingin saran, siapa tahu, setelah menonton trailer maupun full version AADC 2 nantinya, pikiran mereka jadi bening nan jernih seperti wajah mbak Dian Sastro.

Dan, bisa jadi film ‘Pulau Buru Tanah Air Beta’ diizinkan untuk diputar di ruang publik secara bebas lepas tanpa beban. Kasihan CEO Voxpop, mas Kokok Dirgantoro sudah capek-capek ke salon, bersiap-siap mau nonton filmnya om Rahung itu, tapi batal diputar. Ranggaaaa… Kamu jahat…