Memaknai Aksi Telolet 2112 yang Super Damai

Memaknai Aksi Telolet 2112 yang Super Damai

instagram/marshmellomusic

Mari kita mulai dari quote klise ini: “Bahagia itu sederhana”. Ini quote sebenarnya klise banget. Saking klisenya, lama-lama jadi nggak percaya lagi. Kok ya mau-maunya dibohongin pake kata-kata “bahagia itu sederhana”?

Saya kasih satu contoh. Anak-anak Suriah pernah gembira bukan main saat Rami Adham, aktivis pemberi bantuan, mendatangi mereka di kamp pengungsi. Berbaris rapi, anak-anak ini tidak sabar menerima mainan-mainan yang dibawa Adham.

Adham, yang dijuluki sebagai ‘penyelundup mainan’ sudah puluhan kali menyambangi Aleppo membawa boneka-boneka untuk anak-anak korban perang. Bagi Adham, anak-anak tidak hanya butuh bantuan makanan, tapi juga mainan. Benda tersebut memberi kebahagiaan di tengah getirnya perang.

Aktivis keturunan Suriah dari Finlandia itu awalnya membawa 25 Teddy Bear dan 36 boneka Barbie. Empat tahun berselang, setiap kali datang ke kamp pengungsi, Adham membawa sekitar 80 kg mainan hasil donasi yang diselundupkan melalui Turki. Dan, saat ini, sudah ribuan mainan yang diboyongnya ke Suriah.

Selama di Aleppo, dia berlindung dari serangan bom barel dan artileri. Adham kembali ke Istanbul pada akhir Juni. Saat menunggu penerbangannya ke Helsinki, dia menjadi saksi serangan bunuh diri di Bandara Ataturk, Istanbul.

Tuh kan, bahagia itu nggak sederhana.

Belum lagi kalau kita bicara konteks mencari kebahagiaan di media sosial. Itu nggak sederhana juga. Carnegie Mellon University di Amrik sana bahkan sampai membuat penelitian tentang bagaimana cara kita bisa menggunakan media sosial sebagai ladang kebahagiaan.

Bayangkan, untuk mencari kebahagiaan di media sosial saja perlu dibuat penelitiannya dulu. Ribet.

Ditambah lagi berbagai kabar palsu alias hoax di media sosial yang sekarang makin masif. Isinya ya begitu, membuat kita jadi berpikir: “Kok dunia ini kacau ya, teori-teori konspirasian njelimet muncul di mana-mana.

John Jonides, pakar ilmu saraf kognitif dari University of Michigan, pernah bilang kalau mereka yang menggunakan media sosial dalam waktu yang lebih banyak daripada yang disarankan cenderung lebih tidak bahagia. Mereka juga cenderung kurang puas terhadap hidup mereka.

Eh tapi jangan putus asa dulu. Om John tak selamanya benar. Hari-hari ini, teori-teori di atas agaknya perlu didefinisikan ulang. Sebab, tampaknya, kita masih bisa menemukan kebahagiaan yang sederhana itu.

Adalah fenomena ‘Om Telolet Om’, yang menunjukkan harapan itu. Kalau kamu orang yang baru keluar dari pertapaan di gua terpencil nun jauh di sana, saya ceritakan sedikit fenomena apa itu.

‘Om Telolet Om’ adalah sebuah teriakan yang biasa diucapkan oleh anak-anak di pinggir jalan ketika sebuah bus melintas. Harapannya, sopir akan membunyikan klakson yang unik. Telolet-telolet…

Sekumpulan anak-anak asal desa Ngabul, Jepara, yang mulanya melakukan hal ini. Tidak susah membuat anak-anak itu merasa gembira, cukup bunyikan saja klakson kendaraan.

Suara klakson bus yang nyaring dan unik menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak ini. Bila beruntung, maka sopir bus akan membunyikan klakson. Jika tidak, mereka akan berteriak, “Huuuuu!”

Kebiasaan yang awalnya tidak dikenali orang banyak tersebut akhirnya sedikit-sedikit menjadi dikenal setelah Riyadh As’ari mengunggah video keriangan mereka pada November lalu. Puncaknya, pada tanggal 21 Desember 2016, ‘Om Telolet Om’ masuk jadi trending topic worldwide di Twitter. Trending topic dunia!

Lupakan dulu kabar di negara kita yang isinya laporan ke bareskrim, unfriend massal, sweeping mal dan tempat hiburan, pembubaran acara ibadah, sampai aksi saling berbalas yang menyeret roti.

Selebritas dunia seperti DJ Snake, Oliver Heldens, Hardwell, Zedd, hingga Martin Garrix beramai-ramai mengicaukan frasa ‘Om Telolet Om’. Hardwell bahkan membuatkan versi ‘Om Telolet Om’ ala dirinya yang seolah-olah menjadi sopir bus. Inilah pertama kalinya para biduan dangdut kalah cepat sama DJ internasional.

Bahkan Marc Marques juga ikut-ikutan. Dan, kita tinggal tunggu saja dia memasang klakson ‘telolet’ di motornya. Tak ketinggalan klub sepak bola raksasa, semacam Bayern Munchen, Manchester City, dan Inter Milan. Real Madrid bahkan menyapa, “Halo Indonesia! Om Telolet Om.”

Kebahagiaan dari anak-anak Jepara menular sampai dunia. Semua jadi terbawa bahagia.

Di Amerika sana, yang akhir-akhir ini ramai oleh haters dan lovers-nya Donald Trump, juga tersengat ‘telolet’. Instagram Om Trump diserbu komentar yang isinya ‘Om Telolet Om’.

Padahal, foto terakhir yang diunggah Trump isinya caption heroik. “When Americans are unified, there is nothing we cannot do. No task is too great. No dream is too large. No goal beyond our reach.” Tapi sebagian orang malah komentar ‘Om Telolet Om’. Om Trump nggak sebercanda itu…

Coba kalau berani bilang sama Kim Jong-un, “Un telolet Un.” Kelar idup, lo!

Belakangan, banyak orang merasa was-was menjelang pergantian tahun ini. Tidak di Indonesia, tidak di dunia. Aksi teror dan perang terjadi di mana-mana. Padahal, tidak ada kebahagiaan paling sempurna dibandingkan kedamaian.

Untuk itu, tak ada salahnya kalau kita jadikan tanggal 21 Desember sebagai Hari Telolet Internasional. Sebab, Aksi Telolet 2112 di media sosial berlangsung damai. Bahkan super damai. Ya meski ada sedikit provokasi, apalagi kalau bukan masalah akidah ataupun konspirasi Wahyudi.

Jika kita agak sulit memahami arti toleransi, cobalah untuk memaknai arti telolet-ansi. Sebab, perbuatan yang tidak telolet itu namanya intelolet.

Telolet adalah cara sederhana untuk bahagia. Dan, di hadapan telolet, kita semua bersaudara. Kini, kita menanti Aksi Telolet 3112, dengan beramai-ramai meniup terompet telolet sebagai simbol perdamaian dunia.

Eh tapi di mana kita bisa membeli terompetnya?

Di minimarket 2112!