Memahami Awkarin yang Mellow dari Kacamata Segitiga Maslow

Memahami Awkarin yang Mellow dari Kacamata Segitiga Maslow

pribadi

Anda sudah bosan intip-intip Jonru di media sosial? Bolehlah sesekali tengok Awkarin. Nama sebenarnya sih Karin Novilda. Biar manja, memang enaknya disapa Awkarin saja. Tapi jangan tanya saya, kenapa ada kata ‘aw’ di situ. Yang pasti, cewek berusia 19 tahun itu memang aw… aw… Eh, tapi dibanding siapa dulu? Jonru? Ya iyalah…

Awkarin bisa dibilang seleb di media sosial. Sebenarnya sama sih, Jonru juga seleb. Banyak pengikut, banyak pula yang benci. Itu semua tak lepas dari sosok mereka yang kontroversial. Tapi soal Jonru, kita cukupi saja sampai di sini. Kali ini sesinya Awkarin. Dijamin lebih asyik.

Kita mulai dari apa yang menjadi kehebohan Awkarin di dunia maya belakangan ini. Ya betul, netizen dikejutkan oleh beredarnya video Awkarin berjudul “Gaga’s Birthday Surprise & My Confessions”. Video itu intinya curhatan Awkarin soal kehidupan cintanya yang kandas sama cowoknya. Siapa itu namanya? Ya pokoknya itulah.

Memang itu terdengar klise. Putus sama pacar kan biasa. Lalu kenapa bisa heboh? Iya itu kalau kamu. Beda sama Awkarin, selebgram yang punya lebih dari 500 ribu pengikut. Cewek yang baru lulus SMA itu sebenarnya sudah terkenal di medsos, bahkan sebelum muncul video tersebut.

Awkarin biasa mem-posting foto-foto mesra bersama pacarnya yang sekarang sudah jadi mantan (penting banget kayaknya). Ia juga suka tampil seksi dengan pakaian minim, meski sebenarnya terlihat fashionable. Belum lagi foto dan video yang menyuguhkan gaya hidupnya yang hedon. Banyak yang benci melihat itu, tapi banyak juga yang suka. Ada pula yang benci-benci tapi menanti, seperti kamu. Ya kamu…

Balik lagi soal video heboh Awkarin. Di video tersebut tampak jelas kelebayan Awkarin yang akhirnya menjadi sebuah kontradiksi. Kali ini, ia terkesan mellow se-mellow-mellow-nya, dengan menangis sesegukan. Air matanya mengalir deras, yang kalau tak disapu tisu, bisa sampai ke lautan lepas.

Ini menjadi sebuah kontradiksi, karena selama ini Awkarin dicitrakan sebagai perempuan yang pokoknya fun, hedon, dan punya hubungan asmara yang bisa bikin para jomblo semakin ngenes. Di situlah, letak drama dari seorang ‘drama queen’ sekaliber Awkarin.

Tapi, pada tulisan ini, saya tidak akan men-judge seperti apa seorang Awkarin, karena saya juga tidak kenal dia. Saya lebih ingin membahasnya, kenapa sih dia harus selebay itu? Mengunggah video mellow ke publik hanya untuk sekadar urusan asmara-asmaraan?

Mengumbar curhatan dalam bentuk video ke media sosial tampaknya kini menjadi sebuah perbuatan yang bisa meningkatkan kadar curhat ke level sabuk hitam. Dulu, ketika belum ada medsos, banyak orang curhat melalui buku Diary. Itu pun konsumsi pribadi. Orang lain, bahkan pacar apalagi gebetan, tidak boleh membacanya. Sangat privasi.

Kemudian teknologi berkembang. Orang-orang mulai nulis curhatan di medsos. Ada yang terang-terangan, ada juga yang cuma kasih kode-kodean. Dari situ, dimulailah era blak-blakan sengablak-ngablaknya. Mengumbar privasi menjadi sesuatu yang lumrah. Bahkan menjadi cara promosi diri paling mutakhir.

Namun, curhat lewat status atau cuitan kata-kata di medsos masih lebih mending ketimbang lewat video. Kenapa? Karena kita tidak bisa men-judge begitu saja seseorang dari apa yang ia tulis. Penulisan dipengaruhi beberapa faktor, seperti tanda baca, timeline, gaya penulisan kalimat, maupun subyektivitas masing-masing orang. Semua itu akan berujung pada sebuah prasangka. Bisa benar, bisa tidak.

Nah, kalau video, kita benar-benar melihat semuanya secara audiovisual. Hati-hati! sifat asli seseorang bisa ketahuan. Katakanlah apa yang kita pertontonkan bukanlah sifat asli, tetapi media audiovisual cenderung lebih melekat ke dalam memori.

Contohnya ketika Rowan Atkinson berlakon sebagai seorang Mr Bean dari tahun ke tahun hingga sukses besar. Akibatnya orang-orang malah lupa bagaimana seorang Rowan Atkinson sebenarnya. Publik menilai bahwa Rowan Atkinson adalah seorang Mr Bean yang polos dan dungu. Padahal, ia adalah seorang yang kritis dan jenius.

Lalu kenapa orang-orang, seperti Awkarin, selalu ada dan berlipat ganda? Hmmm… Saya melihat ini ada hubungannya dengan teori hirarki kebutuhan manusia ala Abraham Maslow, seorang pelopor aliran psikologi humanistik berkebangsaan Amerika, yang dibesarkan oleh keluarga Yahudi Rusia.

Teori hirarki Maslow
Teori hirarki Maslow

Teori hirarki Maslow menggambarkan kebutuhan manusia bak segitiga piramida. Kebutuhan paling dasar manusia adalah ‘fisiologis’ (physiological needs), yaitu air, makanan, tidur, dan seks. Untuk bergerak ke atas hirarki, seseorang harus memenuhi kebutuhan dasar ini.

Selanjutnya adalah kebutuhan ‘rasa aman’ (safety needs). Pada hirarki ini, manusia butuh kehidupan di lingkungan yang aman untuk dapat berfungsi secara efektif. Setelah kedua kebutuhan tersebut terpenuhi, maka manusia dapat mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi, yakni ‘cinta dan rasa memiliki’, ‘penghargaan’, dan ‘aktualisasi diri’.

Kebutuhan terhadap ‘cinta dan rasa memiliki’ (love and belongingness) adalah kebutuhan untuk memperoleh dan memberikan kasih sayang, serta sebuah keinginan untuk menjadi manusia yang memiliki kontribusi dalam suatu kelompok atau masyarakat. Jadi, tidak hanya terkotak pada cinta antara sepasang kaum Adam dan hawa, tetapi juga cinta dan kasih kepada teman, keluarga, komunitas, dan lain-lain.

Setelah memenuhi kebutuhan tersebut, manusia akan berusaha untuk dihargai atau memperoleh ‘penghargaan’ (esteem). Maslow membagi kebutuhan ‘penghargaan’ ke dalam 2 kategori, yaitu kebutuhan pada tingkat yang ‘lebih rendah’ dan ‘lebih tinggi’.

Kebutuhan pada kategori yang ‘lebih rendah’ mencakup kebutuhan mendapatkan respect, status, ketenaran, kemuliaan, pengakuan, perhatian, reputasi, apresiasi, martabat, bahkan dominasi. Sedangkan kategori yang ‘lebih tinggi’ melibatkan kebutuhan terhadap harga diri, termasuk perasaan seperti kepercayaan diri, kompetensi, prestasi, penguasaan, kemerdekaan, dan kebebasan.

Kategori yang ‘lebih tinggi’ ini adalah bentuk yang lebih baik, karena dianggap bahwa suatu self-respect lebih sulit untuk dijatuhkan (dikalahkan), jika dibandingkan dengan sekadar mendapatkan hormat dari orang lain.

Maslow setuju dengan teori psikolog Alfred Adler bahwa kebutuhan terhadap penghargaan adalah akar dari banyak masalah psikologis. Mengapa begitu? Karena jika kebutuhan untuk dihargai pada diri manusia tidak dapat terpenuhi, maka pada akhirnya dapat bersifat patologis, yaitu depresi.

Namun, jika manusia telah merasa kebutuhan esteem-nya terpenuhi, maka ia berarti telah mendekatkan diri kepada titik tertinggi hirarki segitiga piramida Maslow, yaitu tahapan ‘aktualisasi diri’ (self-actualization). Dalam ‘aktualisasi diri’, yang penting adalah manusia merasa nyaman dengan diri mereka sendiri dan puas bahwa mereka menggunakan bakat mereka sepenuhnya.

Nah, dalam fenomena Awkarin, ia nampaknya memiliki masalah pada kebutuhan esteem yang ‘lebih rendah’. Dari semua cyberbullying yang ia terima, tentunya ia tidak merasakan adanya penghargaan tersebut, yang ada malah olok-olokan. Ditambah lagi setelah ia putus dari kekasihnya, Awkarin juga seperti kehilangan kebutuhan love and belongingness-nya.

Ia mengunggah video curhatannya tersebut untuk kembali memperoleh esteem-nya. Namun, sepertinya cara yang ia lakukan kurang tepat dan dianggap lebay oleh publik. Sebab, memori yang melekat selama ini adalah seorang Awkarin yang hedon dan gemar menyuguhkan foto-foto dan video yang agak “nyerempet”, kalau dilihat dari perspektif orang Timur pada umumnya.

Di Indonesia dan beberapa negara Asia, kontroversi cenderung menjadi penghalang suksesi. Secantik atau seberbakat apapun dirimu, tapi kalau attitude buruk di mata publik, maka bersiap-siaplah mendapat poin minus. Jelas berbeda dengan kehidupan di negara Barat.

Di Inggris, ada sebuah band legendaris bernama Oasis, yang bisa dibilang sebagai salah satu grup musik paling kontroversial. Salah satunya, mereka suka meledek musisi-musisi lain macam Blur, Radiohead, beberapa musisi rap, dan sebagainya. Namun, nyatanya album mereka selalu sukses. Lagu-lagu mereka bahkan masih sering didengar banyak orang di dunia hingga hari ini.

Coba bayangkan kalau penyanyi di Tanah Air, macam Raisa atau penyanyi-penyanyi Kpop melakukan kontroversi seperti mengkonfrontasi musisi lainnya. Bisa-bisa penjualan album mereka bisa menurun, karena fans hilang respect atau yang lebih parah fans turn into haters.

Kembali ke soal Awkarin. Sekarang pertanyaannya adalah, “Apakah Awkarin sampai segitu parahnya, sehingga tak tersisa sedikit pun sisi positifnya?” Tunggu dulu… Saya memang bukan penggemar apalagi penikmat Awkarin, tapi nyatanya ia adalah salah seorang selebgram yang di-endorse banyak online shop.

Mungkin dia di-endorse, karena banyak pengikutnya? Bisa jadi. Atau, citranya yang terkesan young, wild, and free? Mungkin… Tapi ia juga tak jarang di-endorse menjadi model pakaian muslimah dan terlihat ayu tenan. Kalau kamu yang masih skripsian sudah punya penghasilan sendiri belum? Eh…?