Melihat Pejabat dari Perilakunya yang Suka Marah-marah

Melihat Pejabat dari Perilakunya yang Suka Marah-marah

Ilustrasi (republika.co.id)

Upacara itu bertajuk apel kesadaran, dan itulah upacara pertamanya sebagai wakil wali kota. Sigit Purnomo, yang kondang disebut Pasha, akan berdiri di mimbar untuk kali pertama sepanjang hidupnya, di depan seribu lima ratus Aparatur Sipil Negara yang memilih dan tak memilih dirinya, dan kini menjadi bawahannya.

Namun, upacara itu tak berlangsung khidmat sebagaimana yang mungkin ia sangka. Penyebabnya, banyak yang tertawa ketika ia naik ke mimbar.

“Apa motif saudara-saudara tertawa saat saya memasuki mimbar upacara?” tanya Sigit dengan nada tinggi sebelum menyampaikan sambutannya. Peserta upacara kontan diam.

Itulah kemarahan Sigit Purnomo yang pertama sebagai pejabat daerah, dan tentu saja itu meninggalkan kesan yang buruk di benak orang-orang. Tak ada yang gembira mendapatkan omelan dari pemimpin terpilih di hari pertamanya muncul ke publik.

“Beliau seharusnya menyadari bahwa status beliau sebagai figur publik masih terus melekat, dan ini adalah kesempatan pertama beliau berhadapan dengan pegawai di pemkot,” ujar seorang ASN senior yang mengikuti upacara. Ia kecewa sebagaimana sebagian besar rekan-rekannya.

Sigit Purnomo bukanlah publik figur pertama yang menjadi pejabat daerah, dan ia bukan pula pejabat daerah terakhir yang memiliki kebiasaan marah-marah.

Zumi Zola, artis muda yang menjabat sebagai gubernur Jambi, beberapa waktu lalu menggelar sidak ke salah satu rumah sakit umum daerah. Ditemani serombongan wartawan, ia blusukan ke sana saat tengah malam dan mendapati beberapa petugas kesehatan terlelap kala jam kerja. Maka, mengamuklah ia.

“Saya sudah mendengar banyak keluhan. Dokter jaga itu setelah jam 12 atau sebelum jam 12 itu sudah tidur. Saya nggak bisa membiarkan seperti ini,” ujarnya di depan tiga orang petugas jaga yang tertunduk dalam. Lampu blitz kamera para juruwarta  menyala tak henti-hentinya, sementara sang gubernur tetap mengomel.

Kinerja buruk aparat sipil memang bisa membuat jengkel siapapun. Pelayanan yang tak manusiawi, keruwetan sistem birokrasi, dan budaya korupsi yang merasuk hingga ke urusan remeh-temeh, membuat beberapa pemimpin daerah sering diberitakan sedang marah-marah.

“Saya lelah harus terus marah-marah,” ujar Ganjar Pranowo, gubernur Jawa Tengah, setelah murka ketika menangkap basah pungutan liar di jembatan timbang yang dilakukan oleh pegawai Dinas Perhubungan. Sebelumnya, ia telah marah-marah di pelbagai kesempatan, dan meski mengaku lelah, itu bukanlah kemarahannya yang terakhir.

Jangan coret nama Tri Rismaharini. Wali Kota Surabaya ini juga kerap marah-marah ketika melihat sesuatu berjalan dengan tak semestinya, dan kemarahannya yang paling ikonik barangkali saat ia mengamuk di acara pembagian es krim gratis yang merusak tanaman di Taman Bungkul, taman yang pernah menyabet titel taman terbaik di Asia pada 2013.

“Taman ini dibangun dengan dana APBD, itu uang rakyat,” sembur Risma kepada panitia acara. “Kalian tidak menghiraukannya, dan sekarang kalian malah menghilangkannya.”

Selain Risma, siapa yang tak kenal Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok? Ketika aktif sebagai gubernur Jakarta, ia amat sering menghiasi media dengan berita perihal kemarahannya. “Kalau marah di sesuatu yang pantas marah, ya wajar. Dewa saja marah,” ujar Ahok.

Ahok benar, tapi tunggu dulu. Dengan kecenderungan meningkatnya kejadian pejabat daerah meluapkan amarahnya, pantaslah pertanyaan ini diajukan: Adakah hubungan antara kemarahan dengan kualitas kepemimpinan?

Marah merupakan sesuatu yang alamiah belaka; ia adalah alarm bagi individu untuk bersikap ofensif ketika sesuatu menyerang dirinya.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Carniege-Mellon University menunjukkan hasil bahwa kemarahan dengan kadar yang tepat akan berdampak positif bagi tubuh. Kemarahan dapat meningkatkan aliran darah ke bagian otak yang terlibat dengan perasaan bahagia, serta memperbaiki kerja jantung dan hormon.

Hanya saja seperti obat, kemarahan yang seharusnya bermanfaat malah berubah menjadi mematikan bila berlebihan. Pelbagai penyakit kronis dipicu oleh kemarahan, sehingga tak usah heran bila ahli kesehatan amat sering menganjurkan kita untuk menjaga emosi.

Tetapi, memang sulit mengendalikan amarah ketika mendapati sesuatu yang salah terjadi di depan mata. Dengan melihat kinerja aparatur negara dan ruwetnya sistem birokrasi, kita bisa memaklumi pemimpin daerah yang ingin bekerja nyata kerap terlihat marah-marah. Belum lagi bila daerah yang ia pimpin merupakan kota besar, yang tentu saja memiliki kompleksitas masalah yang lebih rumit ketimbang daerah pedalaman.

Kota Jakarta, contohnya. Dengan luas wilayah yang kalah jauh dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa, Jakarta memiliki segudang masalah yang jauh lebih besar ketimbang seluruh provinsi di Jawa digabung menjadi satu. Jakarta menduduki peringkat pertama dalam hal kesenjangan sosial, gelandangan, keruwetan birokrasi, dan premanisme. Jangan lupakan pula kemacetan dan banjir yang telah menjadi ikon.

Maka, pendekatan yang biasa diterapkan di daerah lain tak mungkin berhasil di sana. Ketegasan di levelnya yang tertinggi amat dibutuhkan untuk mengurai benang kusut tersebut, mengingat sikap persuasif dan kompromistis yang dilakukan pemimpin-pemimpin sebelumnya tak menuai hasil yang diharapkan.

Dengan kondisi semacam itu, wajar bila Ahok, yang memang bertemperamen gampang meledak, terlihat sering marah-marah. Pada periode awal kepemimpinan Ahok, berita tentang kemarahannya  datang serutin jadwal minum obat.

Hasilnya? Memang sulit disebut memuaskan, tetapi di bawah kepemimpinannya Jakarta mulai berbenah. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jakarta terus naik hingga angka 78,99%, yang berarti ada dampak signifikan dari kebijakan pemerintah Jakarta terhadap masyarakatnya.

Namun, bisakah gaya kepemimpinan ala Ahok dijadikan parameter kualitas kepemimpinan?

“Itu yang saya khawatirkan,” ujar Tri Rismaharini dalam sebuah wawancara. “Reaksi tiap orang dalam menghadapi sebuah masalah pasti berbeda-beda. Lucu rasanya kalau seseorang dianggap sebagai pemimpin yang baik hanya dari emosi apa yang ia tampilkan.”

Risma pantas untuk khawatir. Seseorang tak serta-merta menjadi pemimpin yang berhasil hanya karena ia terlihat sering marah-marah. Bagaimanapun, kemampuan mengendalikan emosi hanyalah satu dari sekian banyak faktor keberhasilan dalam memimpin. Ia tak ubahnya gaya dalam renang – tak masalah gaya macam apa yang dipakai asal sampai ke tujuan.

Masalahnya, penampakan luar seperti itulah yang paling mudah dilihat dan diduplikasi. Dalam sidak atau rapat atau blusukan, pemimpin semacam itu tampak sering meninggikan nada suara, mengintimidasi, dan kerap membanting atau menghancurkan apa pun.

Juruwarta, yang entah bagaimana bisa selalu hadir di situasi seperti itu, segera mengabadikan momen itu dan mencitrakannya sebagai bentuk ketegasan pemimpin. Pembaca mengamini dan menganggap gaya kepemimpinan tersebut sebagai bentuk ideal.

Maka, munculah tren pemimpin pemarah. Tanpa perlu mendalami substansi persoalan, pemimpin yang ingin dilihat sebagai sosok yang tegas dan visioner akan menumpahkan amarahnya di pelbagai kesempatan.

Kemarahan subjektif dan artifisial dari para pemimpin seperti itu tampaknya akan menjadi tren berumur panjang. Harus kita akui bahwa saat ini, dan entah hingga kapan, kita tak memiliki sistem yang benar-benar mumpuni untuk memperoleh pemimpin yang kompeten.

Jakarta bisa dijadikan pengecualian, sebab pilkada di sana selalu menyedot perhatian masyarakat, bahkan yang tinggal ribuan kilometer darinya. Di daerah lain, pemilihan kepala daerahnya meniru peribahasa ‘memilih kucing dalam karung’. Anda disodori beberapa pasang calon yang tak pernah Anda lihat sebelumnya, yang juga tak anda ketahui visinya, kecuali dari jargon yang tertulis di spanduk kampanye.

Pilkada bak perjudian semacam itu lebih banyak memunculkan pemimpin tak kompeten yang lebih menguasai cara menaikkan citra diri dan popularitas ketimbang mengurusi hal-hal teknis yang berhubungan dengan problematika di daerah yang ia pimpin.

Dan, cara termudah agar ia tampak bekerja adalah marah-marah.