Melatih “Skill” Berlari Anggota Dewan dan Menteri

Melatih “Skill” Berlari Anggota Dewan dan Menteri

theodysseyonline.com

Almarhum Teguh Karya pernah membuat film yang judulnya menarik dan puitis banget. Film yang diadaptasi dari novel karya Arswendo Atmowiloto “Kawinnya Juminten” itu berjudul “Pacar Ketinggalan Kereta”. Pada 1989, film “Pacar Ketinggalan Kereta” menggondol hampir semua kategori utama Piala Citra.

Saking legendaris dan puitisnya, entah mengikuti atau tidak, judulnya dipoles oleh beberapa film televisi. Misalnya, “Pacarku Ketinggalan Busway”, “Pacarku Tertinggal di Angkot”, dan sebagainya. Garing sih.

Urusan ketinggalan-ketinggalan kayak begini sebenarnya ada juga di ranah non-fiksi alias dunia nyata. Di Tiongkok, pada Februari 2013, seorang pejabatnya ngamuk-ngamuk di Bandara Changshui, Kunming. Dalam amarahnya, dia membanting telepon dan berbagai perangkat komputer bandara.

Pejabat terhormat anggota Dewan Penasihat Badan Politik Tiongkok bernama Yan Linkun itu ngamuk, karena ketinggalan pesawat. Peristiwa berawal ketika Linkun membeli tiket pesawat. Dia dan istrinya ngeluyur untuk sarapan. Eh, pas panggilan untuk naik ke pesawat, Linkun nggak mendengar. Padahal, dia nggak pikun.

Cerita mirip-mirip juga terjadi di Irak. Pada Maret 2014, seorang anak menteri bernama Mahdi al-Amiri mau terbang dari Beirut, Lebanon ke Baghdad, Irak menggunakan pesawat Middle East Airlines. Namun, ketika pesawat hendak lepas landas, Amiri masih di ruang tunggu bisnis. Ya udah ditinggal.

Lantaran kesal ditinggal, Amiri sampai memerintahkan pesawat Middle East Airlines tadi untuk ditolak mendarat di Baghdad. Benar saja, pesawat itu tak bisa mendarat di Baghdad dan harus rela kembali ke Beirut. Parah.

Di Indonesia juga ada. Kejadian konyol datang dari 18 anggota DPRD Jembrana yang ketinggalan pesawat saat kunjungan kerja di Mataram, NTB, pada Mei 2015. Kejadian ini berawal ketika anggota DPRD Jembrana menunggu seorang anggota dewan lainnya, yang tak kunjung datang untuk berangkat ke bandara.

Ternyata, usut punya usut, temannya lagi sibuk beli tahu goreng untuk bekal di perjalanan. Alhasil, mereka ketinggalan pesawat dan hanya bisa makan tahu. Kalau mereka naik bus AKAP mungkin mereka bisa beli tahu di jalan.

Belakangan ada kehebohan lagi. Kali ini, pelakunya adalah Menteri Pembangunan Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar, yang ngambek ditinggal pesawat saat hendak bertolak ke Yogyakarta.

Ceritanya begini. Pak menteri hendak ke seminar nasional “Peta Desa untuk Percepatan Pembangunan Desa dan Kawasan Pedesaan” di University Club UGM. Pak menteri ngambek, karena harusnya bisa datang tepat waktu, kalau nggak ketinggalan pesawat dan terjebak delay.

Pak menteri yang harusnya datang pukul 09.00 WIB, baru sampai pukul 13.15. Pak menteri seharusnya terbang dari Jakarta ke Yogyakarta pukul 08.05. Tapi, apa mau dikata, belio datang ke Bandara Soekarno-Hatta pukul 08.00.

Lalu, pak menteri bilang kalau dia sebenarnya masih bisa mengejar, karena nggak butuh lima menit buat ke pesawat, tapi nggak dibolehin. Pihak maskapai, yaitu Garuda Indonesia, memberikan jatah penerbangan pukul 10.00. Tapi, jadwalnya mundur satu setengah jam, karena delay. Pak Menteri pun kesal, apalagi sebelum turun pesawatnya masih muter-muter selama setengah jam.

Buntutnya, pak menteri meminta direksi Garuda Indonesia diganti. Direksinya dianggap lemot dan maskapainya merugi melulu. Tak lama, Garuda Indonesia yang milik negara itu, angkat bicara. Menurut juru bicaranya, rombongan pak Menteri sudah ditunggu hingga pukul 08.00 WIB. Tapi, batang hidung mereka tak tampak. Sementara  rakyat biasa sudah menunggu di dalam pesawat.

Kemudian, Garuda memberi fasilitas penerbangan berikutnya. Tapi, lantaran pesawat itu mengalami gangguan teknis di bagian pintu depan, jadi diperbaiki dulu. Garuda akhirnya memutuskan mengganti pesawat, karena perbaikan tadi memakan waktu yang cukup lama. Pesawat pun baru bisa meluncur pada pukul 11.05.

Aduh, pak menteri kok diperlakukan begitu. Dia itu pejabat negara. Harus istimewa. Biarkan penumpang-penumpang yang di kelas ekonomi itu menunggu sampai dia naik. Lagipula, pejabat kan biasa datang telat. Kalau perlu pramugari-pramugari yang semlohay ngalungin bunga ke pak menteri. Itu bagian dari Revolusi Mental. Lho kok?

Revolusi itu kan perubahan cepat dan mendasar, kalau kata teman-teman saya yang lagi galau, karena Belok Kiri Festival dilarang oleh pihak-pihak tertentu. Sedangkan mental kependekan dari menteri feodal. Revolusi mental berarti revolusi menteri feodal. #cocokologi.

Jadi, revolusi mental itu sebenarnya harus dimulai dari perubahan di kabinetnya Jokowi dengan menyingkirkan menteri-menteri berwatak feodal dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Orang-orang feodal memang begitu. Merasa benar karena berkuasa. Selain minta direksi Garuda Indonesia diganti, pak menteri Marwan Jafar juga bilang kalau maskapai penerbangan milik negara itu rugi melulu. Padahal, kalau saya baca, Garuda sudah mencetak laba bersih US$ 51,4 juta hingga kuartal III-2015 atau melonjak 123% dibandingkan periode sama 2014 yang membukukan rugi bersih US$ 220,1 juta.

Mungkin pak Marwan terlalu menghayati jabatannya sebagai menteri yang ada embel-embel “Tertinggal”. Tak hanya tertinggal pesawat, tapi juga tertinggal info terkini alias kurang update kalau kata anak kekinian.

Kalau saya boleh saran, bagaimana kalau pengalaman pak menteri ini dibuatkan film oleh para sineas yang kreatif. Judulnya “Menteri Ketinggalan Pesawat”. Judulnya nggak kalah puitis dari filmnya Teguh Karya “Pacar Ketinggalan Kereta”. Siapa tahu bisa menggondol Piala Citra. Asalkan bapak tidak datang terlambat pada malam penganugerahan.

Pak menteri sebaiknya sering-sering latihan lari. Nggak usah belajar sama atlet lari asal Jamaika, Usain Bolt. Cukup belajar sama kolega bapak separtai saja, namanya Fathan Subchi. Biar tambun, pak Fathan yang anggota DPR itu larinya cepat. Sampai terbirit-birit.

Lihat saja aksinya saat lari meliuk-liuk, menyeberang jalan, melompati pagar tanaman, menerobos jalur Transjakarta, mendaki gunung, lewati lembah. #lebay. Pak Fathan bisa begitu, karena menghindari kepungan awak media, usai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sebelum melancarkan aksi terbirit-biritnya itu, pak Fathan yang anggota dewan terhormat dimintai keterangan terkait kasus suap anggota DPR dalam proyek jalan Trans-Seram di Maluku.

Kalau sudah begini, saya baru sadar. Jangan-jangan anggota DPR yang waktu itu ngotot minta dibuatkan pusat kebugaran (fitness center) di gedung DPR tujuannya untuk melatih ketrampilan (skill) berlari anggota dewan. Kalau terlatih, mungkin pak Fathan bisa menghindari kejaran awak media.

Jika perlu, buatkan juga fitness center di kantor-kantor kementerian agar menteri Marwan tak ketinggalan pesawat lagi. Jangan sampai lari-lari kecil di Istana saat dipilih Jokowi hanya pencitraan belaka. Kalau memang pencitraan, bagaimana negara ini mau berlari mengejar ketertinggalan?