Mulailah Membiasakan Diri Hidup Tanpa Media Sosial

Mulailah Membiasakan Diri Hidup Tanpa Media Sosial

Ilustrasi (stevecutts.com)

Tak terasa, sebelas bulan lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadan, bulan teristimewa yang selalu ditunggu kedatangannya untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

Maka, seperti seorang dimabuk cinta yang berdebar menanti jadwal ngapel, saya mulai mempersiapkan diri sedari sekarang agar mampu beribadah secara maksimal nantinya.

“Cukuplah kamu belajar konsisten dalam berprasangka baik,” nasihat guru ngaji saya. “Amalan kecil akan berdampak besar ketika kamu istiqomah menjalankannya.”

Terharu saya dibuatnya. Beliau tidak meminta saya rajin berderma atau gemar berzikir. Beliau justru menyuruh saya melakukan sesuatu yang selama ini sungguh jarang saya lakukan: berprasangka baik.

Masalahnya, saya hidup di dunia yang brengsek, yang memberi ruang teramat luas bagi tukang tipu untuk bersenang-senang. Ketika teman sebangku di bus menawarkan minuman, bagaimana saya bisa yakin bahwa ia bukan copet bersenjatakan obat bius?

Lalu, ketika seseorang melambaikan tangan untuk meminta tumpangan di jalan sepi, bagaimana saya bisa tahu ia bukan begal? Atau, ketika seorang pria tua mengumbar janji ini-itu di panggung pilkada, bagaimana saya bisa merasa pasti ia bukan tikus?

Itulah yang membuat saya kerap berprasangka buruk pada apa pun, yang harus saya kikis mulai sekarang demi menyambut bulan Ramadan nantinya.

Awalnya ini sungguh berat, tapi semakin lama saya semakin menjadi pribadi yang mampu membuat istri saya menangis tersedu-sedu saking terharunya.

“Kamu banyak berubah, sayang,” ujarnya, dengan air mata berlinang pada suatu senja. “Dulu kamu gampang ngamukan, tapi kini kesabaranmu sekualitas risi.”

Ia agak mengada-ada. Namun, kini memang tak ada sesuatu yang mampu membuat saya marah dan mengumbar kutuk seperti sebelumnya.

Tidak oleh PLN yang kerap memadamkan listrik pada jam kerja, tidak oleh status teman-teman Facebook yang dulu saya juluki begundal digital, bahkan tidak juga oleh pemerintah.

Padahal yang terakhir itu kembali memberi ujian pelik bagi rakyatnya dengan memblokir aplikasi mikroblog Telegram. Kemenkominfo berdalih bahwa Telegram merupakan sarang teroris, radikalis, pemfitnah, sekaligus kaum otak mesum.

“Pemblokiran ini harus dilakukan karena banyak sekali kanal yang ada di layanan tersebut bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images, dan lain-lain,” terang Semuel Abrijani Pangerapan, dirjen Aplikasi dan Informatika Kemenkominfo.

Kontan saja protes mengalir deras. Petisi daring yang berisi kecaman terhadap keputusan pemerintah itu telah dibikin dan ditandatangani oleh belasan ribu orang.

Akun media sosial Kemenkominfo di pelbagai platform juga ramai oleh cacian. Dan, akun-akun perisak pemerintah kegirangan mendapati pupuk baru untuk terus menyemai kebenciannya.

Pemerintah tampaknya tak main-main dengan janjinya untuk memberantas habis aplikasi media sosial. Saat memperkenalkan fatwa MUI mengenai medsos, Menkominfo Rudiantara berkata bahwa dia akan menutup penyedia layanan medsos, bila masih menemukan konten negatif.

“Alhamdulillah rekomendasi dari MUI soal fatwa medsos ini kami jalani. Setelah itu bagaimana jadi rujukan untuk mengelola konten negatif,” sebut Menkominfo. Tak hanya menutup akun, Kominfo juga membuka peluang untuk menutup penyelenggara medsos, seperti Facebook.

Facebook memang masih berkibar, tetapi penutupan Telegram mengindikasikan bahwa Facebook dan yang lain tinggal menunggu giliran.

Dengan 100 juta lebih pengguna aktif Facebook di Indonesia, wacana penutupan medsos berpengguna terbesar di muka bumi ini tak pelak menimbulkan kecemasan. Kecuali saya, tentu saja.

Andai saya belum dinasihati oleh guru ngaji saya, barangkali saat ini status Facebook saya sudah penuh oleh sumpah serapah. Bagaimana mungkin pemerintah mengebiri sendiri sebuah era?

Lalu, prasangka buruk akan menggiring saya untuk melakukan justifikasi pada pemerintah. Dengan semua wacana dan keputusannya, sudah pasti pemerintah tidak paham bahwa dunia saat ini telah memasuki era informasi, sebuah era berfondasikan internet dengan medsos sebagai penggeraknya.

Penutupan media sosial membuktikan bahwa pemerintah masih berpikir bahwa kita hidup pada era digital atau malah era industri, yang di luar sana sudah teramat berjarak hingga seolah tak pernah terjadi.

Pemerintah memaksa kita untuk berjalan mundur sambil berharap kita mengejar ketertinggalan dari negara lain. Kontradiksi ini tak disadari atau barangkali enggan.

Kemudian dengan caps lock menyala, saya akan menulis tentang metode problem solving yang sedari dulu tak kunjung dikuasai pemerintah.

Bila mendapati ada kawanan tikus di lumbung padinya, pemerintah tidak akan membeli racun tikus atau memelihara segerombolan kucing. Pemerintah bakal langsung membakar lumbungnya. Tak masalah padinya ludes dan kelaparan mengancam, yang penting tikusnya mati.

Tapi, itu dulu. Kini sungguh sulit saya berpikir yang buruk-buruk mengenai pemerintah, meskipun mereka terkadang berkelakuan buruk.

Namun, setelah tersenyum dan memuja-muji kebesaran Tuhan, saya mendapati bahwa pemerintah telah melakukan hal yang bijaksana dengan menutup Telegram, bahkan andai tak ada konten negatif apa pun yang ditudingkan.

Sejak penetrasi pesawat telepon yang masif pada era 90-an, popularitas telegram melorot drastis. Jarang terlihat orang-orang menyambangi kantor Telkom untuk duduk di depan operator yang dengan sabar mengetik pesan dengan telegraf.

Saat ponsel merajai industri telekomunikasi, telegram pun meregang nyawa. Nyaris tak ada generasi milenial yang pernah bersinggungan dengan mode komunikasi berbasis kode morse ini.

Maka, kemunculan aplikasi Telegram dipandang pemerintah sebagai hal yang menakutkan, serupa dengan bangkitnya zombie. Kita tidak bisa menyalahkan pemerintah, bagaimanapun mereka yang memiliki kewenangan.

Tak heran, aplikasi Telegram-lah yang dibabat pertama kali. Agar mampu bekerja secara maksimal melayani rakyat, pemerintah memang kudu menghilangkan hal-hal yang membuatnya takut. Dan, zombie telegram adalah salah satunya.

Mengenai wacana penutupan seluruh aplikasi media sosial yang lain, ah, ini dia bukti bahwa pemerintah kita selangkah lebih cerdas ketimbang pemerintah negara lain.

Kita sepertinya sepakat bahwa memaksimalkan potensi adalah kunci untuk menjadi yang nomor satu. Lionel Messi, misalnya, tak akan menjadi pesepakbola tertokcer, bila ia malah menekuni hobinya bermain Play Station.

Lalu, andai Judika cukup puas menjadi pengamen sehingga enggan melatih vokalnya, sosoknya tak akan muncul di segala poster. Dan, bila Pak Jokowi memilih menekuni bisnis mebelnya, sudah barang tentu presiden kita hari ini adalah… Ah, sudahlah.

Dan sebagai bangsa, apa potensi terbaik kita yang perlu diasah? Ya betul, kecakapan mengenang kejayaan masa lampau.

Pemerintah, yang menyadari hal ini sejak lama, segera menyusun langkah-langkah agar kita bisa mengenang masa lalu dengan baik dan benar.

Pembuatan Perppu tentang ormas adalah salah satu contoh mutakhir. Aturan itu tampaknya dibikin untuk mengobati kerinduan orang-orang pada rezim orba.

Penutupan media sosial juga merupakan langkah terjitu pemerintah untuk mengenang masa lalu. Bahkan tak hanya mengenang, kita pun akan mampu merasakan secara empiris bagaimana hidup pada era industri, sebuah era ketika cerobong asap dianggap sebagai simbol kemajuan dan prestise.

Barangkali ketinggalan zaman adalah sesuatu yang mengerikan bagi kebanyakan orang. Tapi lihatlah bagaimana orang-orang juga memakai mentalitas era industri dominant-dominated, meski hidup di zaman internet.

Maka, langkah pemerintah untuk mengembalikan kita ke era industri sungguh luar biasa. Dan harapan saya, tentu saja, pemerintah tak berhenti pada era industri.

Alangkah eloknya bila pemerintah mau memikirkan langkah-langkah yang lebih progresif agar kita mampu merasakan hidup pada era yang jauh lebih purba.

Era kolonialisme, misalnya, agar orang-orang yang mendadak pikun itu kembali ingat bahwa ada harga yang teramat mahal untuk kita mampu mengerek bendera merah-putih tanpa rasa takut.

Atau, syukur-syukur era Kerajaan Majapahit. Soalnya pas lebaran nanti, saya kepingin banget salam-salaman sama Gaj Ahmada.