Medali Emas untuk Bulutangkis, Manufaktur, dan Cerita Lucu di Balik Itu

Medali Emas untuk Bulutangkis, Manufaktur, dan Cerita Lucu di Balik Itu

voaindonesia.com

Rabu malam, 17 Agustus 2016, sebagian besar penggemar olahraga di Tanah Air bergembira, termasuk saya yang ketika itu tengah membaca laporan soal investasi di industri pengolahan (manufaktur) yang juga menggembirakan.

Selesai membaca, mata saya langsung tertuju ke layar televisi yang menyiarkan partai final cabor bulutangkis di Olimpiade Rio, Brasil. Saat itu, pasangan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, sudah unggul pada pertengahan game kedua atas pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Tontowi/Liliyana akhirnya memenangi pertandingan dengan dua set langsung 21-14 dan 21-12, sekaligus menyumbang medali emas pertama untuk Indonesia, tepat pada HUT kemerdekaan Indonesia ke-71. Kegembiraan pun bercampur dengan perasaan haru, apalagi ditambah pekikan komentator di TV yang tampak begitu patriotik.

Namun, sebelum acara yang mengharukan itu, ada cerita lucu beberapa jam sebelum pertandingan final. Peristiwa itu bukan di Rio de Janeiro, tapi di mana lagi kalau bukan di media sosial, wabil khusus netizen di Tanah Air yang sudah terkenal kece-kece.

Jadi sekitar pukul 15.00 WIB, tersebar link berita di FB dari sebuah media online dengan judul yang keren banget: “Selamat! Pebulu Tangkis Ganda Campuran Republik Indonesia Rebut Medali Emas Olimpiade 2016”. Foto yang terpasang juga begitu meyakinkan, pose ekspresi kemenangan Tontowi/Liliyana di lapangan yang bikin merinding.

Seorang teman saya bahkan ikut membagikan link tersebut disertai komen singkat, “Good news. Harus di share.” Sontak, beragam reaksi datang bertubi-tubi. Ada yang bilang, “Ngacooo… ntar malem br tanding (mulai pukul 22.30 WIB).” Lalu ada yang menimpali, “Ya udah sih, optimis aja duluu wkwkwk…” Yang bikin status nggak mau kalah berkomentar, “Laaah itu begimana repnya bikin judul mislead. Yaudahlah biasanya ada harapan supaya termotivasi. Emas, emas, emas, aamiin.”

Terus kalau begini, komentar mana yang benar? Ya nggak ada yang benar, wong cuma baca judul doang, lalu buru-buru share. Belakangan, perilaku ‘baca judul lalu share’ memang lagi ngetren di media sosial. Yang penting share dulu, nggak penting isinya. Bukan begitu? Ya setidaknya hampir 100 ribu orang yang nge-share tautan itu di medsos.

Si media online sebenarnya nggak salah-salah juga, karena kalau baca beritanya tidak mislead. Aslinya, berita itu berjudul “Selamat! Pebulu Tangkis Ganda Campuran Republik Indonesia Berebut Medali Emas Olimpiade 2016”. Isinya soal keberhasilan Tontowi/Liliyana saat mengalahkan pasangan Tiongkok, Zhang Nan/Zhao Yunlei, di partai semifinal.

Bandingkan dengan judul tautan berita tersebut di FB yang bikin heboh: “Selamat! Pebulu Tangkis Ganda Campuran Republik Indonesia Rebut Medali Emas Olimpiade 2016”. Lha, kok bisa beda? Saya kurang paham, karena bukan redaksi media online tersebut. Yang pasti, hanya gegara beda “be” bisa bikin kita tertawa, bukan?

Beruntung, Tontowi/Liliyana benar-benar kejadian meraih medali emas. Esok paginya, teman saya yang bikin status itu membalas komen, “Tuh kan menaaaang… goooold…” Iyalah, diatur syajaaa… Pokoknya yang penting kita bergembira! Anggap saja yang kemarin itu sebuah doa yang diijabah. Ketik amin 3 kali, lalu bagikan… 🙂

Tapi memang kita patut berbangga kepada Tontowi/Liliyana, karena berhasil menggondol medali emas. Ini menjadi sinyal positif untuk membangkitkan kembali prestasi olahraga bulutangkis kita di kancah dunia. Tradisi medali emas sempat terputus di Olimpiade London pada 2012. Ketika itu, Indonesia tak membawa satu medali pun di cabang favorit ini.

Saya pun jadi teringat laporan realisasi investasi di industri manufaktur, yang saya baca sebelum menyaksikan kemenangan Tontowi/Liliyana. Pada 2014, realisasi investasi manufaktur sempat turun sedikit menjadi Rp 199,1 triliun atau berkontribusi 42,9% terhadap total investasi yang masuk ke Indonesia. Namun, pada 2015 berhasil meningkat tajam menjadi Rp 236 triliun atau menyumbang 43,2%.

Sebelumnya, pertumbuhan nilai investasi manufaktur selalu terjaga, sama halnya dengan prestasi pebulutangkis kita sebelum Olimpiade London. Pada 2011, nilai investasi manufaktur mencapai Rp 99,6 triliun atau berkontribusi 39,6%. Pada 2012 meningkat menjadi Rp 158,8 triliun atau menyumbang 49,7%. Pada 2013 naik lagi menjadi Rp 201,1 triliun atau berkontribusi 50,5%.

Yang sangat menggembirakan, pada semester I-2016, investasi manufaktur menembus Rp 180,3 triliun dengan proporsi 60,5% dari total realisasi investasi yang masuk ke negeri ini. Jika dibandingkan semester I-2015 yang sebesar Rp 112,8 triliun, berarti ada kenaikan 59,8% pada semester I-2016. Franky Sibarani, yang ketika itu menjadi kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), terbilang sukses. Semoga prestasi ini bisa diteruskan oleh Thomas Lembong, kepala BKPM saat ini.

Dalam lima tahun terakhir, realisasi nilai investasi langsung di industri manufaktur terus meningkat. Dan, peningkatannya luar biasa dalam dua tahun ini. Sama halnya dengan kemenangan Tontowi/Liliyana yang menjadi sinyal kebangkitan prestasi bulutangkis, peningkatan investasi manufaktur pada era Franky Sibarani juga merupakan sinyal positif di tengah penurunan kontribusi manufaktur terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia selama hampir satu dekade.

Terbukti, pada semester I-2016, industri manufaktur terutama sektor logam dasar terbukti memegang porsi terbesar realisasi investasi. Logam seperti nikel, smelter bauksit, industri baja khusus otomotif, dan bangunan menjadi penopangnya. Logam ini memang tidak semulia emas, tapi kontribusinya terhadap ekonomi sungguh mulia.

Mungkin pembaca mulai mengernyitkan dahi membaca ini, tapi percayalah kita sedang bicara tentang kehidupan yang lebih baik. Pertumbuhan di industri manufaktur adalah kunci penciptaan lapangan kerja, serta percepatan pembangunan dan ekonomi di daerah maupun nasional.

Kebangkitan manufaktur menjadi jalan untuk memerdekakan kita secara ekonomi. Suatu hal yang bisa kita banggakan kepada dunia, seperti halnya medali emas yang diraih pebulutangkis kita di olimpiade. Dirgahayu Indonesia..!