Maung Bukan Meong: Coretan untuk Kang Emil, Bobotoh, dan Indonesia

Maung Bukan Meong: Coretan untuk Kang Emil, Bobotoh, dan Indonesia

Ada yang bilang Walikota Bandung Ridwan Kamil itu malu-malu maung menjadi calon gubernur DKI Jakarta. Tapi setahu saya, yang malu-malu itu meong, bukan maung. Kalau maung itu tanpa basa-basi, gentle.

Coba lihat aksi Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, saat mematahkan opini publik soal sungai di kawasan Epicentrum, Jakarta Selatan, yang tampak bersih dan nyaman.

Proyek itu ternyata digarap firma arsitek Ridwan Kamil dan kawan-kawan untuk PT Bakrieland Development pada 2007 dan beres pada 2010.

Jadi, proyek itu bukan polesan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Bagaimana mungkin? Ahok jadi wakil gubernur DKI pada 2012. Lalu naik kelas jadi gubernur pada 2014!

Aksi Kang Emil yang bikin pahit sahabat Ahok itu terbilang sangat berani, tegas, maung, bukan meong. Padahal, Kang Emil, Ahok, dan Presiden Jokowi habis selfie-selfian saat nonton final Piala Presiden di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.

Tapi ya itulah kenyataannya, termasuk keberhasilan Persib menjuarai Piala Presiden 2015. Rencananya akhir pekan ini akan diadakan parade kemenangan Persib di Bandung.

Parade itu bukan berarti pesta pora sampai lupa daratan, laut, dan udara. Seruan Kang Emil yang menyerukan kepada bobotoh, sebutan pendukung Persib, untuk udunan korban kabut asap di Sumatera dan Kalimantan, patut dipuji. Karena hidup adalah udunan, bukan?

Udunan adalah hal wajib bagi warganya untuk menunjukkan solidaritas konkret terhadap bencana kebakaran hutan yang asapnya awet banget kayak pakai formalin.

Saya yakin, Kang Emil tak sedang main-main, asal seru, asal bacot macam politisi dan selebriti cari sensasi. Seruan beliau untuk udunan bagi korban bencana asap, ia jadikan  syarat utama parade kemenangan Persib.

Sungguh politisi jempolan. Persoalan nasional kabut asap ia beri perhatian sungguh-sungguh. Ia ajak warganya untuk bersolidaritas. Kalau nggak mau, parade kemenangan ‘Maung Bandung’ terancam tak dapat izin darinya.

Inilah kiranya sosok pemimpin masa depan. Bahkan dia rela keluarin duit yang besarannya tak kurang dari setengah M demi mendukung tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat itu.

Jumlah itu sama dengan yang dihabiskan saat Persib menjuarai Liga Indonesia tahun lalu. Jadi sudah berapa ya Kang Emil keluarin duit demi Persib? Ah jangan suka ngitungin rejeki orang.

Kecintaan Kang Emil terhadap Persib patut dimaklumi. Sebagai orang Bandung, dengan darah Sunda yang mengalir murni, aneh rasanya jika beliau tak memiliki jiwa kebobotohan.

Itulah sebabnya rencana kunjungan ke London, entah kapasitasnya sebagai walikota atau pelobi bisnis – bukan hal penting, yang penting Persib juara – beliau rela batalkan demi dampingi Persib berlaga di GBK.

Apalagi kekhawatiran bentrokan antara Viking dan The Jak yang sangat menyita perhatian. Padahal yang main Persib vs Sriwijaya, tapi yang ramai di media malah isu seteru yang melegenda antara suporter Persib dan Persija? Apa karena GBK? Yang jadi identitas Jakarta?

Ridwan Kamil, Ahok, dan Jokowi saat nonton final Piala Presiden 2015 di GBK, Jakarta.
Ridwan Kamil, Ahok, dan Jokowi saat nonton final Piala Presiden 2015 di GBK, Jakarta.

Balik lagi ke Kang Emil dan parade kemenangan Persib, haruskah parade itu batal, jika warga Bandung menolak seruan sang walikota? Sebagai warga Bandung, saya berani mengklaim bahwa yang diserukan Kang Emil adalah sebuah tindakan kemanusiaan yang paripurna.

Tapi Kang, apakah ketika saya tak menyumbang uang demi korban asap, karena lebih memilih menuntut pemerintahan Jokowi untuk bertanggungjawab, masih diperbolehkan ikut parade?

Kang Emil mengklaim bahwa yang dilakukannya juga sesuai aspirasi warga Bandung sendiri. Jangan ada pesta pora ketika sodara-sodari kita di Sumatera dan Kalimantan terpapar asap. Itulah sosok pemimpin masa depan pecinta sepakbola.

Di bawah kepemimpinannya, Persib berhasil menjuarai Liga Indonesia tahun lalu dan Piala Presiden tahun ini. Tak ada pemimpin seperti Kang Emil yang sanggup memberikan kebahagiaan bagi warganya sehebat itu.

Tengok saja Ibu Risma, walikota Surabaya. Meski dirinya dan Kota Surabaya berhasil meraih berbagai award bergengsi tingkat internasional, tim kebanggaannya Persebaya malah terbelah dua. Persebaya vs Persebaya 1927.

Di Jakarta, Ahok yang ketegasannya bikin keder banyak orang, agak bingung urus Persija. Padahal kan Persija juga ingin jadi juara. Tapi sudahlah, semua salah Menpora kok.

Alangkah baiknya jika Kang Emil juga meminta dukungan warganya untuk menekan pemerintah pusat segera menangani kabut asap sesiaga sesaat laga final digelar di GBK.

Kabut asap jangan berlarut-larut, nanti Jokowi nggak akan kuat jadi presiden. Bisa-bisa Kang Emil yang jadi presiden. Tanggung kalau cuma digadang-gadang jadi gubernur Jakarta.

Indonesia butuh pemimpin seperti Kang Emil yang tanggap terhadap persoalan warganya. Tak seperti pembantu presiden, pak menhan, malah serukan bela negara. Bagaimana mau bela negara, kalau pemerintah tidak bisa melindungi warganya dari kepungan asap?

Ngopi aja dulu kang… Hidup Persib! tong hilap bonusna…

Foto: blj.co.id

  • marlina

    Hayu atuh ah kita juga bantu sodara2 yg menjadi korban asap. Selain lewat tulisan, jika belum bisa membantu secara materi, bantu dengan cara yg lain, misalnya dengan tidak mendukung/membeli produk2 yg berkontribusi thd pembakaran hutan (hehe).
    Ai kalo untuk parade kemenangan PERSIB mah saya setuju lah, karena itu sesuatu yg layak mendapatkan perayaan. Toh dengan selebrasi ini tidak berarti kita tidak berempati bukan?

    • hinayana

      hijau damai ceu marlina… yess 😀

  • ilmi girindra

    Ane sih sepakat dua2nya…. udunan kudu, pemerintah jelas wajib bertindak. Sinerhis…