Mati Ketawa Ala Keturunan Tionghoa

Mati Ketawa Ala Keturunan Tionghoa

Di Indonesia yang beragam ini, memanggil warga keturunan Tionghoa dengan sebutan ‘Cina’ masih sensitif banget. Seolah-olah itu ejekan atau hinaan. Tapi, bagi Ernest Prakasa, stand up comedian tersohor yang keturunan Tionghoa, sebutan itu hanyalah sebuah lelucon yang pantas ditertawakan.

Bagi Ernest, terlahir sebagai warga keturunan Tionghoa di Indonesia tak patut disesali, meski kerap di-bully. Ini rupanya yang ingin disampaikan komedian itu lewat film berjudul ‘Ngenest: Kadang Hidup Perlu Ditertawakan’.

Film komedi yang menceritakan pahit manisnya seorang keturunan Tionghoa itu bakal tayang di bioskop pada 30 Desember 2015. Jangan kaget kalau di film ini banyak sekali penyebutan kata ‘Cina’, seperti yang ditampilkan dalam trailer-nya. Tentunya ini disajikan dengan cara yang menghibur dan bikin ketawa.

Film ‘Ngenest’ disutradarai dan diperankan oleh Ernest sendiri. Guyonan-guyonannya tak diragukan lagi sebagai salah satu stand up comedian paling bersinar di negeri ini. Kegetiran hidup yang dialaminya dijadikan sebuah bahan tertawaan.

Sebagai contoh, ketika ia berdialog dengan Meira (Lala Karmela), gadis keturunan Sunda Jawa pujaan hatinya.

“Hallo, ini Meira ya?” kata Ernest. “Ini siapa ya?” jawab Meira. “Ini Ernest,” timpal Ernest penuh harap. “Itu lho ya, yang sipit kan? Maksud gw yang matanya minimalis,” sebut Meira dengan perasaan canggung. Lalu Ernest dengan senyum yang renyah hanya menjawab, “Gue mendingan dihina, daripada dilupain.”

Jadi ceritanya film ‘Ngenest’ yang diproduksi oleh Starvision ini mengisahkan tentang pemuda bernama Ernest, putra dari pasangan suami istri keturunan Tionghoa. Penampilan fisiknya memang identik dengan orang Tionghoa pada umumnya. Kulit putih dan mata sipit.

Sejak hari pertama masuk SD, Ernest langsung di-bully oleh teman-temannya. Begitu juga ketika ia masuk SMP. Ernest sadar bahwa ini adalah nasib yang harus dijalani.

Namun, dia tak mau anaknya kelak mengalami nasib yang serupa dengan dirinya. Ernest kemudian bertekad untuk menikah dengan wanita pribumi, meski ditentang oleh Patrick, sahabat Ernest sejak kecil.

Ketika di bangku kuliah, Ernest berkenalan dengan gadis keturunan Sunda Jawa bernama Meira, yang kebetulan seiman. Namun, ayah Meira tidak suka, kalau putrinya berpacaran dengan orang keturunan Tionghoa.

Pada suatu ketika, Ernest diundang makan di rumah Meira. Di meja makan, ayah Meira bertanya kepada Ernest, “Kamu Cina ya?” Mendengar itu, Meira dan ibunya langsung protes, “Papaaa…!” Lalu dengan entengnya, ayah Meira berkata, “Siapa tahu dia orang Arab, tapi berwajah oriental.” Kontan, ucapan ayah Meira itu bikin Ernest melongo.

Ernest tak ingin menyerah begitu saja. Dengan berbagai cara, Ernest mencoba untuk merebut hati calon mertuanya dan akhirnya perjuangan Ernest tidak sia-sia. Setelah lima tahun berpacaran, mereka akhirnya menikah.

Ketika resepsi, terjadi dialog antara Patrick dan Ernest. Dengan ceplas-ceplos, Patrick yang juga keturunan Tionghoa bilang, “Gue doain semoga anak lu mirip sama nyokapnya. Kalau mirip sama lu juga, sama aja bo’ong. Cina-cina juga.” Omongan Patrick itu bikin Ernest dan istrinya ketawa terpingkal-pingkal.

Mungkin ini pesan yang ingin disampaikan oleh Ernest bahwa warga keturunan Tionghoa tidak perlu marah kalau dipanggil ‘Cina’. Itu kenapa film ‘Ngenest’ mengusung tagline ‘Kadang Hidup Perlu Ditertawakan’.

Tapi Ernest sempat khawatir dengan keturunannya nanti. Ia tak ingin anaknya bernasib sama, di-bully sama teman-temannya di sekolah, kalau fisiknya mirip dengan ayahnya. Ketika Meira hamil besar, Ernest semakin cemas.

Dan, akhirnya Meira melahirkan anak perempuan bermata sipit mirip Ernest. Lalu, apakah Ernest kecewa? Tidak, ia justru sangat bahagia. Kehadiran putrinya memberi banyak kedamaian, yang membawa keberanian untuk menjalani hidup apa pun tantangannya. Terkadang hidup itu memang perlu ditertawakan, bukan?

Foto: youtube.com