Masih Ngarep Jadi PNS?

Masih Ngarep Jadi PNS?

Siapa bilang buruh paling militan? Jangan lupa ada yang namanya tenaga honorer yang sebagian besar guru. Permintaan mereka sederhana. Cuma ingin diangkat jadi pegawai negeri sipil (PNS). Bukan parfum, iPad, apalagi motor sport Kawasaki Ninja 250 cc.

Perjuangan calon abdi negara itu pun tak kalah sama buruh. Menguras waktu dan pikiran, sampai bercucuran keringat dan air mata. Korban perasaan pula. Yang mereka hadapi bukanlah pemilik pabrik, apalagi sekelas pabrik celana dalam, tapi negara dengan segala aparatusnya.

Tapi tak ada yang sia-sia dari sebuah kesabaran revolusioner. Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia, Yuddy Chrisnandi sudah berjanji untuk mengangkat tenaga honorer kategori 2 (K2) menjadi PNS.

Para tenaga honorer akhirnya bisa sumringah, bersorak-sorai bak menyambut kemenangan besar. Bisa jadi banyak honorer yang syukuran sampai potong kambing segala. Mimpi menjadi PNS bakal terwujud!

Hari pun berlalu. Bulan juga berganti. Tepatnya, pada awal November 2015, Menteri Yuddy bilang kalau pemerintah sulit mengangkat para honorer jadi PNS. Keuangan negara sedang cekak. “Anggaran pengangkatan honorer K2 tidak ada. Beban negara sangat besar, apalagi harus membayar gaji PNS yang 4,5 juta orang.”

Duaarrr! OMG pak menteri… Korban perasaan apalagi? Sedih tak berujung, kalau kata Glenn Fredly. Sadis, kalau kata Afgan. Pupus, kalau kata Dewa 19. Berhenti Berharap? #SheilaOn7

Mau jadi abdi negara kok susah banget. Menteri Yuddy jangan latah ikut-ikutan PHP pak, pemberi harapan palsu.

Yuddy Chrisnandi
Yuddy Chrisnandi

Pak menteri, nuwun sewu, jika saya ikut nimbrung mengomentari. Saya bukan honorer, bukan pula yang mewakili mereka. Tapi, pak menteri, saya punya ikatan emosional dengan mereka. Banyak kawan dan kerabat saya hingga kini nasibnya terombang-ambing.

Pak Menteri, jika di-PHP, sakit rasanya. Ini seperti kisah pacaran saya dengan seseorang yang dijalin bertahun-tahun. Namun, tali kasih asmara itu tiba-tiba putus begitu saja di ujung jalan. Padahal, selangkah lagi menuju mahligai.

Layaknya orang yang kasmaran, banyak janji yang diumbar, sehidup, dan semati. Tapi janji tinggalah janji. Janji pacar saya hanya omong kosong. Dia hanya pemberi harapan palsu. Mirip Pak Yuddy bukan? Kalau Pak Yuddy punya pacar – kalau ada – pasti bapak sudah ditinggalin.

Apa yang saya rasa mungkin sama dengan para honorer. Mereka dijanjikan segera jadi PNS, tapi ditarik lagi. Pak Yuddy tampang boleh jazz, tapi hati dangdut. Kau yang mulai, kau yang mengakhiri. Kau yang berjanji, kau yang mengingkari. ‘Kegagalan Cinta’ by Rhoma Irama.

Mungkin Sibuk?

Siapa bilang menteri yang hebat itu cuma Ibu Susi Pudjiastuti atau Pak Rizal Ramli? Bu Susi sebagai Menteri Kelautan, emang yahud, tak kenal takut meledakan kapal pencuri ikan. Pak Rizal juga menteri yang tak diragukan. Menteri yang sangat menggebu, kepret sini, kepret sini.

Tapi, saya kira ada satu menteri lagi yang layak dimasukkan dalam daftar menteri hebat dan trengginas. Siapa dia? Please welcome, everybody… Yuddy Chrisnandi, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia.

Bagaimana tidak hebat dan trengginas, pak Yuddy adalah menteri yang mampu memainkan segala peran. Mantan politisi Partai Golkar ini bisa dikatakan menteri yang penuh dengan semangat kerja.

Bahkan saking semangatnya, pak Yuddy suka bikin kaget koleganya sesama menteri. Karena tiba-tiba saja dia dengan penuh inisiatif mengambil peran menteri lain.

Pak Yuddy layak dinobatkan jadi menteri yang trengginas. Pertama, ketika mencuat kasus Engeline, bocah lucu yang diduga dibunuh oleh ibu angkatnya. Pak Yuddy langsung terbang ke Bali untuk mengunjungi rumah ibu angkatnya Engeline.

Pak Yuddy bahkan sampai mau bertengkar dengan satpam rumah. Si satpam memang kurang ajar. Dia itu menteri paling trengginas, bukan salesman.

Mungkin pak satpam gak pernah nonton TV. Pak Yuddy itu sering wara-wiri di layar kaca. Bahkan selalu nongol di belakang bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla, kalau pak JK lagi diwawancara. Trengginas sekali bukan?

Indikasi kedua kenapa pak Yuddy layak mendapat ‘Menteri Trengginas Award’ adalah ketika dia begitu semangatnya ingin mempromosikan pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia. Bahkan dia siap memasarkannya ke Singapura, Malaysia, dan Brunei.

Mungkin pak Yuddy sangat meresapi amanat Pak Jokowi, bosnya di kabinet, bahwa semua menteri harus jadi ‘marketingnya’ Indonesia.  Namun, lagi-lagi, pertanyaannya apakah promosi pesawat PT DI itu bagian dari upaya reformasi birokrasi?

Yang pasti, pak Yuddy sedikit banyak meringankan beban Menteri Perindustrian Saleh Husin, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Menteri Perdagangan Thomas Lembong. Trengginas banget bukan? Lalu apa kabar nasib tenaga honorer, pak Yuddy?

Foto utama: anthropologistamongthenatives.blogspot.com