Marshanda dan Otoritas Tubuh Perempuan

Marshanda dan Otoritas Tubuh Perempuan

Setiap perempuan berhak atas tubuhnya, begitu kan? Mereka punya otoritas dengan segala lekuknya. Bentuk paling sederhana merayakan otoritas atas tubuh adalah memilih gaya berpakaian, menentukan sikap, dan fashion yang dianut.

Saya bukan pembaca rutin majalah fashion. Tapi setidaknya saya tahu pernah ada pagelaran tahunan di industri fashion Tanah Air bertajuk Indonesia Fashion Week (IFW). Terakhir, hajatan tersebut mengusung tema ‘Reflection of Culture’.

Karena berbicara soal cerminan budaya, peragaan busana muslimah tentu masuk daftar IFW. Lupakan jilboobs, sodara-sodara. Yang mereka tampilkan tetap tertutup nan anggun. Di antara baju-baju cantik, mari perhatikan modelnya. Salah satu aktris di peragaan busana itu adalah Marshanda.

Publik mungkin tahu sebagian drama hidup Marshanda yang dianggap lebay oleh sebagian orang. Tapi toh, dia tetap anggun berlenggak-lenggok di atas catwalk memperagakan busana muslimah karya Zaskia Adya Mecca.

IFW bukan ajang piknik, apalagi bergosip. Tapi kita tahu, di dunia ini, selalu ada orang nyinyir. Apa pertimbangan Zaskia memilih Marshanda mengenakan rancangannya? Pertemanan? Sama-sama artis? Mungkin saja.

Dulu, publik memaklumi video Youtube “untuk temen-temen SD gue, yang musuhin gue”. Lalu, Marshanda pun disambut baik begitu menikah dan berjilbab. Namun, ketika rumah tangga runtuh dan melepas jilbab sepertinya menjadi pilihan Marshanda untuk merayakan hidup. Keputusan melepas jilbab pun sempat menuai kecaman.

Tapi Marshanda cukup pintar memperhitungkan strateginya dalam membentuk image. Meski tidak eksis lagi di dunia persinetronan, dia masih tetap tampil di sejumlah majalah fashion. Saat kembali ‘mengenakan’ jilbab di IFW, bisa jadi pertimbangan mamah muda ini semata-mata adalah pekerjaan.

Sekarang, bisakah publik memisahkan antara profesionalisme dan personalitas? Beruntung, ketika itu, Marshanda tidak menjadi warga negara Malaysia. Sebab, seorang model di sana pernah menuai berbagai kritikan, karena terpilih menjadi satu dari 14 kontestan dalam ajang Asia Next Top Model season 4.

Malaysia memang dikenal sebagai negara yang menerapkan syariat Islam. Sentimen agama di sana cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sementara model bernama Noraini Noor, yang disapa Tuti ini – saya kira keturunan Jawa – bahkan belum apa-apa sudah mendapatkan cacian. Dibuli sana-sini.

Sejumlah netizen Malaysia di Facebook beranggapan, program seperti Asia Next Top Model (AsNTM) tidak cocok dengan pasar negara muslim. Para model perempuan mengenakan pakaian mini dan terkadang bersentuhan dengan model laki-laki.

Saya cukup heran sebetulnya, kenapa ada kritikan keras saat AsNTM sudah berjalan di siklus keempat? Padahal, jawara model di AsNTM siklus kedua, yakni Sheena Lim, merupakan wakil dari Malaysia.

Netizen Malaysia bakan memberi julukan AsNTM sebagai ‘Asia Next Top Neraka’! Ngeri gak tuh? Memang agak serem-serem gitu kalau bawa-bawa akhirat.

Tapi si Tuti sepertinya cukup bijak. Dia pun membalas bulian haters dengan bilang, “Yang membedakan orang itu bukan warna kulit ataupun agama.” Si Tuti tetap melangkah di AsNTM.

Dunia permodelan itu sebetulnya cukup tricky. Jebakannya banyak. Di ajang seperti AsNTM, wajah cantik saja tidak cukup membawa peserta menjadi pemenang.

Make over penampilan pun terkadang bisa terlihat cukup kejam. Rambut panjang mesti rela dipangkas super pendek. Sesi foto bisa menjadi momen uji nyali. Hanya untuk terlihat bagus difoto, model harus pakai bikini di ujung gedung tinggi, bahkan berfoto bersama binatang tarantula.

Tapi untunglah Tyra Banks, mantan model yang merupakan otak di balik America’s Next Top Model, membuat ajang ini bukan sekadar jepretan lensa kamera. Dia memberikan tempat kaum minoritas untuk menunjukkan bakat.

Kaum minoritas yang dimaksud bukan hanya soal warna kulit, tapi sepanjang America’s Next Top Model yang sudah berjalan hingga 22 siklus itu mencatatkan sejarah di dunia kontes model. Setidaknya sejak 2011, ajang ini pernah membolehkan transgender turut bersaing.

Tahun lalu, kontestan Winnie Harlow, yang memiliki kelainan pada kulit atau disebut Vitiligo merombak batasan-batasan soal kecantikan. Di siklus terakhir, Nyle DiMarco membuktikan menjadi tuna rungu bukan halangan menjadi model papan atas.

Apa yang terjadi di Amerika itu sudah membuktikan hasil positif dari dukungan publik terhadap pilihan pribadi individu dengan profesionalisme. Bahwa setiap orang, dalam hal ini perempuan, punya otoritas penuh terhadap tubuhnya.

Maka, rayakanlah!