Lebih Dalam tentang Marlina yang Menampar Kemana-mana

Lebih Dalam tentang Marlina yang Menampar Kemana-mana

cinesurya

Menurut anda, mana di antara empat hal berikut ini yang merupakan perbuatan keji?

Pertama, seorang lelaki memperkosa seorang perempuan, sementara di lokasi ada mayat suaminya.

Kedua, si perempuan memenggal kepala orang yang memperkosanya.

Ketiga, lelaki lain memperkosa perempuan itu lagi di lokasi yang sama. Bedanya saat itu ada dua jenazah, sang suami dan si pemerkosa pertama.

Keempat, seorang perempuan lain membunuh si pemerkosa kedua, juga dengan cara memenggal kepala.

Tentu kita tahu jawabannya bahwa dua perempuan itu sedang membela diri. Empat peristiwa tersebut ditampilkan secara apik dalam film “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak”.

Film yang sudah melanglang di beberapa festival film internasional ini mulai tayang di bioskop Indonesia sejak 16 November. Film ini sukses menjadi semacam kode keras yang menampar ketidakadilan terhadap perempuan dalam budaya yang patriarkis.

Perlawanan Marlina (Marsha Timothy) dimulai saat Markus (Egi Fedly) datang ke rumahnya. Markus ingin menyita ternak milik Marlina sebagai ganti utang yang tak bisa dilunasi oleh suami Marlina.

Ternyata bagi Markus, sepuluh ekor kambing, sepuluh ekor babi, dan tujuh ekor ayam belumlah cukup. Dengan menyeringai licik campur mesum, Markus menyatakan bahwa ia dan enam teman prianya akan menggauli Marlina.

“Kau adalah perempuan paling berbahagia malam ini,” ujar Markus.

Marlina langsung menanggapinya dengan mengatakan bahwa ia justru bakal menjadi perempuan paling malang sedunia.

Markus tak mau kalah dengan berkata, “Ah, kau perempuan, sukanya menjadi korban.”

cinesurya

Lokasi rumah Marlina terletak jauh di atas bukit, jauh dari akses jalan raya. Walaupun sinyal ponsel masih ada, sangat sulit untuk meminta pertolongan. Marlina harus menentukan nasibnya sendiri. Satu-satunya jalan adalah membunuh para pemerkosa.

Setelah itu, Marlina memutuskan untuk pergi ke kantor polisi untuk melaporkan perbuatannya, yang semata-mata dilakukan untuk membela diri. Ia hanya ingin menuntut keadilan karena telah diperkosa.

Para laki-laki itu merasa berhak meniduri Marlina tanpa meminta persetujuan. Mereka bahkan menyatakan bahwa itu seharusnya menjadi keberuntungan bagi Marlina, dengan berkata, “Berapa orang laki-laki yang sudah kau tiduri?”

Namun, setelah menempuh perjalanan berjam-jam, Marlina tidak serta-merta dapat melaporkan peristiwa yang dialaminya. Ia harus menunggu si petugas (seorang lelaki) selesai bermain ping-pong.

Akhirnya, si petugas mau mengetik berita acara. Lewat adegan ini, sutradara Mouly Surya seolah ingin juga menunjukkan bahwa itulah proses birokrasi hukum di negeri ini. Berbelit-belit, lamban, dan menjemukan.

Terlebih, korbannya adalah perempuan. Masih ingat cara penanganan laporan korban pemerkosaan belum lama ini?

cinesurya

Perjuangan Marlina belum selesai sampai di situ. Setelah panjang lebar memaparkan soal perkara yang dialaminya, ternyata polisi tidak bisa segera mengambil tindakan.

Untuk memastikan bahwa Marlina adalah betul-betul mengalami pemerkosaan, maka harus dilakukan visum. Sementara alat untuk melakukan visum belum tersedia dan harus menunggu kiriman dari pusat untuk waktu yang tidak sebentar.

Lagi-lagi, film ini menampar kita bolak-balik. Selain masalah kekerasan seksual dan birokrasi, film ini juga menyindir ketimpangan sosial.

Bukan rahasia lagi bahwa daerah-daerah di luar Pulau Jawa mengalami kesenjangan sosial, ekonomi, pendidikan maupun kesehatan yang begitu lebar.

Film “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” mengambil latar di Pulau Sumba, NTT, provinsi yang berpredikat termiskin ketiga di Indonesia.

Film itu memperlihatkan jalan raya yang tersedia hanya satu ruas. Angkutan yang ada hanya sebuah truk penumpang yang entah sebenarnya layak operasi atau tidak.

Ketimpangan ini patut menjadi perhatian khusus dari pemerintah. Beberapa aksi perlawanan daerah sebenarnya dipicu oleh kecemburuan seperti ini. Saya teringat pengalaman saat berkunjung ke salah satu kota di pesisir pantai Aceh, Lhokseumawe.

Di sana, stasiun berikut gerbong dan lokomotif kereta tampak terbengkalai. Padahal, pemerintah pusat pernah berjanji untuk memperbaiki jalur logistik di daerah tersebut dengan membangun jalur kereta. Namun, sampai saat ini, belum ada kabar kelanjutannya.

cinesurya

Dari ketimpangan daerah, kita balik lagi soal ketimpangan relasi gender. Seolah melengkapi statistik jumlah lelaki brengsek, film ini juga mempertontonkan adegan seorang lelaki bernama Umbu (Indra Birowo) yang memukul istrinya, Novi (Dea Panendra).

Novi yang tengah hamil tua mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hanya gara-gara Umbu merasa cemburu dan menuduh Novi telah berselingkuh.

Sebenarnya tidak semua sosok lelaki yang ditampilkan film ini adalah lelaki pengecut. Ada seorang pemuda yang begitu heroik menyelamatkan ibunya (Rita Matu Mona) dan Novi saat mereka ditahan oleh Franz (Yoga Pratama) dan Niko (Haydar Salishz) yang sedang berusaha mencari Marlina.

Relasi kuasa dalam oposisi biner hubungan laki-laki dan perempuan memang menjadi isu yang sensitif. Adanya ketimpangan relasi gender yang tidak setara membuat kekerasan terhadap perempuan masih kerap terjadi hingga kini.

Film Marlina mengangkat isu tersebut dalam empat babak, yaitu “Perampokan Setengah Jam Lagi”, “Perjalanan Juang Perempuan”, “Pengakuan Dosa”, dan “Tangisan Bayi”. Film ini menyuguhkan isu gender lewat satire yang gelap.

Banyak pihak yang terlibat selama penggarapan film Marlina. Film ini diproduksi atas kerja sama sejumlah sineas di beberapa negara, antara lain Prancis, Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Tampaknya mereka ingin menyampaikan pesan bahwa perempuan memang kerap menjadi korban, namun pada saat tertentu, mereka akan lebih berani melakukan perlawanan. Seperti Marlina…

  • Maria Ulfa

    keren