Manunggaling Axl dan Slash di antara Kita yang Berseteru dan Ber-‘aishiteru’

Manunggaling Axl dan Slash di antara Kita yang Berseteru dan Ber-‘aishiteru’

billboard.com

Buat yang masih betah berseteru, kapan mulai ber-aishiteru? Nggak capek saling hujat, cari-cari kesalahan, nyinyir, dan terus menyulut api asmara kebencian di media sosial?

Jangan berprasangka mesum buruk dulu, aishiteru tentu bukan istilah di film JAV atau anime hentai, tapi kata itu sarat makna yang mendalam tentang cinta dan mencintai.

Jujur saja, kuping saya sebenarnya sudah pekok pekak dengan kebisingan penuh caci-maki tak berkesudahan di medsos. Mau bersandar di pundak mbak Dian Sastro, seperti anjuran Bram Sitompul, ah sudahlah…

Mungkin ada baiknya kita sejenak menonton tayangan video di Youtube, yang menyajikan konser mini Guns N’ Roses (GNR) di Troubadour, Los Angeles, AS. Ini bukan karena saya kebetulan seorang rocker gadungan, tapi konser GNR kali ini sarat makna.

Konser ini menjadi ajang reuni para personelnya, terutama sang vokalis, Axl Rose, dengan Slash sebagai gitaris. Selain mereka, turut tampil Duff McKagan (bass), Dizzy Reed (keyboard), Richard Fortus (gitar), dan Frank Ferrer (drum). Sayang, Izzy Stradlin (gitar) nggak ikutan.

Tapi konser reuni GNR ini tetap tak kehilangan makna. Sebab, Axl Rose dan Slash yang selama ini berseteru akhirnya bisa bergandengan lagi. Dari berseteru ke aishiteru? Boleh-boleh aja kalau ada yang bilang begitu. Toh, ke depan, Axl Rose dan Slash siap tampil satu panggung lagi melalui sejumlah tur.

Padahal, sebelumnya, Axl dan Slash ambegan tidak mau bekerja sama lagi selamanya. Perseteruan mereka mencapai puncaknya pada 1996 dengan keluarnya Slash dari grup musik hard rock legendaris tersebut. Sejak itu, mereka tidak pernah saling menyapa. Apalagi ngebir ngopi bareng.

Sama saja dengan Jokowi atau Ahok lovers dan haters. Beberapa tahun lalu, Axl dan Slash juga sering perang di media sosial maupun media massa. Sampai-sampai Axl pernah bilang kalau Slash itu persis kanker. Tapi, segala kebencian itu sirna di sebuah kelab malam bernama Troubadour di Los Angeles.

Inilah penampilan bersama pertama Axl Rose, Slash, dan Duff McKagan sejak konser mereka di Buenos Aires, Argentina, pada 17 Juli 1993. Entah kebetulan atau di-setting, lagu pertama yang mereka sajikan di konser reunian adalah ‘It’s So Easy’. Yes, it’s so easy. Itu menjadi mudah, meski selama puluhan tahun diselimuti kebencian akut.

Kalau Axl dan Slash yang rocker beneran saja bisa balikan, kenapa kita yang rocker gadungan standar minimal ini tidak bisa, beibh? #Curhat. Mungkin benar kata Candil, mantan vokalis Seurieus, kalau rocker juga manusia. Kalau begitu, alay-alay yang sukanya berseteru di medsos juga manusia? Iya lah… Udahan dulu berantemnya cuy…! Sambil teriak gaya rocker yang suaranya serak-serak cuihhh…

Kalau dalam khazanah permusikan rock and roll, mereka itu mirip-mirip ‘groupie’. Rela melakukan apa saja demi bintang klub sepak bola grup musik rock kesayangan. Kadang tak peduli dengan musiknya, yang penting bisa merasa dekat dengan sang idola.

Begitu juga dengan orang-orang yang berprofesi hobi berseteru di medsos. Kadang di hati kecil mengakui kalau idolanya salah, tapi tetep aja ngeles. Cari pembelaan sana-sini. Saya nggak bilang itu menyedihkan. Awalnya asyik juga buat guyonan, tapi lama kelamaan garing juga. Mempertontonkan kebebalan yang lestari.

Sekarang ini, perseteruan antara para ‘groupie’ nggak jauh-jauh. Itu-itu saja. Kalau nggak soal pencitraan kebijakan Jokowi, ya soal Ahok dan pilkada DKI Jakarta yang panas betul sampai-sampai menjalar dari RS Sumber Waras, lalu sempat mampir ke Kalijodo, dan berlabuh di Pantai Utara Jakarta.

Saya sebenarnya gatal ingin ikut berkomentar di medsos soal Ahok, tapi saya orang Padang. Tahu diri sedikit lah. Apalagi baca tulisannya Ariesadhar berjudul “Bukan Warga Jakarta Kok Berisik?” Pikirin aja dulu daerah masing-masing, terutama yang ikut pilkada serentak pada 2017 bareng Jakarta. Ada benarnya juga, meski tulisan itu dikritik halus sama Gege Sureggae dengan artikel tandingannya “Semua Karena Cinta, Dek… (Ketika Orang Kampung Berpikir Metro)“.

Om Gege sepertinya mau menegaskan kalau Jakarta itu Ibukota Negara. Setiap warga negara, termasuk orang kampung di pelosok sekalipun, berhak cerewet kalau soal gubernur Jakarta. Warga di daerah ingin Jakarta yang katanya barometer nasional dan miniatur Indonesia itu dipimpin oleh orang yang tepat.

Menurut saya sih, perdebatan mereka asyik-asyik saja, karena masih bersifat konstruktif. Yang parah kalau sudah saling caci-maki membabi buta seperti yang terjadi di medsos sampai hari ini. Jadi ‘groupie’ kok bangga? Sejak kapan caci-maki bagian dari kritisisme? Nasibmu Immanuel Kant… Apa kabar ‘Kritik der Reinen Vernunft’, ‘Kritik der Praktischen Vernunft’, dan ‘Kritik der Urteilskraft’?

Katanya kita memegang teguh semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Tapi kok kenyataannya malah jadi Ika Tunggal Bhinneka? Satu yang dibeda-bedain. Eh? Jangan marah dulu, santai. Saya nggak bermaksud memplesetkan moto tersebut. Maap kalau ada yang tersinggung. Sudah cukup neng cantik nan semlohay itu saja dijadikan ‘Dokter Klinik’? Saya nggak mampu. Ngomong-ngomong, numpang nanya, “Si neng buka ‘klinik’ di mana ya?” Gagal fokes…

Balik lagi ke yang tadi. Yang mana? Yang soal cuci muka caci maki. Jadi begini, mungkin kita sudah biasa hidup layaknya mie instan. Rendam, aduk, santap – tetap berusaha fokes – sehingga banyak orang yang tak sabar dengan yang namanya proses. Kalau nggak sabaran, yang ada memang anti-klimaks. Pola pikir kita dipaksa cepat-cepat orgasme.

Andai saja haters dan lovers mau sepanggung dan bicara tentang ‘Al Muttahidah’ ala Agnez Mo, pasti hidup kita simpel dan indah, sesimpel dan seindah penampilan seadanya Agnez Mo ketika menemani pacarnya main basket. Co cuitt… Saya pun sudi beli tiket VVIP! Sebuah kebahagiaan bisa nonton konser haters dan lovers dengan pandangan obyektif, rasional, dan konstruktif. Termasuk kamu yang sudah berhari-hari ngambek, gengsi nggak mau duluan bicara atau menghubungi. #SiapaYa?

Termasuk juga mamah muda dan papah keren yang suka berseteru gara-gara rebutan remot TV, berjibaku antara nonton bola atau sinetron impor dari Turki. Mamah, papah, daripada berseteru mending ber-aishiteru. Cucok? Lalu bagaimana dengan nasib para jomblo? Sudah sendiri, terpinggirkan pula. Nah, buat para jomblo yang sehat maupun sekarat, cobalah untuk tidak berseteru dengan diri sendiri. Kalau mau ber-aishiteru bagaimana? Ya sudah nasibmu, mblo…

Tapi pada prinsipnya ketenangan dan ketentraman di dalam kehidupan sosial diawali dari diri sendiri. Dan, di dalam tubuh kita, pasti bersemayam roh persatuan ala ‘Axl dan Slash’. Biarkan semangat itu memanunggal , sepanggung, dan saling mengisi. It’s so easy