Mantan, Warkop DKI, Orba: Gagal “Move On” Paling Paripurna

Mantan, Warkop DKI, Orba: Gagal “Move On” Paling Paripurna

@Dokpri

Mantan. Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata itu? Masa terindah? Masa tertindas? Masalah buat lo? Di era digital ini kita sering sekali – bahkan sangat mudah – menemukan jokes atau candaan di internet yang temanya berhubungan dengan asmara, terutama tentang sosok mantan.

Dalam pembahasan kali ini, mari kita persempit konteksnya menjadi ‘mantan pacar’ atau ‘mantan kekasih hati’. Bukan mantan majikan, mantan supir, apalagi mantan ‘peliharaan’.

Mantan sering digambarkan sebagai sosok bidadari indah, yang sayangnya, sosoknya tak dapat menemani diri kita hingga akhir hayat. Terlebih lagi, hal yang paling menyiksa adalah terkadang sangat sulit bagi kita untuk melupakan sosok indahnya dan segala memori menyenangkan bersamanya pada masa lalu.

Kemudian, mantan juga suka digambarkan sebagai sosok monster pembawa derita yang amat sangat ingin kita hapus semua memori tentangnya. Namun, sialnya, bayang-bayang dirinya dan semua memori buruk tentangnya terus terngiang di dalam pikiran kita. Fenomena-fenomena seperti ini kalau kata anak muda kekinian disebut sebagai “gagal move on”.

Apakah kalian termasuk ke dalam barisan yang “gagal move on” itu? Percaya atau tidak, sebagian besar dari kita semua yang pernah menjalin sebuah hubungan asmara pasti tidak ada yang benar-benar dapat 100% melupakan mantan. Tidak percaya?

Coba saja tanya kepada ayah kalian, “Ayah, dulu ayah pacaran berapa kali? Ngapain aja?” Tanpa sadar biasanya sang ayah biasanya akan menceritakan banyak hal kepada sang anak dengan antusias, lalu dilanjutkan dengan munculnya suara misterius dari dalam dapur, seperti suara “BRAAAKK”, “PRAANGG”, dan “BUG”. Padahal, di dapur ibu kalian (katanya) hanya sedang mengiris bawang.

Ya, itulah mantan. Segala memori baik suka maupun duka pasti akan selalu terkenang. Semakin keras kita mencoba untuk melupakan, maka akan semakin sering ia muncul dalam pikiran.

Namun, jika bicara soal kata “move on”, maka tentunya tidak selalu berkaitan dengan kisah masa lalu dari dua pasang insan yang pernah menjalin cinta dan berehem-ehem. Memori-memori lain dalam hidup kita, terlebih lagi jika memori tersebut merupakan memori yang menyenangkan, maka kita akan sulit “move on” darinya.

Salah satu dari memori menyenangkan itu dapat berasal dari idola kita. Warung Kopi Dono Kasino Indro (Warkop DKI) adalah grup lawak legendaris dan bersejarah di Indonesia yang film-filmnya sangat sering membuat kita tertawa terpingkal-pingkal. Tertawa adalah bagian menyenangkan dalam hidup. Jadi, sensasi menonton film-film Warkop DKI hingga tertawa terpingkal-pingkal adalah memori yang sangat menyenangkan dalam hidup.

Warkop DKI dan film-filmnya sangat membekas di hati para penggemarnya. Bagi mereka yang lahir pada rentang tahun 50-an hingga 90-an pasti amat sering menjumpai film-film Warkop dalam suasana Lebaran atau hari-hari libur lainnya. Hal itu pula yang mendorong kemunculan pelawak-pelawak dan film-film komedi baru, tidak mampu menghalangi mereka untuk menyebut atau melupakan nama “Warkop” jika ditanya siapa pelawak favorit mereka.

Fenomena tersebut cukup wajar, karena sampai saat ini tampaknya masih belum ada lagi film-film komedi Indonesia yang benar-benar dapat membekas di hati para penontonnya. Kita ambil contoh film-film Raditya Dika. Pria yang juga sukses menjadi stand up comedian ini hampir selalu mengadaptasikan semua karya novelnya ke dalam film, walau ada juga beberapa judul yang benar-benar dibuat tidak berdasarkan cerita dalam novel.

Sebagian dari film itu bisa dibilang berhasil, sebagian kurang. Kalaupun berhasil, masyarakat – setidaknya saya pribadi – akan tetap lebih memilih untuk menunggu buku novel dan stand up show terbarunya dibandingkan filmnya.

Yang kedua, kita bicara soal film komedi yang sempat hangat diperbincangkan, yaitu “Comic 8”. Film yang juga ‘digawangi’ oleh pakde Indro, yang merupakan salah satu personel Warkop DKI ini, sempat meraih banyak respon positif pada seri pertama. Seri kedua, yang bertajuk “Comic 8: Casino Kings Part 1” juga masih mendapat banyak tanggapan positif, bahkan banyak yang menanti-nantikan part 2-nya.

Namun, nyatanya, banyak pihak yang tidak puas dengan “Comic 8: Casino Kings Part 2”. Hans Davidian, dalam judul tulisannya, bahkan mengatakan bahwa “Comic 8: Casino Kings Part 2” adalah sebuah “Kegaringan Paripurna”.

Setelah dipikir-pikir lagi, memang sisi komedi dari “Comic 8: Casino Kings Part 2” kurang dimaksimalkan. Mereka terlalu fokus memaksimalkan sisi action, fighting, dan bombing. Walau begitu, saya tetap enjoy-enjoy saja selama menonton filmnya. Kenapa? Ya, karena saya juga sangat menikmati adegan-adegan fighting dalam filmnya yang memang sengaja digarap dengan amat serius itu.

Kalau kalian bertanya apa scene favorit saya, maka saya tak kan ragu menjawab bahwa scene favorit adalah scene Hannah Al Rasyid bertarung satu lawan satu melawan Prisia Nasution sambil basah-basahan yang juga hampir membuat saya basah. Ya, bukan scene komedi.

Berbeda dengan film-film Warkop DKI, dimana pada masanya teknologi perfilman Indonesia belum secanggih sekarang, sehingga tidak ada eksperimen ‘aneh-aneh’ untuk menghasilkan sebuah komedi. Jadi, semua difokuskan kepada kekuatan akting, skenario, dialog, dan lain sebagainya. Adapun hal-hal lain, seperti halnya kemunculan perempuan-perempuan seksi berpakaian minim di dalam film hanyalah sekadar pemanis. Walau tak jarang juga menjadi ‘target’ komedi.

Hal-hal tersebut menjadi ciri khas yang kuat dari Warkop DKI. Ciri khas yang kuat itulah yang membuat kita gagal “move on” sampai-sampai Falcon Pictures, yang juga menggawangi film Comic 8, sedang menyiapkan film terbarunya, yaitu “Warkop DKI Reborn”. Kenapa? Kenapa harus menjual nama Warkop?

Di samping nanti filmnya akan sukses ataupun tidak, ini dapat menjadi sebuah tanda bahwa kita masih belum dapat “move on” dari Warkop. Pro dan kontra jelas muncul ke permukaan, karena peran Dono, Kasino, dan Indro akan diperankan oleh aktor lain. Bagi saya, Dono adalah Wahyu Sardono, Kasino adalah Kasino Hadiwibowo, dan Indro adalah Indrojoyo Kusumonegoro. Titik.

Jika bicara Warkop, maka kita bicara soal fenomena gagal “move on” dalam dunia hiburan. Jika bicara sosok mantan, maka kita bicara soal fenomena gagal “move on” di kehidupan sosial. Lalu, bagaimana dengan dunia politik? Pada tanggal 21 Mei, 18 tahun yang lalu, terjadi peristiwa yang kita kenal sebagai peristiwa “reformasi”.

Hari itu adalah hari terakhir Soeharto menjadi presiden. Sebuah rezim bernama Orde Baru (Orba) yang telah berkuasa selama 32 tahun harus berakhir seiring pengunduran dirinya. Banyak kenangan yang membekas di benak rakyat Indonesia semasa beliau menjabat, baik itu kenangan buruk ataupun baik.

Pada era sekarang ini, masih banyak orang-orang Indonesia yang ‘merindukan’ sosok sang mantan presiden yang telah mendiang itu. Gambar-gambar wajah sang ‘jenderal senyum’ tersebut masih sering kita temui di dinding-dinding, kaos-kaos, ataupun di belakang truk-truk di jalan raya. Biasanya gambar itu dihiasi dengan tulisan, “Piye kabare le, masih penak jamanku toh?”

Kenapa gambar-gambar dan kalimat tersebut masih sering muncul? Apakah mereka kelompok orang-orang gagal “move on”? Kita tidak benar-benar tahu, bisa jadi hanya orang-orang yang hanya sekedar mendengar cerita ‘manisnya’ saja, karena memang tak dapat dipungkiri bahwa sampai sekarang masih banyak orang yang berkata, “Ah, enakan zaman Soeharto, soalnya dulu bla bla bla.”

Tetapi di sisi lain, banyak juga orang yang berkata, ”Ih, zaman Soeharto mah gak enak soalnya kan bla bla bla.” Tak jarang, orang-orang yang rindu atau ogah kembali ke zaman Soeharto adalah orang yang sama. Loh, kok bisa? Begitulah.

Di satu sisi, kau ingin kembali bersamanya, karena kau berpikir ‘orang’ yang sekarang tidak sebaik yang dulu. Namun, di sisi lain, kau juga merasa jijik, jika mengingat hal-hal buruk yang telah diperbuatnya, bila dibandingkan dengan perilaku buruk dari ‘dia’ yang sekarang. Hal ini hanya akan membuat kita menghabiskan waktu untuk sekadar mengeluh dan lupa bahwa hidup harus terus berjalan ke depan.

Sama halnya dengan sosok mantan, Warkop DKI yang dulu kita lihat di film-film sudah ‘tidak ada lagi’. Maksud saya, Warkop yang benar-benar berisikan Dono, Kasino, dan Indro. Mas Dono dan mas Kasino sudah ‘berpulang’. Soeharto yang (setengah) dirindukan itu juga telah tiada.

Kalau begitu, lalu dimanakah letak perbedaan antara terlalu banyak memandangi foto mantan, menonton film lama Warkop, dan menghabiskan waktu mengenang Soeharto? Saya sendiri belum menemukan perbedaannya. Yang jelas, bagi saya, salah satu di antaranya adalah hal yang menyenangkan. Sisanya? “Ah, nyang bener aja lu, Kas!”