Terjebak di Dalam Grup Mamah-mamah Muda

Terjebak di Dalam Grup Mamah-mamah Muda

Ilustrasi (Nikolay Osmachko via Pexels)

Beberapa notifikasi di handphone muncul, beruntun, dan membuat notifikasi yang justru lebih penting lainnya tertimbun. Saya tak bilang notifikasi dari grup chat yang berisikan mamah-mamah muda itu tak penting, tapi memang kenyataannya isi dari percakapan mereka tak lagi menarik seperti saat bergabung di awal.

Ceritanya, awal 2018, dengan dada membusung dan penuh percaya diri, saya memutuskan untuk bergabung dalam grup ‘Mahmud’. Grup yang terdiri dari kawan-kawan perempuan saat kuliah di jurusan Arsitek dulu.

Namanya juga mamah muda, jelas anggotanya adalah mereka yang sudah punya anak, sedang hamil, bahkan yang berencana hamil.

Sesuai kesepakatan saya dan suami, setelah menikah kami takkan menunda-nunda memiliki momongan. Mau diberi sekarang ya Alhamdulillah, mau dikasih nanti ya tetep mintanya sekarang aja deh.

Yah namanya juga berusaha tampil seideal pemikiran mayoritas orang di Indonesia tercinta ini, nikmat mayoritas mana lagi yang sanggup kau dustakan, eh?

Pertama kali bergabung ke dalam grup ‘Mahmud’, respons anggotanya begitu hangat. Sebagai manten anyar dan belum hamil, saya didoakan mereka agar cepat diberi jabang bayi.

Senangnya dalam hati sekaligus bisa berfantasi, jika memiliki bayi perempuan, rambut tipisnya akan dikuncir dengan pita warna-warni dan wajah bulatnya ditaburi bedak setebal lembar skripsi.

Sungguh, ketika itu muncul perasaan bahagia dan bersyukur dapat berkumpul secara virtual dengan para mamah muda sekaligus mengikuti perkembangan anak-anak mereka.

Beberapa bulan berjalan, anggota grup juga bertambah. Kawan-kawan yang baru saja menikah mulai merapat. Satu demi satu, anggota yang baru saja masuk mengabarkan bahwa ada garis dua pada alat tes kehamilan.

Hari terus berganti, uban di kepala Pak Ganjar Pranowo pun kian bertambah, dan saya masih belum hamil. Namun, interaksi anggota di grup ‘Mahmud’ terus bergemuruh.

Di situ, timbul perasaan bagaimana rasanya menjadi minoritas. Ya setidaknya minoritas dalam hal opini. Grup ini seakan menjadi semacam ‘perlombaan’ dulu-duluan hamil atau adu lucu sang anak agar naik kelas ke level mayoritas.

Dan, seperti yang sudah-sudah terjadi di negeri ini bahwa suara mayoritas atau setidaknya yang paling keras dibanding yang lain, seolah menjadi standar prestasi.

Dalam ilmu sosial, kontrasepsi, eh kontradiksi itulah yang menjadi salah satu pemicu kecemburuan sosial. Sama halnya di grup chat, saya dan mungkin mamah-mamah muda lainnya yang belum juga hamil, merasakan itu.

Kalau dianalogikan barangkali seperti perasaan Prabowo melihat elektabilitas Jokowi yang masih tinggi jelang pilpres. Rasanya… yah gak tahulah, tanya sendiri aja sama Om Prabs!

Intinya, grup chat mamah-mamah muda itu semakin tidak menarik. Mungkin begitu juga kali ya, perasaan kaum minoritas di suatu negara yang lebih ‘mendengar’ suara mayoritas. Bahwa bernegara menjadi tidak menarik lagi.

Langkah pertama adalah mengatur mode mute. Obrolan yang masuk tak pernah dibaca. Sesekali dibaca hanya sekadar mengurangi jumlah notifikasi tanpa perlu tahu isi percakapannya.

Saya cuma tak mau menginjeksi isi kepala ini dengan hal-hal yang bahkan tak bisa ditanggapi. Semisal, pembahasan mengenai menu-menu Makanan Pendukung ASI alias MPASI dan snack-snack impor khusus bayi yang aman dikonsumsi anak.

Terus, kalau saya nimbrung dan sharing tentang merek snack favorit saya sendiri, gimana? Terdengar sangat egois nan arogan, bukan? Minoritas kok arogan, kebalik kalee…

Atau, saat para ‘Mahmud’ sedang bertukar kisah suami-suami siaga kala mereka sedang hamil. Ada yang dielus perutnya sebelum tidur hingga ada yang dibelikan makanan oleh suaminya di tengah malam saat mereka sedang puncak-puncaknya ngidam!

Terus, kalau saya bercanda bilang kisah itu hanya fiksi atau fiktif belaka, gimana?

Hingga pada suatu waktu, di sebuah resepsi pernikahan kawan, salah seorang teman mengajak ngobrol saat posisi gigi ini sedang menggigit sate dari tusuknya. Awalnya, obrolan kami biasa saja, menanyakan kabar dan kerjaan.

Tapi kemudian, ia menanyakan keberadaan saya di grup ‘Mahmud’. Kebetulan, ia juga anggota grup dan belum ada tanda-tanda kehamilan. Di situ, saya baru sadar bahwa orang lain juga merasakan hal yang sama.

Merasa ada yang senasib, harusnya kami bisa konsolidasi saling curhat. Tapi barangkali sifat sok bijaksana saya tak dapat ditutup-tutupi, aihh… Saat itu, saya hanya tersenyum maniz dan mengatakan padanya untuk tak terlalu memikirkannya.

Yah, ambil sisi positifnya saja dari cerita-cerita mereka, anggap saja nambah-nambah wawasan sebelum benar-benar hamil dan melahirkan kelak.

Memang sih, terjebak di dalam grup ‘Mahmud’ sangat dilematis. Kehendak manusia dan rencana Tuhan belum tentu bersambut. Tapi di dalam hati, jika diizinkan, saya memilih untuk keluar sementara dari grup, sambil sedikit menitipkan pesan…

“Maaf teman-teman, saya keluar dulu dari grup ini. Nanti kalau ada sesuatu yang lain selain mie ayam, tahu telor, dan mendoan di dalam perut saya, dan sesuatu itu jauh lebih hidup dan bisa menendang-nendang, bolehlah saya bergabung kembali di grup ini ya. Terima kasih.