Ngaku Penggemar Bu Susi, tapi Disuruh Makan Ikan saja Susah

Ngaku Penggemar Bu Susi, tapi Disuruh Makan Ikan saja Susah

Ilustrasi (ceritaperut.com)

Pernah baca penelitian Boris Worm, profesor di Dalhousie University, Kanada, soal ikan? Penelitian itu sempat menggegerkan dunia. Sebab, pada tahun 2048, diperkirakan tak ada lagi ikan di lautan.

Saya sempat syok membacanya, lalu melongo. Serasa gonjang-ganjing jos gandos dunia dibuatnya. Bayangkan, kita nyemplung ke lautan biru nan jernih, lalu tiba-tiba suasana hening. Semua ikan menghilang.

BBC bahkan pernah menuliskan, “Kita bisa saja menjadi generasi terakhir yang akan mengambil makanan dari lautan, jika tidak melakukan perhitungan yang tepat.”

Sekadar info, dunia ini sekitar 70%-nya adalah lautan, sisanya 30% merupakan daratan. Di Indonesia sendiri, 2/3 wilayahnya atau sekitar 66,7% adalah lautan, sedangkan daratan hanya 1/3 atau 33,3%. Lantas, bagaimana mungkin lautan seluas itu bisa kehabisan ikan?

Di sebuah negara kepulauan seperti Indonesia, jelas sangat bergantung pada lautan, termasuk ketersediaan ikan. Untuk bisa terus memakan ikan, pertama-tama suplai ikan harus dipastikan tetap ada. Tapi, anehnya, tatkala persediaan terjamin atau bahkan berlimpah, konsumsi ikan di negara ini masih tergolong rendah.

Tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia baru mencapai 41,1 kg per kapita per tahun pada 2015. Yah, meski katanya terus meningkat setiap tahun, tapi masih kalah dengan Malaysia yang mencapai 70 kg per kapita per tahun. Apalagi dibandingkan dengan Jepang yang sudah lebih dari 100 kg per kapita per tahun.

Pantas saja Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sampai geregetan mengimbau supaya orang Indonesia mau makan ikan. “Kalau tidak saya tenggelamkan!” ujarnya dengan nada sedikit guyon. Sontak, itu menjadi viral di media sosial. Ikan seolah menjadi artis yang diekspos oleh akun gosip Lambe Turah.

Semua orang akhirnya berlomba-lomba menanggapi Bu Susi. Cara komunikasi massa yang brilian, yang sepertinya tidak diajarkan di kampus-kampus. Cara komunikasi yang juga efektif, ketika saat ini banyak orang yang suka marah-marah dalam memaksakan kehendak.

Tapi, menurut saya, tak perlulah mengaku fans atau penggemar berat Bu Susi, kalau disuruh makan ikan saja susah. Terus ada yang nanya, “Ngapain juga harus banyak makan ikan? Makanan sehat yang lain juga banyak?”

Sebenarnya manfaat positif dari makan ikan bukan hal yang baru. Minimal, kita pernah dengar cerita tentang betapa orang-orang Jepang menjadi lebih pintar karena mengonsumsi ikan setiap hari. Apa benar begitu?

Supaya nggak dibilang hoax, ikan sudah terbukti sebagai sumber protein hewani, yang rendah lemak dan mengandung vitamin D dan B2. Kandungan gizi yang terkandung dalam ikan sangat baik bagi otak dan jantung, seperti asam amino esensial dan omega-3.

Dua jenis omega-3, EPA dan DHA yang terdapat hampir di seluruh jenis ikan mampu menjaga kesehatan otak, memperkecil kemungkinan terkena alzheimer, dementia, dan diabetes.

Soal kesehatan otak, bisa jadi penyebab kekisruhan netizen saat ini karena jarang makan ikan. Kehilangan nalar dan kewarasan berpikir. Mungkin kebanyakan makan otak sapi kalee…

Selain menjaga kesehatan otak, ikan juga mengandung banyak mineral seperti zat besi, iodium, magnesium, dan potasium. Efek dari memakan ikan seminggu dua kali dapat menjaga tekanan darah dan memperkecil risiko terkena serangan jantung dan stroke.

Makanan yang didaulat sebagai salah satu makanan tersehat ini memang juara. Bayangkan aja, selain menjaga kesehatan otak (penting!), ikan juga mampu memperkecil kemungkinan terserang depresi. Banyak-banyak makan ikan biar happy. Cocok nih buat yang lagi patah hati. Sebab, pertunangan Raisa itu fana, kebahagiaan abadi.

Tapi ada satu yang perlu kita pahami soal keberadaan ikan di laut. Ini bukan melulu hanya tentang ikan, tapi keseimbangan dari ekosistem dan segala organisme yang ada di dasar sana. Lautan kita ini sedang sekarat!

Karang-karang yang menjadi rumah ikan sedang mengalami musibah besar karena pemanasan global. Tahun lalu, sekitar 90% karang di great barrier reef yang menjadi salah satu kebanggaan Australia mengalami bleaching. Tahu nggak bleaching? Cara memutihkan kulit? Jarang makan ikan kayaknya.

Begini ilustrasinya. Bayangkan kulit yang terkelupas akibat terpapar banyaknya sinar matahari. Nah, karang yang ter-bleaching akan memutih dan mati. Semacam ketumpahan cairan pemutih pakaian, mati perlahan-lahan. Lalu bagaimana nasib ikan tanpa karang? Tergusur rumahnya dan menjadi fakir miskin yang tidak dipelihara oleh negara. Hmmm… Hmmm…

Lalu apa lagi yang bisa membuat hidup ikan merana selain pemanasan global dan penangkapan yang serampangan? Ya sampah-sampah kita yang terbuang ke laut. Maka dari itu, gerakan makan ikan adalah bentuk kepedulian terakhir kita. Tak cuma dengan ikan, tapi lingkungan, ekosistem, dan hajat hidup orang banyak.

Indonesia sendiri sedang menggiatkan ‘Ekonomi Biru’ sebagai keprihatinan dan harapan yang coba diracik untuk mempertahankan lautan. Perekonomian maritim yang ramah lingkungan untuk memastikan keberlanjutan hasil alam.

Tentunya kita bisa merasakan manfaat dari lautan dan menjadi masyarakat yang melek sumber daya dan tentunya lebih cerdas. Agar terhindar dari bahaya kebodohan laten. Plus, terhindar dari kemungkinan ditenggelamkan oleh Bu Susi. Kalau tenggelam di lautan asmara sih nggak apa-apa, eh?