Maka Tertawalah Nietzsche di Alam Baka

Maka Tertawalah Nietzsche di Alam Baka

philosophyforchange.wordpress.com

Kita bayangkan saja orang-orang yang sudah mati sedang menyaksikan apa yang sekarang terjadi di bumi. Bayangkan, mereka menontonnya seperti para penggemar film yang duduk nyaman di dalam gedung bioskop. Tentunya dengan popcorn dan minuman bersoda.

Kita bayangkan juga bahwa di antara bejibun penonton itu tampak seorang filsuf Jerman yang terkenal. Setidaknya bagi para penggemar filsafat. Dialah Friedrich Nietzsche. Dengan kumisnya yang unik itu, mungkin Nietzsche sedang tertawa-tawa menonton apa yang terjadi di bumi.

Andaikata saya adalah Nietzsche, saya pun akan tertawa begitu indahnya. Bagaimana tidak? Filsuf yang juga ahli ilmu filologi cum penyair cum komposer itu pasti bahagia. Sebab, pemikiran yang disuguhkannya semasa hidup akhirnya semakin lama semakin terbukti.

Padahal, ketika itu, betapa dia sering tertekan karena merasa sebagai filsuf gagal. Dia pun merasa tak dapat pengakuan dibanding filsuf lain. Ujung-ujungnya karena kecewa, pada tahun-tahun terakhir dalam kehidupannya, dia dianggap menderita kelainan jiwa. Hingga kemudian mati.

Mungkin sekarang penderitaan itu bagi Nietzsche telah tertebus. Dia mungkin telah merasa sebagai filsuf sukses, walau cuma bisa menikmati dari alam baka. Nietzsche pernah menawarkan pemikiran tentang keinginan manusia untuk berkuasa. Itu berlaku untuk semua manusia, apapun kondisinya dan seberapa pun umurnya.

Bahkan anak kecil, menurut dia, mewujudkan keinginan berkuasanya dengan menangis. Lalu mereka merasa keinginan berkuasa mereka terpenuhi saat para orang dewasa terganggu dengan tangisan dan rengekan itu.

Lalu, para pengemis juga kadang berhasil memuaskan keinginan berkuasa mereka. Caranya dengan menjajah para orang kaya dengan rasa iba dan simpati. Mereka merasa berhasil berkuasa, jika telah membuat orang lain tak nyaman karena merasa iba dan kasihan.

Sekarang, bagaimana Nietzsche tak bahagia? Bagaimana beliau tidak terpingkal-pingkal di bioskop alam baka sana, ketika menyaksikan sekian banyaknya pertunjukan manusia yang bernafsu ingin memuaskan syahwat berkuasa?

Tak usahlah kita ambil skala dunia. Di Indonesia saja sudah menghampar. Terbaru adalah Munaslub Partai Golkar di Bali. Saya pikir bakal ada perubahan signifikan, setidaknya pada wajah kepengurusan, meski sebenarnya nggak baru-baru banget. Tapi faktanya: lo lagi lo lagi. LoL.

Lagi-lagi, trio Aburizal Bakrie, Setya Novanto, dan Idrus Marham. Cuma beda kemasan saja, isi tetap sama. Sekarang ini, Bakrie jadi ketua dewan pembina, Setya Novanto jadi ketua umum, Idrus Marham tetap saja jadi sekretaris jenderal.

Ini artinya apa? Oh tidak, saya nggak bilang kalau mereka punya nafsu besar tenaga kurang untuk tetap berkuasa. Mungkin di sini lah kepohonberinginan Partai Golkar. Walaupun digoyang dumang, digoyang itik, dicor, dibor, pohon beringin tetap kokoh. Saking kokohnya, orangnya itu lagi, itu lagi.

Tapi, kalau saya pikir-pikir lagi, papa Setya Novanto sangat cocok jadi ketum Golkar. Sebab, dialah sang kuncen pohon beringin. Lha, bagaimana tidak? Saat pembukaan Munaslub, papa Setnov yang lagi berdiri sempat tertidur goyang seperti pohon beringin dihantam angin puting. Tapi, ya itu, papa sakti mandraguna. Dengan sekali membuka mata, dia kembali tegar berdiri. Sambil tersenyum. Hehe… Hebat kan?

Selain Golkar, ada satu lagi peristiwa yang bisa bikin Nietzsche tertawa sekeras-kerasnya di alam baka. Misalnya, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) versus Saut Situmorang. HMI dan korps alumninya marah besar, karena perkataan Saut, yang wakil ketua KPK, dianggap menghina mereka.

HMI merasa harga dirinya terusik, meski pak Saut sudah minta maaf. Tapi HMI itu organisasi besar dan punya kuasa. Maka berunjuk rasa lah para intelektual muda tersebut di depan Gedung KPK, Jakarta. Sebagai orang intelek, pasti mereka paham bahwa zaman sekarang itu eranya adu otak, bukan otot. Apalagi adu pedang.

Tapi kenapa pula demonya jadi vandalis (bukan anarkis)? Begini kakanda, adinda… Gedung KPK dibangun pakai uang rakyat. Mengalir lewat pajak ke kas negara. Nanti kalau rusak, uang kita juga yang dipakai, mending pake duit Gayus.

Aksi serupa sebenarnya juga sudah banyak terjadi di negeri ini. Saya tahu aksi ini dilandasi niat baik. Para pendemonya pun orang-orang cerdas tumpuan masa depan. Namun, terkadang ada keinginan untuk memenuhi hasrat berkuasa. Mereka merasa berhasil berkuasa, jika bisa berbuat semaunya tanpa mengindahkan aturan.

Cukuplah kita membuat Nietzsche tertawa terbahak-bahak di dunia yang lain. Biarlah dia cari tontonan lain. Mungkin beliau bisa nonton film AADC 2? Captain Amerika? Oh, belum tayang di bioskop sana ya om? Bagaimana kalau nonton sinetron paling laris di negeri ini. Anak jahanam jalanan? Uttaran? Saya jamin om pasti akan tertawa lebih keras lagi. Semoga bahagia di alam sana, om Nietzs! Kirim salam untuk paman Karl Marx. Jangan lupa bahagia!