Panduan untuk Mahasiswa agar Tak Sekadar Jadi Buruh IPK

Panduan untuk Mahasiswa agar Tak Sekadar Jadi Buruh IPK

Ilustrasi (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)

Alhamdulillah eaaa… ospek sudah berlalu. Celamat bagi yang lolos seleksi perguruan tinggi negeri paling bonafid menurut lansiran Good News From Indonesia. Waktunya kamu pamer almamater tercinta.

Kamu bisa menyunting profil Facebook di kolom education dan bio Instagram dengan tambahan asal daerah strip lokasi perantauan. Misal Brebes-YK, Magelang-Solo, Purwodadi-Malang, dan lain-lain kayak trayek bus antar kota antar provinsi itu, lho. Gokil.

Kalian yang terpaksa mengalah subsidi pendidikan dari APBN, gak usah mewek berlarut-larut. Legowolah dalam menuntut ilmu di manapun kampusnya, karena berapapun biaya semesterannya, Insya Allah pintu rezeki terbuka bagi mereka yang tulus dan gigih dalam mencari jodoh ilmu.

Lagipula, yang terpenting dari kuliah itu bukan almamaternya, tapi lingkungan berproses saat nanti mengarungi belantika kehidupan kampus. Dan plis, jangan dulu nggagas soal cepet lulus cum laude.

Karena jika ya, kamu bakal terasing dari ruang sosial yang maha luas, lantaran sibuk jadi buruh IPK alias indeks presensi kumulatif. Indeks kehadiran, maksudnya.

Untuk itu, ketahuilah hai para mahasiswa baru, setidaknya ada tiga tahap menuju pencapaian jati diri mahasiswa. Kini, perkenankan saya mengurai tahapan itu dengan meminjam konsep cabang-cabang filsafat ilmu.

Setahun pertama kuliah adalah tahap ontologis. Kamu meraba-raba apa itu hakikat menjadi mahasiswa. Namanya hakikat berarti proses mengenal jati diri. Tak cukup semata-mata tahu digit NIM berapa dan kuliah di fakultas apa.

Maka, mulailah kamu menjelajah teks-teks ideologis dari yang filsafati hingga sastrawi. Mulailah mengagumi sosok leluhur kita seperti Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, siswa kedokteran STOVIA yang kena DO itu.

Dan, supaya tidak terlena dalam eskapisme ide, secara beriringan kamu juga perlu membaca realitas sosial di sekitar. Hal ini memberi pijakan yang kian radic, membuatmu kelak diberkati dengan predikat radikal. Ntap!

Setahun kedua, kamu menginjak tahapan epistemologi. Tahap mengenali bagaimana cara untuk mengejawantah hakikat menjadi mahasiswa.

Mulailah kamu berselebrasi di lapangan dengan ikut-ikut konsolidasi dan terlibat politik jalanan, berpropaganda melalui pers kampus, dinding kantin, hingga dinding Facebook.

Jika ada yang nyinyir ‘Hari gini ngedate aja via Tinder, situ masih demo? Plis deh, gak nyelesein masalah, malah bikin macet’, ketahuilah bahwa demonstrasi bukan ibarat puyer sakit kepala yang langsung meredakan nyeri.

Ia serupa ritual ideologis dalam internalisasi idealisme. Bagaimanapun mahasiswa kinyis-kinyis butuh sensasi revolusionerrr…

Pada semester pertama mungkin kamu bakal jadi massa aksi yang ditugasi sebagai juru yel-yel atau memegangi poster. Semester berikutnya baru setingkat lebih maju sebagai orator. Semester depan bisa sebagai kordum atau negosiator, nyangkem lawan aparat keamanan.

Tentu urusan ngorasi dan nyangkem ini bukan asal ngasu-ngasukne aparat, tapi mesti diimbangi informasi yang lugas dan rasional mengenai apa yang menjadi tuntutan. Di situlah hasil kajian kritis di forum konsolidasi dipaparkan.

Tahap berikutnya adalah tahap aksiologis. Tahap merenungi mengapa sebagai mahasiswa harus bertindak demikian?

Saat itulah, kamu menyadari bahwa nginthilin selebrasi aktivisme yang riuh adalah metode untuk mengasah nalar kritis yang kelak membuatmu benar-benar paham akan nilai apa yang sebenarnya diperjuangkan. Kamu paham di kelas mana mesti berpihak.

Jadi, manakala organ gerakan mahasiswa yang kamu ikuti ndilalah kok organ tua yang mengidap pragmatisme politik akibat pelembagaan yang mapan, kamu nggak bakal melu gontok-gontokan demi posisi di internal organisasi ataupun di level KNPI.

Akhirnya… Pada tahap ini, ketika landasan ontologi, epistemologi, dan aksiologi telah kamu rengkuh erat-erat, sadarlah kamu bahwa ujug-ujug sudah masuk tahun keempat kuliah. Lantas kamu bergegas mengejar ketertinggalan SKS teori saat rata-rata temanmu sudah pesan kebaya wisuda.

Kamu tahu, gak selamanya progresivitas ditandai dengan klepas-klepus di warung kopi. Maka, mulailah menyusun rencana strategis untuk melanjutkan perjuangan. Memutuskan berada di jalur akademisi, politisi, sastrawan, penulis, seniman, atau lainnya.

Apapun itu, kamu mesti waspada kalau-kalau idealisme yang lekat laksana tengkorak dan kulit kepala itu bisa jadi laksana ketombe di kulit kepala pada kemudian hari. Bisa terkikis seiring gesekan realitas kehidupan jahiliyah.

Peduli amat sama lambe-lambe turah yang begitu peduli dengan masa studimu tapi tidak dengan biaya kuliahmu. Di dalam pikiranmu telah terpatri filosofi merebus kentang. Bunyinya: “Kuliah ibarat merebus kentang. Kalau hanya sebentar, dijamin kurang matang. Kurang matang secara mental maupun gagasan.”

Bukankah cendekiawan-cendekiawan negeri yang gagasannya dikutip-kutip itu pun konon menempuh masa studi kesarjanaan yang panjang? Nah, tahapan-tahapan di atas sebenarnya seturut dengan konsep tingkatan manusia Ali Syari’ati.

Tingkat pertama adalah ilmuwan, si keranjingan ilmu yang masih buta realitas sosial. Kedua, intelektual, berilmu, dan mampu mendayagunakannya untuk masyarakat.

Beranjak setingkat lagi, jadilah seorang ideolog, mereka yang bergerak memobilisasi dan mengorganisir massa rakyat demi capaian perubahan. Tingkatan terakhir adalah ulama’, sosok yang telah melampaui tiga tingkatan manusia sebelumnya. Kira-kira MUI masuk kriteria ini gak?

Tapi wan-kawan, tentu menjadi bagian dari para pelaku tarekat di atas bukanlah hal yang niscaya. Tradisi ospek tentu bukan wasilah menuju jati diri kemahasiswaan. Ospek tak lebih dari kegiatan memperdalam rasa bangga terhadap almamater yang menguras tenaga dan uang saku yang pas-pasan.

Di banyak kampus, para tukang ospek itu tak seberwibawa yang kalian saksikan di panggung sandiwara ospek. Pada hari-hari perkuliahan aktif, mereka hanya pasrah tertunduk pada kebijakan kenaikan UKT.

Sebagaimana peribahasa every cloud has a silver lining bahwa di balik tukang ospek ada kakak-kakak yang masih memegang teguh sumpah mahasiswanya. Meskipun sudah lebih dari lima kali ikut menyambut tahun ajaran baru, mereka masih saja dengan genitnya bergerilya di kantin dan spot-spot tongkrongan demi mendapat perhatianmu.

Apa yang ada di benak mereka adalah kalian maba belia dari generasi Z begitu penuh potensi, namun berisiko memperpanjang barisan perbudakan.

Kalian generasi Z mengalami tumbuh kembang seiring dengan inovasi Samsung Galaxy dan aplikasi selfie. Lebih canggih dalam teknologi, lebih fasih mengenal tren budaya pop global.

Budaya pop ini tentu bukan hanya seputar tren budaya kolonial, tapi juga tren beragama secara skriptual. Keduanya sama sebagai sebuah tren. Paling bahaya jika keduanya bersintesis. Jadinya, sandang, pangan, papan berstandar kolonial, sementara nalar relijies tetep skriptual.

Belum lagi, jika sebagian besar dari kalian adalah turunan kelompok floating mass kreasi Orba, mengalami amnesia sosial terhadap sejarah bangsa yang lebih akut akibat putusnya manuskrip sejarah yang utuh ke dalam buku-buku teks sekolah.

Sementara sajian bacaan masa puber terbatas pada ragam chiklit, teenlit, dan metropop. Tak heran, jika kemudian Tere Liye jadi junjungan.

Kakak-kakak progresif itu begitu cemas kelak adik-adiknya tumbuh jadi mahasiswa yang akan menjalani aktivisme paling-progresifnya berupa kluyuran di Prapatan Bangjo sambil nenteng-nenteng kardus. Atau, buka lapak fund rising dengan sajian panggung koplo ala DJ.

Sementara laku paling nasionalisnya berupa ganti foto profil dengan selfie nyengir disertai “Saya Indonesia, Saya Pancasila” saat pemerintah sedang menyiapkan Perppu Ormas yang mengancam kebebasan berpikir dan berserikat, dengan dalih anti-Pancasila.

Akan tiba masanya Ahmad Dhani jadi presiden RI andai sebagian besar dari kalian mbuntuti barisan tadi. Maka, pada gelaran pekan ospek ceria, kakak-kakak menyusun strategi terjun lapangan guna menjaring benih-benih yang nantinnya disemai di lahan perkaderan ideologi mereka.

Tapi, kamu begitu sulit di-PDKT-in. Kamu sudah cukup puas sama gebetan baru dan ospek yang diakhiri dengan baris-berbaris menyusun formasi lambang almamater kampus.

Kebanggaanmu terhadap simbol almamater makin membuncah, memecah belah kesatuan mahasiswa setanah air beta. Awas, divide et impera gaya baru!

  • Wawan Agusti

    Referensi bagus untuk mahasiswa indonesia.

  • Rahmat Hidayat

    Mantap mbak… pembangkit semangat bagi para mahasiswa neh 🙂