Ngobrol Bareng @MafiaWasit, dari Pengalaman Lucu Hingga Curhat

Ngobrol Bareng @MafiaWasit, dari Pengalaman Lucu Hingga Curhat

Ilustrasi (australiadecides.com.au)

Football without fans is nothing, tapi tanpa wasit, pertandingan sepak bola takkan bisa terlaksana. Dalam sepak bola, pekerjaan wasit kerap dipandang sebelah mata. Pelabelan UEFALona atau UEFADrid, serta teori konspirasi tentang mafia wasit.

Wasit dianggap mudah disogok. Belum lagi sejumlah kisah di negeri kita, di mana wasit bisa menjadi sasaran suporter. Misalnya, dilempari botol. Atau bahkan, mendapat kekerasan secara fisik.

Padahal, seperti profesi lainnya, wasit adalah profesi yang memiliki kode etik tersendiri.

Justru penggemar sepak bola yang tak teredukasi ini sepatutnya mempelajari tentang aturan dalam sepak bola. Nah, di tengah kesibukannya, kami berkesempatan untuk bertanya kepada akun kondang di jagat maya: @MafiaWasit.

Cekidot!

Akun @MafiaWasit ini dikelola sendiri atau banyak orang? Betulan ada yang berprofesi sebagai wasit?

Untuk personal banyak, tetapi setiap tweet keluar dari satu pintu. Wasit aktif cuma 2, sedangkan pensiunan dan Match Commissioner ada 4. Sisanya adalah wartawan dan salah satu pengurus TPL.

Kenapa namanya harus @MafiaWasit?

Sebenarnya dulu bikin akun ini untuk edukasi suporter terutama mengenai Laws of The Game atau regulasi mengenai aturan-aturan di sepak bola yang jarang orang umum tahu.

Orang atau suporter selalu teriak Mafia Wasit jika ada off side atau timnya kena penalti. Padahal, belum tentu mereka tahu apa fungsi garis setengah lingkaran di kotak penalti.

Itulah yang jadi keresahan kami selama ini untuk gimana caranya #WargaNet bisa melek terhadap Laws of The Game sebelum menghujat wasit.

Terus, apa sudah banyak suporter yang teredukasi?

Banyak, misalnya yang terakhir ketika Viking atau Persib fans yang belum lama ini mendemo pengurus Persib karena mereka tahu bahwa selama ini banyak regulasi yang dilanggar oleh klub idola mereka.

Kalau dulu kan jarang fans bola peduli mengenai regulasi, yang mereka tahu hanyalah mendukung dan akan menghujat siapapun yang menjelekkan klub idolanya. Kini sudah banyak kelompok suporter yang justru ikut mengkritik kebijakan klub terutama mengenai pelanggaran regulasi.

Sebelum era 2013, bahkan suporter atau #WargaNet gak ngerti apa itu fungsi EXCO PSSI, berapa jumlahnya, tugasnya apa. Kini mereka mulai ngerti, sehingga jika ada pelanggaran bisa langsung tembak nama kepada komite masing-masing.

Tunggu sebentar… saya penasaran kenapa @MafiaWasit kalau nge-tweet sering ada huruf yang di-caps. Misalnya, ngetik Malaysia jadi mALAYsia atau sudah jadi SUDah, langsung jadi langSUng. Itu maksudnya apa?

Typo dan Auto Correct dari iPhone X saja itu. 🙂

Oh baiklah. Lanjut, haha… Oh ya, jadwal kan padat nih. Gimana bagi waktunya antara ngadmin dan kesibukan lain, katakanlah seperti ngewasit?

Kebetulan saya sudah pensiun dan sekarang bertugas di pemda sebagai PNS. Tahu sendiri kan kerjaan kami apa? Paling juga ada undangan ketemu kawan-kawan klub dan pengurus PSSI untuk diskusi.

Ada pengalaman paling lucu selama ngadmin akun ini?

Banyak, kayak waktu dilaporkan oleh kawan saya sendiri ke Polisi. Saya di samping dia, ketika dia ngomongin akun sinting ini.

Banyak juga kawan-kawan pengurus klub yang minta dibantu dalam hal pengelolaan klub baik marketing maupun sisi public relations dan lain-lain.

Bahkan banyak yang minta dibantu menyuarakan unek-unek mereka ke Ketua PSSI. Secara mereka gak berani langsung melalui diri sendiri.

Ada juga banyak yang tanya kursus pelatih, sampai minta dicarikan klub untuk magang ke luar negeri. Tetapi yang sangat lucu, banyak yang DM konsultasi mengenai skripsi. Ada yang sudah lulus malahan, ngasih pulsa 10 juta. Hadehhhh…

Kalo gitu akun ini banyakan penggemar atau haters-nya?

Dulu banyak (haters), tapi makin kesini tinggal 2. Itupun yang satu 80% sudah pada balik dukung.

Ada nggak pengalaman yang paling tidak enak selama ini?

Bisa lihat di sini untuk dukungan waktu dilaporkan https://twitter.com/indosupporter/status/839079846265282562. Saat dilaporkan ketika itu, justru banyak suporter yang klubnya selalu jadi objek kritikan akun ini malah mendukung akun sinting ini. Kan bangke.

Terus, kalau di lapangan hijau, bagaimana pandangan teman-teman wasit, terutama soal kekerasan fisik yang menimpa wasit?

Gua rasa kekerasan terhadap wasit di Indonesia juga andil dari para wasit lokal selama ini. Wasit di luar juga banyak yang butut, tetapi mereka tegas. Salah itu wajar, yang penting tegas.

Seorang Collina pun sering salah, tetapi beliau jika sudah putuskan A ya A. Gak akan bisa berubah. “Lu pegang gua, maka lu gua kartu. Sesalah apapun gua.” Itu yang seharusnya dilakukan kawan-kawan.

Kalau di sini pemain berani nendang atau intimidasi wasit karena mereka percaya dengan cara begitu keputusan wasit yang A bisa berubah jadi B, meskipun tuh wasit bener. Sudah pernah lihat Piala LG sekitar tahun 2000-an? Itu kalau gak salah kayak Liga Champions versi klub Asean.

Saat itu, Persita dan Petro kalau gak salah jadi wakil Indonesia. Ketika wasit asing ditimpuk botol mineral, mereka langsung ke tengah, dan bilang ke Match Commissioner untuk menghentikan pertandingan. Emang regulasinya begitu, dan dia menerapkannya.

Kalau wasit kita, dilempar bahkan dipukulin di lapangan pun akan tetap lanjutkan pertandingan, sehingga suporter maupun pemain gak akan dapat pelajaran mengenai regulasi. Dan, itu akan terus diulang jadi kebiasaan, bahkan sudah jadi budaya.

Jadi, selain mental, apa lagi modal utama menjadi wasit?

Soal syarat jadi wasit gua kira kursus selama ini di Indonesia sudah sangat baik, bahkan mental wasit Indonesia jauh lebih kuat dibanding wasit asing. Gua rasa PSSI justru harus lebih banyak mengirim para wasit muda untuk magang atau bahkan hanya sekadar study tour ke liga di luar negeri.

Ketika gua ke Arsenal, Milan, atau ke federasi lain, banyak kok wasit-wasit muda yang jadi LO dengan status volunteer. Mereka bisa mengetahui dengan dekat gimana persiapan wasit Liga Champions, apa saja yang dilakukan saat terjadi di lapangan, dan lain-lain.

Punya wasit idola?

Ahmad Tuharea. Salah satu wasit Indonesia yang mentalnya sangat kuat, gak akan kabur oleh badai maupun topan, jika beliau sudah bilang A ya A. Urusan salah benar itu belakangan.

Oke, balik lagi soal akun @MafiaWasit. Kan sering tuh akun ini dibilang tweet berbayar untuk beberapa tweet. Itu beneran, apa perasaan #WargaNet saja?

Jika gua bilang beneran, nanti Jeng Sri nagih pajek. 🙂

Terakhir, kenapa sih ogah dibilang tua? Sampai di bio ditulis “yang ngatain admin tua akan diblok permanen”?

Karena emang masih muda. Setahu gua stereotip di Indonesia itu jika mendengar kata tua langsung terbayang kakek-kakek yang jalan saja harus digendong.

Baiklah pak kalau begitu, terima kasih atas waktunya…

Panggil dek saja, gua yakin lu lebih tua dibanding gua.

Kayaknya gak deh, umur gue baru 22.

Oh, tua setahun dibanding gua, haha…

Demikian kiranya obrolan ini, sampai ketemu dengan narasumber unik lainnya, hanya di Voxpop