Maap Bang, Neng Udah Nggak Perawan

Maap Bang, Neng Udah Nggak Perawan

helloflo.com

Abang yang Neng cintai sepenuh jiwa raga…

Tak lama lagi Neng wisuda. Senangnyaaa… Setelah susah payah 7 tahun kuliah di kampus paling top, akhirnya lulus! Siapa sangka, Neng yang culun dan pemalu ini bisa lulus S2 Matematika. Sekolah yang tinggi, seperti cita-cita Ibu Kartini.

Terima kasih tak terhingga buat Abang yang selalu mendukung secara moril dan materil, dari nemenin minjam buku dan tukang fotokopi jam 2 pagi sampai bantu cari insinyur buat bikinin wave tank simulasi tsunami.

Terima kasih juga sudah menunggu sekian lama, padahal keluarga Abang sudah lama mendesak kita segera menikah. Ah, menikah…

Sebagai perempuan, Neng tentu terharu ketika Abang melamar pada dua bulan lalu. Di tengah kampus pula. Neng masih ingat, waktu itu Abang minta ditonton duel wall climbing lawan mas Ahmad, temanku yang juara bertahan.

Abang ngundang semua teman Neng dan Hima Pecinta Alam. Awalnya, anak-anak Mapala ngeledekin Abang yang dikira songong. Mentang-mentang cepak dan sixpack pula.

Pas Abang keteteran, mereka bersorak. Neng sempat malu. Apalagi pas di puncak, Abang seperti mau ngajak berantem si Ahmad. Tapi, tiba-tiba, Abang ngambil sesuatu dari belakang dinding. Kami menjerit-jerit, karena Abang kayak mau mukul pakai popor. Eh… Meluncurlah baliho. “Dinda Icha… Maukah kamu jadi istriku?”

Seketika semua mengalihkan pandangan ke Neng, dan bertepuk tangan. Teman-teman memeluk Neng yang masih bengong. Ah, Abang… November ini kita menikah, ya? Neng tentu bahagia.

Tapi… ada sesuatu yang mengganjal. Minggu depan, Neng harus tes. Tes yang bagi Neng lebih mengerikan daripada sidang tesis. Tes keperawanan.

Neng seumur hidup selalu belajar dengan tekun, baik di sekolah maupun sekitar sumur dan dapur. Tapi memang nggak ada yang mengajari soal kasur. Ibu sedikit pun nggak pernah menyinggung.

Neng kadang penasaran, sembunyi-sembunyi baca majalah dewasa. Neng kan udah lewat umur 25, udah merasakan getaran dalam relung. Itu sesuatu yang normal bagi siapa saja.

Idealnya, soal kasur pun harus ada kelas dan sesi diskusinya. Bercinta itu nggak gampang lho, Bang! Bercinta yang baik dan benar, ya. Bukan hanya asal hamil.

Neng lihat bapak dan ibu kayaknya udah jarang bercinta. Kadang Neng menangkap kode bapak merayu ibu waktu ibu lagi cuci piring atau baca buku di teras, tapi ibu terlihat enggan. Kalau bapak jago soal kasur, Neng yakin ibu akan selalu semangat.

Lha, bercinta itu kan meluapkan rasa sayang, rindu, juga gairah pada orang yang kita cintai. Membahagiakan dan dibahagiakan. Esensi yang nggak ada dalam hubungan transaksional. Indah sekali kan, Bang?

Tapi materi ilmu bercinta masih dianggap nggak sopan, jorok, tabu, memalukan, dan disangkal. Padahal, hampir semua orang suka dan butuh. Jadi semua sembunyi-sembunyi cari info dari sumber-sumber yang seringkali menyesatkan.

Itu majalah dewasa yang Neng baca juga punya ibu. Neng lihat, ibu suka pura-pura nggak sengaja simpan sembarangan supaya dibaca bapak. Ternyata nggak berhasil membantu. Ya gimana, kita nggak boleh belajar dulu, tahu-tahu harus mahir pas ujian jadi pengantin baru.

Kalau fantasi kita disesatkan artikel, tips, dan video yang hiperbolik, jangan heran kalau banyak yang cepat kecewa dan mahligai pernikahan gampang goyah. Untuk memuaskan perempuan kan nggak sesederhana asal perkasa, ukuran, dan durasi. Itu bayangan Neng sih.

Balik lagi ke tes keperawanan. Masalahnya adalah… Neng dari kecil senang olahraga. Balet, aerobik, maraton 17an, long march Bandung Lautan Api, berenang, naik sepeda, panjat dinding di kampus. Beberapa kali jatuh dan luka-lukanya lumayan. Gimana kalau ternyata selaput dara Neng udah sobek?

Katanya juga ada perempuan yang lahir tanpa selaput dara. Ada pula yang sangat lemah sampai sobek karena menstruasi. Ya, walaupun tes keperawanannya masih untung nggak se-absurd di India. Disuruh tahan nafas dalam air selama satu orang penguji jalan 100 langkah. Kalau nggak kuat nafas, berarti nggak perawan.

Atau yang lebih parah, disuruh jalan sambil pegang besi panas hanya dengan tatakan selembar daun. Kalau tangannya luka bakar, berarti nggak perawan.

Oh ya, Neng harus ngaku dosa di sini. Dua tahun lalu setelah kenal Abang, Neng mulai merasakan getaran. Pernah nyoba sendiri. Nggak ada enak-enaknya sama sekali! Ah, Neng ceroboh. Nggak ingat bakal ada tes keperawanan buat jadi calon istri Abang. Lupa, di sini pernah ada wacana buat syarat masuk SMA.

Padahal di Turki, negara yang mayoritas Islam, sudah dilarang sejak 1999, setelah 5 remaja usia 12-16 tahun dari panti asuhan melakukan percobaan bunuh diri karena disuruh tes keperawanan. Anak yatim piatu katanya sangat rentan mengalami kekerasan seksual.

Neng juga pernah baca-baca sejarah perspektif keperawanan di dunia. Pada abad ke-4 Masehi, keperawanan mulai diagung-agungkan. Lalu pada abad ke-11, Gereja Katolik berusaha mengendalikan sensualitas kebudayaan Romawi, dengan terus mendengungkan cinta platonik.

Sebelum itu, memang ada bahasan soal pentingnya keperawanan dalam kitab agama-agama di Timur Tengah. Tapi fokusnya adalah harga diri lelaki atas ‘hartanya’: tanah, ternak, dan istri. Istri yang perawan berarti jaminan bahwa anak yang lahir (yang akan diberi warisan) adalah benar anak si lelaki.

Di banyak belahan dunia yang lain, baik dunia Barat ataupun Timur, nggak ada yang istimewa dari keperawanan. Bahkan beberapa kebudayaan nggak suka pengantin perawan. Anak gadis diperawani dengan berbagai cara yang jauh dari romantis. Kenapa nggak suka perawan?

Alasannya beragam, dari kepercayaan bahwa darah selaput dara mengandung roh ular jahat yang berbahaya bagi si suami sampai alasan yang paling sederhana… penghalang kepuasan suami. Kenikmatan kan hanya milik suami. Kalau istri nomor 13. Begitu kan?

Itu yang terjadi di Bisaya, Kepulauan Filipina (sebelum penjajahan Spanyol), suku Chibcha Indian, dan beberapa negara di Afrika. Sampai sekarang masih mengakar di benak para calon suami kalau perempuan yang belum pernah bercinta dengan siapapun justru harus dicurigai ada apa-apa, sehingga nggak akan mampu memuaskan lelaki. Eh, suku Indian yang putih dan sipit itu, masuk orang Barat atau Timur ya?

Cara lainnya adalah memperawani dengan benda. Contohnya di Malabar dan Goa (India). Keluarga pengantin akan membantu mendorong si gadis agar dapat dipenetrasi penuh oleh… penis patung Dewa Kesuburan yang terbuat dari batu atau gading.

Di Papua Nugini, pemuka agama memperawani para gadis dengan dildo kayu, dan setelahnya si gadis masih harus ‘diuji’ lagi oleh beberapa lelaki lain, sebelum menikah dan bersetia dengan suaminya. Ya ampun…

Di Timur Tengah sampai dengan jaman ditulisnya Alkitab, calon pengantin perempuan diperawani oleh… jari ayahnya yang dibungkus kain. Kain berdarah itu disimpan sebagai bukti untuk tetua dan keluarga besan bahwa anaknya masih perawan.

Kalau suku Sakalava di Madagaskar dan suku Machacura di Brasil oleh jari ibunya atau jarinya sendiri. Jarinya dibungkus daun dan dialiri air hangat untuk sedikit lubricant.

Kalau Suku Balanti di Senegambia (Afrika) dan beberapa suku asli di Brasil, serta suku Eskimo dan Campa (India), para gadis nggak bisa dapat suami sebelum diperawani Raja. Kalau tradisi diperawani pemuka agama, contohnya di Calicut (India Selatan), suku Indian Acovacks, dan suku di Cumana (Venezuela). Raja Calicut sendiri menyerahkan permaisuri dan selir-selirnya untuk diperawani oleh Brahmin tertinggi.

Tradisi yang paling aneh adalah diperawani oleh… budak. Ini di Phoenicia, sebuah kebudayaan kuno yang mencakup Israel, Yordania, Lebanon, Suriah, dan Palestina. Atau, diperawani oleh lelaki tua yang dipercaya bisa melatih si gadis kecil agar lebih cepat siap melayani suaminya yang masih muda, seperti suku Aborigin di daerah Queensland.

Yang mengherankan dari kisah-kisah di atas adalah, baik obsesi pengantin perawan maupun pengantin nggak perawan, keduanya sama-sama berdasarkan budaya patriarki. Semata hanya demi kepentingan lelaki. Ah, sedih bacanya. Jauh lebih indah diperawani Abang. Tentunya dengan rasa cinta dan kasih sayang. Sama-sama saling membahagiakan.

Abang jangan khawatir. Walaupun Neng sarjana S2 Matematika dan udah namatin buku ‘A Brief History of Time: From Big Bang to Black Holes’ karya Stephen Hawking, dari lubuk hati yang terdalam Neng tetaplah perempuan sederhana yang akan setia mencintai dan patuh pada suami.

Jika Abang tetap pada pendirian bahwa bumi itu datar, Neng bahkan bakal ikhlas nurut. Demi cinta Neng pada Abang…