Maaf, Tak Ada Kibaran Merah Putih di ‘Lapangan Perang Eropa’

Maaf, Tak Ada Kibaran Merah Putih di ‘Lapangan Perang Eropa’

huffingtonpost.com

Spa-Francorchamps. Sebuah nama sirkuit yang kerap bikin gemetar para pembalap mobil F1. Banyak pembalap – yang katanya punya nyali besar – menyebut Spa-Francorchamps sebagai salah satu sirkuit paling menantang dari semua sirkuit balap F1 yang pernah ada. Spa-Francorchamps pun menjadi legenda yang sangat populer, terlebih lokasinya yang berada di pedalaman hutan.

Banyak sekali ajang balapan yang mencantumkan Spa-Francorchamps pada salah satu serinya, seperti World Touring Car Championship (WTCC), Deutsche Tourenwagen Masters (DTM), dan tentu saja Formula 1 (F1). Spa-Francorchamps terletak di timur Belgia, dekat dengan perbatasan Jerman. Sirkuit ini bakal jadi arena pacu mobil-mobil F1 pada seri ke-13 tanggal 28 Agustus 2016 atau beberapa hari setelah perayaan HUT RI ke-71 pada 17 Agustus 2016.

Namun, naas bagi Indonesia, karena justru pada bulan nan sakral ini kabar buruk menghampiri cah Solo yang membalap untuk tim Manor, Rio Haryanto. Secara resmi, terhitung GP Belgia mendatang, Rio takkan berlaga di sirkuit, karena digantikan oleh bocah berusia 19 tahun dari Prancis, Esteban Ocon.

UUD alias ujung-ujungnya duit memang jadi alasan yang dikemukakan kubu Manor, sehingga tega mendepak Rio menjadi pembalap cadangan. Seperti yang sudah menjadi santapan publik sejak awal, setoran uang kepada Manor untuk harga kursi pembalap utama sebesar 15 juta euro bisa menjadi kendala utama. Setoran untuk bisa balapan selama satu musim penuh itu bisa dibilang spektakuler. Nilainya hampir Rp 220 miliar.

Sialnya, hingga GP Jerman beberapa pekan silam, kubu Rio baru sanggup menyerahkan 8 juta euro saja atau separuhnya. Tapi, tunggu dulu, jangan buru-buru menggerutu lantas menyumpahi Manor atau mengejek Rio. Sebab, sudah menjadi takdir kalau balapan F1 adalah olahraga yang supermahal, tapi penuh prestise.

Berapa total dana yang dibutuhkan sebuah tim balap F1 untuk melakoni satu musim penuh kompetisi? Angkanya bisa menembus Rp 5 triliun. Untuk membuat setir mobil yang ringan dan mungil berikut puluhan tombol yang njelimet itu saja bisa menghabiskan duit Rp 650 juta. Lebih dari cukup untuk menyaingi pengeluaran Princess Syahrini kala berlenggak-lenggok centil keliling benua Eropa, bukan?

Maka tak heran, jika untuk mentas di ajang yang satu ini, pembalap mesti punya dua modal, yaitu bakat luar biasa dan sokongan dana yang kuat. Karena hanya dengan itu, seorang pembalap dapat bertahan lebih lama di tengah keras dan ganasnya rimba F1.

Mengenai bakat, saya sama sekali tak meragukan Rio. Saya mengikuti perkembangan pemuda berusia 23 tahun ini sejak mentas di GP3 Series pada 2010. Kala itu, Rio juga terjun bersama tim Manor yang dipimpin John Booth (sejak 2015 tak lagi berkorelasi dengan Manor yang membalap di F1 asuhan Stephen Fitzpatrick). Hasil terbaiknya? Menang di race 2 balapan GP3 Turki serta finis di peringkat lima klasemen akhir pembalap.

Persoalan yang justru membuat kabar soal Rio bolak-balik mewarnai portal-portal berita nasional dan menjadi clickbait tak lain tak bukan adalah dana. Urusan ini kerap jadi santapan empuk media daripada memberitakan skill mengemudi Rio yang sanggup melajukan mobil apa adanya Manor hingga limit kecepatan tertinggi.

Manor bukanlah tim dengan sumber daya sekuat tim pabrikan macam Ferrari dan Mercedes atau konstruktor dengan sokongan dana melimpah, seperti Red Bull. Sebagai perbandingan pada musim 2012, Red Bull menghabiskan dana Rp 3,5 triliun untuk satu musim. Manor yang saat itu masih bernama Marussia “hanya” mengeluarkan Rp 1,4 triliun. Selisihnya tampak tak terlalu lebar, tapi implementasinya di trek sungguh-sungguh menghasilkan perbedaan yang signifikan.

Karena hal itu juga, maka wajar bila Manor terkesan “mata duitan”. Sebab, biaya yang dibutuhkan untuk tetap eksis di F1 memang gendut luar biasa. Dan, itulah resiko yang diambil Rio demi mengejar cita-citanya membalap di F1, meski harus berjudi dengan nasib dan waktu untuk menyetorkan dana senilai total 15 juta euro.

Kita tahu ada sisa setoran 7 juta euro kepada Manor yang membuat pihak Rio mati-matian mencarinya dari sponsor. Tak peduli bagaimana pun sulitnya, sebab jumlah tersebut memang jumbo. Lucunya, beberapa pihak yang sempat nyeletuk bahkan gembar-gembor mau mensponsori cah Solo ini akhirnya malah mundur teratur, sebelum akhirnya berbondong-bondong mengirim permohonan maaf kepada Rio.

Bahkan ketika awal musim tersiar kabar bahwa Malaysia via program Visit Malaysia siap mensponsori Rio dengan konsekuensi logo Visit Malaysia nempel di mobil Manor yang dikendarainya, para pejabat tinggi dan bos korporasi besar di Indonesia seolah kebakaran jenggot.

Mereka beramai-ramai menyatakan ketidaksetujuannya, bila Rio disponsori pihak asing, terlebih Malaysia. Belum lagi tudingan konyol “penonton karbitan” F1 yang menyebut bahwa Rio bakal membelot dengan menjadi warga negara Malaysia cuma karena hal tersebut. Semprul!

Pernah dengar nama Michael Schumacher? Pembalap legendaris dengan koleksi tujuh gelar dunia asal Jerman itu juga melakukan hal yang sama dengan Rio tatkala melakoni debut di F1 pada 1991. Schumi yo mbayar! Saat itu, Schumi yang masih tercatat sebagai pembalap binaan dan disponsori Mercedes harus menyetor uang sebesar US$ 150 ribu (setara Rp 2 miliar dengan kurs saat ini) untuk bisa membalap di tim Jordan.

Jangan salah sangka juga, karena nominal itu hanya berlaku untuk satu balapan saja, bukan semusim penuh. Yang suka matematika bisa mengambil kalkulator untuk menghitung berapa biaya yang mesti Schumi keluarkan dengan biaya per balapan sebesar nominal di atas untuk 21 race musim balap F1 2016.

Schumi sendiri akhirnya hanya mengendarai mobil Jordan untuk satu seri yakni GP Belgia 1991, sebelum kemudian menggantikan posisi Roberto Moreno di tim Benetton secara kontroversial. Aroma pergantian itu sendiri santer dikait-kaitkan dengan uang. Gimana, mulai paham betapa mahalnya F1?

Satu contoh lain adalah pembalap asal Venezuela bernama Pastor Maldonado yang mentas di F1 pada rentang 2011-2015. Pembalap yang disponsori perusahaan minyak milik negara Venezuela (PDVSA) ini bisa bertahan cukup lama, karena mampu “menyumbang” dana 27 juta euro per musim untuk tim yang dibelanya, Williams dan Lotus. Padahal, sepanjang karier F1, Maldonado justru lebih beken karena sering menabrak pembalap lain ketimbang meraih poin atau memenangi lomba.

Tanpa bermaksud mengecilkan keberadaan Pascal Wehrlein di F1, namun pembalap binaan Mercedes sekaligus rekan setim Rio ini juga belum tentu mendapat satu buah kursi di tim Manor, bila tidak “dititipkan” pihak Mercedes meski kemampuannya terbilang mumpuni.

Pabrikan Jerman itu memasukkan pembalap mudanya ke Manor dengan iming-iming pasokan mesin buat tim Manor. Sesuatu yang wah dan dinilai sepadan oleh sang Fitzpatrick, karena mereka memang butuh pemasok mesin.

Didepak dari posisi pembalap utama tentu mengecewakan Rio yang berniat berlaga semusim penuh. Ah, bedakan juga antara didepak dengan dipecat seperti yang santer diwartakan media nasional selama ini. Sebab, pasca menyomot Ocon sebagai pengganti Rio, Manor sama sekali tidak memutuskan hubungan kerja dengan Rio selayaknya pemecatan. Tim asal Inggris itu tetap mempertahankan Rio sebagai pembalap cadangan.

Walau turun status, ada baiknya Rio memanfaatkan ini untuk terus belajar. Full day, kalau perlu. Sebab, ia masih ada di lingkungan balap F1. Manajemen Rio sendiri mesti mematangkan lagi langkah dan strateginya, jika Rio ingin tampil sebagai pembalap utama F1, baik di Manor maupun tim-tim lain yang lebih baik atau bahkan ajang lain, semisal Formula E, IndyCar, atau balik ke GP2 Series.

Begitu juga dengan pemerintah dan pihak-pihak lain yang jangan lagi setengah-setengah mendukung anak bangsanya. Sedih rasanya mengetahui bahwa tak akan ada kibaran bendera Merah Putih di paddock atau yang dibawa Grid Girls jelang start balapan di “Lapangan Perang dari Eropa”, julukan untuk Belgia yang mengacu pada sejarah negeri tersebut yang dahulu kerap dijadikan arena pertempuran.

Kita takkan melihat bendera Merah Putih berkibar di sirkuit Spa-Francorchamps, medan paling menantang bagi pembalap F1 dalam pertempuran memperebutkan tahta kejuaraan atau melanggengkan dominasinya. Dan, itu kita alami justru saat kita gegap gempita merayakan HUT kemerdekaan, meski hanya memasang bendera lusuh di depan rumah.

Jangan pernah menyerah, dek Rio…