Yang Sayang M dan R Banyak Sekali, Mereka Takkan Sendirian

Yang Sayang M dan R Banyak Sekali, Mereka Takkan Sendirian

Ilustrasi (Maui x Moana Affection/skydrathik.deviantart.com)

Pria berpeci itu menangis memeluk saya. Saya mati-matian menahan air mata agar tidak jatuh. Saya berbisik lembut ke telinga beliau, “Bapak tidak usah sedih ya. Yang sayang sama adik R dan M banyak sekali. Insya Allah bapak dan adik-adik tidak sendirian.”

Bapak tersebut, kita panggil saja Pak N. Beliau adalah salah satu pria paling tegar yang saya temui. Beliau adalah bapak dari R, korban persekusi yang terjadi di Cikupa, Tangerang.

Karena R dan M sudah menikah, maka Pak N sekaligus menjadi ayah mertua dari M. Sedangkan M sendiri adalah anak yatim piatu.

Pak N tak hanya tegar menerima cobaan dan setia menemani anak-anaknya pada masa sulit, namun juga mampu menahan emosi hingga tidak melakukan aksi balasan terhadap apa yang diterima anaknya. Beliau menyerahkan kasus ini kepada Kepolisian.

Saya bertemu Pak N, juga M dan R di dua lokasi berbeda, beberapa waktu lalu. Kapolres Tangerang AKBP Sabilul Alif, ketika berkomunikasi dengan saya sehari sebelumnya, mengatakan bahwa kemungkinan saya bisa bertemu dengan M dan R.

Saya dipersilakan untuk berbincang langsung dengan mereka yang perlahan-lahan mulai bisa bertemu orang lain. Saya diminta berkoordinasi dengan unit Pendampingan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tangerang mengenai kesiapan M dan R.

Singkat cerita, saya sampai di Polres Tangerang di Tigaraksa sekitar pukul 10 pagi. Pak Kapolres menerima saya, M, R, dan polisi pendamping dari unit PPA. Sepertinya untuk bertemu orang lain, M dan R masih harus didampingi Polisi.

Saya memandangi dua wajah yang berada di depan saya. Sekuat tenaga saya mencoba rileks dan lepas dari pemberitaan-pemberitaan mengenai peristiwa yang menimpa mereka.

Perbincangan berjalan kurang lebih satu jam. Saya mengulang penawaran saya terhadap M terkait pekerjaan. Bedanya, mungkin sekarang saya menawarkan pekerjaan juga ke R.

Mereka mengucapkan terima kasih dan akan mempertimbangkan penawaran saya. Kini mereka fokus konseling dan bersiap menghadapi sidang terlebih dahulu. M dulu kerja di pabrik, R kerja freelance terkait pengukuran tanah dan melakukan data input. Kini mereka berdua tidak bekerja.

R mengaku ke saya mengalami kesulitan tidur pada malam hari. M tidak banyak bicara, namun mengiyakan hal yang sama. Suatu hal yang dialami banyak korban kejadian traumatis di masa lalu.

Selain menghindari berfoto, saya juga menghindari bertanya soal peristiwa tempo hari. Saya lebih banyak menggali mengenai rencana mereka setelah sidang selesai, lalu bagaimana mereka menjalani kehidupan rumah tangga.

Mereka sepakat akan melanjutkan hidup dan berusaha keras untuk lepas dari trauma. Saya menjawab pendek, “Saya akan terus mendukung kalian. Kalian tidak akan pernah sendirian.”

Pertemuan selesai. M dan R pamit diantar polisi dari unit PPA. Saya pun tak kuasa menahan air mata yang jatuh. Tak berapa lama, Pak Kapolres mengajak saya sholat Jumat, karena ketika itu kebetulan hari Jumat.

Usai sholat, saya diajak makan bersama warga, maaf lokasi tidak saya sebut. Di tengah pertemuan dengan warga tersebutlah, Pak Kapolres memanggil seseorang dan mengajak saya berbincang bertiga. Yang dipanggil beliau adalah Pak N.

Pak Kapolres memperkenalkan saya ke Pak N. Beliau menjelaskan bahwa saya memberikan penawaran pekerjaan ke M dan R. Pak N mengucapkan terima kasih dan menyerahkan keputusannya kepada M dan R.

Pak N juga mengonfirmasi bahwa R masih sulit tidur malam juga tidak mau bertemu orang, bahkan orang dekat yang dikenalnya. Tak lama, saya pun pamit dan selanjutnya seperti yang saya tulis pada paragraf awal.

Di mobil, Pak Kapolres cerita ke saya bahwa dia mendengar kasus serupa terjadi di Pasar Kemis empat tahun lalu. Korban perempuan akhirnya bunuh diri. Sungguh kejadian yang memilukan.

Saya bukan orang yang rajin mengikuti kajian dan membaca buku tentang feminisme, kesetaraan gender, dan kekerasan terhadap perempuan. Saat saya memutuskan untuk menawarkan pekerjaan kepada M dan R, itu benar-benar terjadi spontan.

Setelah itu, saya banyak mendapat informasi dari berbagai kalangan. Risiko-risiko yang akan saya hadapi, jika menerima pekerja dengan kejadian traumatis pada masa lalu.

Saya juga memperoleh data statistik kekerasan terhadap perempuan di Indonesia yang begitu mencengangkan. Last but not least, dukungan dan doa dari berbagai kalangan di dalam maupun luar negeri. Informasi-informasi yang tidak pernah saya dengar sebelumnya mengalir deras. Sangat membantu.

Semua rasanya sepakat, jangan biarkan korban kekerasan menghadapi semuanya sendirian. Temani mereka. Bantu, dukung, sebisa kita. Jangan mengungkit luka lama, bantu mereka mengangkat hidupnya, bergerak maju.

Sudahi caci-maki terhadap pelaku, akhiri kutukan-kutukan tanpa makna. Dampingi korban, jika lokasi memungkinkan.

Sesekali datanglah ke yayasan, lembaga, atau LSM yang peduli hal-hal terkait kekerasan terhadap perempuan, kemudian ikut membantu pemulihan kondisi mental para korban. Niscaya, anda semua akan banyak bersyukur bisa menjalani hidup sampai hari ini…