Lupakan Darah Tinggi, Indonesia Butuh Kambing supaya Maju

Lupakan Darah Tinggi, Indonesia Butuh Kambing supaya Maju

Selamat Idul Adha untuk para pembaca Voxpop se-Nusantara. Bagaimana makan daging kambingnya? Pasti naik. Apanya? Darah tinggi, kolesterol, libido seks?

Ah, kenapa kata-kata membosankan itu selalu menjadi agitasi propaganda yang disebarkan secara masif kepada para pemakan daging kambing? Apakah ini hasil konspirasi antara sapi dan ayam untuk mencemarkan nama baik kambing? #waduh

Malang sekali nasibmu wahai kambing. Padahal, dahulu kala, daging kambing dan para kroninya termasuk domba menjadi makanan favorit para Nabi.

Mungkin Rahung Nasution, sang koki gadungan, yang bisa menjelaskan apa saja menu terbaik makanan berbahan dasar daging kambing termasuk pernak-pernik penyajiannya.

Yang pasti, sebagian kalangan juga yakin daging kambing justru mempunyai beragam manfaat. Misalnya meningkatkan kekebalan tubuh (bukan kebal krisis ekonomi), menjaga kesehatan mata (tidak termasuk mata pencaharian), kesehatan mental (bukan iklan revolusi mental), dan mencegah anemia (supaya tidak lupa sejarah).

Untuk mengetahui manfaat lebih lanjut, silakan tanya sendiri ke pakar kesehatan. Ini bukan iklan kambing. Bukan pula opini yang ikut-ikutan menyikapi isu soal kejam atau tidaknya motong kambing saat hari raya Idul Adha.

Tapi okelah, untuk menjelaskan inti dari artikel ini, kita lanjutkan.

Kali ini, saya ingin mengupas soal perilaku kambing. Hewan yang dalam bahasa latin disebut Capra Hircus ini termasuk hewan yang pintar, karena memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan sangat tangkas.

Kambing juga tergolong hewan yang mandiri dibandingkan domba yang biasanya cenderung berkelompok. Artinya, kambing sangat fleksibel. Ia bisa hidup berkelompok maupun sendiri.

Bahkan seekor kambing bisa beradaptasi, meski hidup dengan kawanan kambing yang berbeda. Ia tidak peduli dengan latarbelakang kawanan kambing tersebut, apakah beragama A, berasal dari suku B, atau dari ras C. #mulai merembet

Meski berbeda kawanan, mereka tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu bertahan hidup. Itulah filosofi kambing!

Kata kuncinya adalah ‘Tujuan sama, meski berbeda kawanan.” Wow… betapa negarawan sekali kambing-kambing tersebut.

Hari ini, tak ada salahnya kita semua belajar dari kambing. Ya kambing, binatang yang selama ini dibilang bau dan layak disembelih itu.

Kenapa? Karena kondisi di Tanah Air sekarang ini memprihatinkan. Masyarakat terbelah menjadi dua kawanan besar. Pendukung Jokowi dan Prabowo. Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP).

Di media sosial, perang opini dan saling menjelek-jelekan antara pendukung Jokowi dan Prabowo semakin di luar kewarasan. Padahal, pilpres sudah lama berlalu. Tujuannya pun tidak jelas, yang penting idolanya bisa berkuasa.

Kalau begitu terus, bagaimana Indonesia bisa maju? Wong, sibuk berantem satu sama lain.

Itulah khotbah shalat Idul Adha di masjid dekat rumah saya kali ini, lho? Akhir kata, Selamat Idul Adha, mari lanjut makan daging kambingnya, hehe…

Foto: wallpaperfullscreen.com

  • Setuju Bang Jauhari.. akan tetapi meskipun walaupun demikian, alangkah baiknya jika masyarakat negara ini tiada selalu heboh dan sibuk cari ‘kambing hitam’..

  • Mas Jauhari jangan kebanyakan makan daging kambing, nnti kolesterolnya naik. Hehe
    Ngomong2 soal “kambing hitam”, kayanya emang udah lumrah di masyarakat kita ini, setiap orang tidak mau di salahkan, apalagi buat mengaku salah, padahal udah jelas2 salah. Kadang suka ngeri, sekaligus pengen tau, siapa sih orang yang ada di balik permasalahan bangsa kita tercinta ini, yang selalu meng”kambing hitam”kan orang lain demi kepentingan Pribadi dan Kelaompoknya. Selamat Idul Adha Juga Semua…..

    • Udah lumrah, Mbak Asti.. Kalau ada masalah yang timbul, bukan solusi yang dicari tapi kambing hitam..kasihan si kambing hitam.. Semoga ia mampu beli pewarna rambut.