Yang Hilang dari ‘Lover’ dan ‘Hater’

Yang Hilang dari ‘Lover’ dan ‘Hater’

Ilustrasi (flickr/procsilas moscas)

Malam hari di sebuah ruang keluarga. Ibu, ayah, dan tiga orang anaknya sedang asyik menonton televisi. Tiba-tiba listrik padam. Gelap gulita seketika. Tak tampak lagi kanan dan kiri. Mereka gelisah.

Tak lama, anak tertua beranjak. Sambil meraba-raba, berjalanlah ia mencari pegangan. Untunglah, sebuah senter segera ditemukan. Secercah terang cukup menenangkan.

Gerak spontan mencari terang dan pegangan seperti itu terjadi tak hanya pada aras raga, melainkan juga jiwa. “Manusia, binatang pemuja,” kata Friedrich Nietzsche.

Di tengah kegelapan dan kekacauan, gerak spontan manusia adalah mencari terang dan pegangan. Wujudnya macam-macam: filsafat, agama, ideologi, sains, bahkan ateisme. Karena telah menyelamatkannya dari kegelapan dan kekacauan, manusia memuja berbagai ajaran itu, seraya melupakan dari mana ia muncul.

Yang menarik perhatian Nietzsche bukan isi ajaran-ajaran. Filsuf yang oleh Paul Ricoeur digolongkan bersama Karl Marx dan Sigmund Freud sebagai ‘guru pencuriga’ (maître de suspicion) itu lebih tertarik pada si manusia yang mencari terang dan pegangan.

Nietzsche mengundang kita untuk waspada: berbagai objek pujaan bisa jadi merupakan gejala cacatnya jiwa yang tak berani bergulat dengan kegelapan dan kekacauan.

Nietzsche hidup di penghujung abad ke-19, namun diagnosa kebudayaannya masih dapat mengatakan sesuatu bagi kita pada abad ke-21. Tidakkah manusia abad 21 semakin gemar memuja? Apalagi, objek pujaan semakin banyak tersedia.

Lewat internet, penyebarannya pun kian terbuka. Orang ramai-ramai mengutuk dan memuja, bahkan tanpa tahu apa yang dikutuk dan dipuja. Bahasa kita punya istilah untuk menggambarkan sikap seperti itu: taklid, hasil serapan dari bahasa Arab taqlid.

Orang yang taklid cenderung naif. Itulah mengapa pengutuk dan pemuja tak mengenal waspada. Kutukan dan pujaan ibarat lensa: kalau lensanya merah, seluruh dunia menjadi merah; kalau lensanya biru, seluruh dunia menjadi biru.

Demikianlah seorang pengutuk tak akan melihat kebenaran dalam apa yang dikutuknya, sebagaimana seorang pemuja tak akan melihat kesalahan dalam apa yang dipujanya. Hanya ada dua pilihan sikap: mengutuk atau memuja. Yang berusaha menengahi dianggap sok bijak, kalau bukan tidak ada.

Semesta media sosial punya kosakata khas untuk mengungkapkan hal itu: hater dan lover. Keduanya kerap berdebat panas, namun tak pernah sungguh-sungguh berjumpa. Sendirian di balik laptop atau gadget, hater dan lover saling hujat tanpa jeda untuk waspada.

Karena tak ada jeda, nafas pikiran pun tersengal-sengal. Daya tahan membaca menurun. Kajian-kajian mendalam dianggap buang-buang waktu. Teks-teks klasik dianggap usang. Akibatnya, orang tak terbiasa bepikir dengan nafas panjang. Untuk apa berpikir panjang? Tidakkah di dunia ini hanya ada lover dan hater, ‘pro’ dan ‘anti’?

Tanpa sadar, kosakata media sosial mengerangkeng pikiran menjadi sepicik itu. Hanya ada hater atau lover. Kalau bukan hater pasti lover. Kalau bukan lover pasti hater.

Dari kepicikan seperti itulah segala pujaan dan hujatan di media sosial berasal. Orang menjadi semakin mudah menghakimi (judgemental), memasukkan pendapat apapun ke dalam kandang hater atau lover.

Kecenderungan ini sudah mulai sejak Pilpres 2014, menguat di Pilkada DKI 2017, dan bertahan hingga kini. Mengritik Ahok berarti anti-Ahok. Memuji Ahok berarti pro-Ahok.

Kebiasaan menghakimi secara gampangan seperti itu terjadi dalam banyak hal: mengritik agama berarti anti-agama, mengritik feminisme berarti misoginis, mengoreksi kebebasan berpendapat berarti anti-kebebasan berpendapat, mempelajari Marx berarti pro-komunisme, dan sebagainya dan seterusnya.

Selain kepicikan, ada banyak hal lain yang menyebabkan hater dan lover tak pernah bertemu. Salah satunya adalah apa yang dalam sosiologi pengetahuan dikenal sebagai ‘bias konfirmasi’ (confirmation bias): kecenderungan manusia untuk meyakini apa yang meneguhkan keyakinannya sendiri.

Kecenderungan ini disuburkan dengan pupuk bernama algoritma — sebuah teknik pemrograman yang memampukan berbagai media sosial untuk mempelajari perilaku penggunanya.

Tujuannya macam-macam: dari mempertemukan para pengguna yang memiliki kemiripan unsur sampai menyuguhkan berita atau iklan yang berpeluang disukai. Algoritma mengatur sedemikian rupa sehingga orang hanya mungkin menemukan apa yang memang mau dia temukan.

Apakah ini hal baru? Entah. Yang jelas, lebih dari dua milenium silam, Empedokles pernah bersabda, “Yang sama mengenal yang sama.” Tak heran, bagi hater dan lover, media sosial tak pernah sungguh-sungguh mempertemukan, melainkan justru menggiring ke kutub yang semakin berjauhan.

“Sebaik-baiknya perkara adalah di tengah-tengah,” kata sebuah kebijaksanaan Islam. Kebijaksanaan itu bukan berarti sikap lembek, cari aman, tak hendak berpihak.

Akidah Jalan Tengah dapat dimengerti sebagai undangan untuk tak terlalu mudah menghakimi. Dalam arti itu orakel di Kuil Delphi yang terkenal itu pantas digaungkan kembali: gnothi seauton, meden agan, kenalilah dirimu sendiri, jangan berlebihan.

Realitas terlalu rumit untuk ditanggapi dengan sekadar ‘ya’ atau ‘tidak,’ ‘pro’ atau ‘anti.’ Itulah mengapa kemampuan berpikir rumit diperlukan — bukan untuk merumitkan perkara, melainkan merawat akal sehat kita.

Seorang cendekiawan pernah berkata, “Kemampuan berpikir rumit mungkin menolong untuk bersikap sederhana dalam kehidupan, dan ini membantu menuju kebahagiaan.”

Jadi, apa yang hilang dari hater dan lover? Jawabannya rumit sekaligus sederhana: kesehatan dan kebahagiaan.

  • Dea

    Tergantung bagaimana seseorang mengkritik feminisme. Kalau cuma pakai kacamata orang kulit putih saja yah susah, sama halnya kita kembali kemasa kolonialisme padahal teks feminisme dengan berkembangnya jaman juga berubah.