Lonjakan Harga Daging Ditinjau dari Berbagai Tipe Pacar

Lonjakan Harga Daging Ditinjau dari Berbagai Tipe Pacar

Heboh harga daging sapi melonjak di Jakarta, Jabar, dan Banten menyeret berbagai pihak untuk berkomentar. Dari yang analitik, nyinyir, sampai kader partai ‘paling bersih’ minta keadilan pemimpinnya yang terjerat vonis terkait impor sapi yang menghebohkan beberapa tahun lalu.

Saya melihat permasalahan daging sapi ini sungguh rumit. Masalah demand supply-nya, masalah tata niaga, jalur distribusi, semua ruwet. Belum termasuk dugaan kartel dan mafia daging sapi.

Ketika saya tengah iseng-iseng mencari data dan mencoba menebak-nebak mana muara permasalahan daging ini, masuklah pesan WA ke saya. Seorang junior curhat ke saya bahwa pacarnya sungguh pencemburu dan senantiasa memiliki teori konspirasi.

Tak lama kemudian ada yang lain lagi curhat mengenai pacar yang percaya berlebihan dan nyaris tidak pernah menunjukkan curiga. Macam-macamlah curhatan anak muda ke saya dan biasanya saya beri nasihat yang baik-baik. Tentunya Arman Dhani dan Agus Mulyadi tidak pernah curhat tentang pacar mereka.

Mengumpulkan data sembari menjawab curhat, membuat saya melakukan analisis lebih lanjut. Jangan-jangan ini Act of God bagi saya untuk menghubungkan harga daging dan tipe pacar.

Ternyata saat saya lakukan telaah lebih lanjut, hasilnya signifikan. Akan saya bedah satu-satu hanya untuk pembaca setia Voxpop yang cerdas-cerdas serta senantiasa membaca tulisan bermutu dan menghibur. Simak ya.

1. Harga Daging dan Pacar yang Perhitungan

Pernah punya pacar yang kemampuan berhitungnya luar biasa? Selalu mengedepankan angka-angka yang dihitungnya dengan cermat sebelum kencan atau jalan-jalan. Sampai menghitung berbagi biaya sesuai apa yang dinikmati.

Misalnya nonton dan makan, berarti masing-masing bayar biaya nonton dan makan. Entahlah sebenarnya ini pacaran atau lagi belajar memperlakukan mitra kerja. Kalau misalnya pacaran kemudian menikmati ML ngitungnya bagaimana? Masya Allah, itu haram. #udahputusinaja

Pacar perhitungan akan menggunakan teori demand supply terkait harga sapi. Dengan mudah dia akan mengatakan harga naik adalah konsekuensi pasar yang tidak dapat ditawar. Mau tidak mau harus dihadapi.

Tahun 2015 diperkirakan kebutuhan daging sapi nasional sekitar 640 ribu ton, 400 ribu ton lebih dipasok dari dalam negeri. Sisanya 240 ribu ton impor. 240 ribu ton dipenuhi dalam bentuk daging beku dan sapi bakalan yang akan digemukkan dalam waktu tertentu di Indonesia. Tonase impor sapi tersebut setara dengan 1,1-1,2 juta ekor sapi.

Kuartal I-2015, RI impor 100 ribu ekor, kuartal II 250 ribu ekor, kuartal III rencananya 250 ribu ekor juga. Tapi konon dikurangi signifikan hanya menjadi 50 ribu ekor pada kuartal III. Hukum demand supply terjadi. Pasokan berkurang, sehingga harganya naik.

Perhitungan-perhitungan demand supply an sich seperti ini tentunya mirip dengan pacar yang selalu perhitungan.

2. Harga Daging dan Pacar Pencemburu

Pacar, terutama perempuan, jika sudah cemburu berat, memiliki intuisi detektif yang jauh lebih unggul dibandingkan detektif Conan, Kindaichi, plus Sherlock Holmes. Segala konspirasi teori bisa dibuktikan perempuan yang tengah terbakar cemburu. Sekali lagi, hal ini tentu tidak dapat dialami Arman Dhani apalagi Agus Mulyadi.

Pacar pencemburu ini dengan berbagai cara dapat mengendus kanal-kanal apa yang patut dicurigai sebagai penyebab pacar mereka tidak setia. Walau kadang berlebihan, kadang tidak terbukti, namun dengan kegigihan dan energi terbakar cemburu yang tak ada habisnya, seringkali mereka terbukti benar.

Pacar pencemburu ini cocok dengan kemungkinan adanya kartel/mafia impor daging yang dari tahun ke tahun disinyalir tetap berkuasa. Walau sudah coba dicekoki berbagai informasi bahwa RI memang butuh impor, mereka tetap meradang dan berkeras harus swasembada. Importir pasti akan mencari jalan untuk terus menguasai pangsa pasar.

Informasi bahwa RI perlu membuka keran impor sapi demi menjaga inflasi, harga yang terjangkau, dan agar usaha ternak lokal belajar berkompetisi sungguh terasa masuk akal.

Namun, jika diteliti lebih lanjut, kondisi tidak demikian indah. Total populasi sapi nasional sudah menembus 17 juta ekor, beberapa daerah yang memiliki cadangan cukup luas untuk pakan bisa diberikan insentif untuk membangun peternakan skala besar dalam bentuk koperasi. Jalur distribusi dan tata niaga daging sapi dalam negeri butuh kehadiran pemerintah untuk mengawasi berikut mengaturnya.

Pemerintah perlu punya energi cemburu yang besar untuk membongkar semua ulah mafia daging sapi. Memang awalnya akan ditertawakan banyak pihak. Tapi ingat, seseorang yang terbakar cemburu dan sukses membuktikan dasar kecemburuannya akan tertawa paling lebar di akhir. Camkan ini mafia daging!

3. Harga Daging Sapi dan Pacar Berwajah Innocent tapi Tukang Nikung

Siapa sih yang tidak ingin punya pacar berwajah protagonis? Semua pasti suka. Wajahnya mencerminkan orang yang selalu benar tanpa perlu berdebat susah payah.

Itu semacam pencitraan positif yang terbangun semenjak dari sperma. Tapi jangan dikira wajah innocent itu selalu baik, ada kalanya mereka ‘jago nikung’ pacar orang dan bahkan pacar baru. Padahal sudah punya gebetan.

Tipe pacar seperti ini sama dengan para pejabat yang tanpa dosa membuat kebijakan yang dikatakan terobosan berbalut semangat swasembada atau kemandirian bangsa. Dan semuanya termakan menyanjungnya seolah apa yang dikatakannya benar, padahal itu cuma trik untuk ‘nikung’.

Pada kasus harga daging ini misalnya. Pengurangan kuota dianggap program yang baik. Bertujuan memperkuat peternakan lokal dan sebagainya. Padahal dari angka dan tata niaga, dampaknya mudah dikalkulasi: buruk.

Nanti kalau harga atau kondisi pasar tak terkendali, bisa nikung deh. Caranya membuka kuota impor terbatas untuk stabilisasi harga daging sapi dalam negeri. Lalu yang dapat surat izin impor daging sapi adalah kroni-kroni innocent yang jago nikung tadi.

Padahal, pekerjaan mereka bukan importir. Tinggal surat izin impor itu diperdagangkan ke pengimpor daging sapi yang sesungguhnya. Enak tho, dapat uang bermodal selembar kertas penunjukan doang. Ya, ini semua tentunya cuma analisis sotoy belaka. Saya yakin pemerintah pasti memikirkan yang terbaik untuk negeri ini. *Cari aman coy* hahaha…

4. Harga Daging Sapi dan Pacar Tipe Groupies

Iya groupies. Itu loh fans berat seorang pesohor yang kemudian benar-benar jadi pacarnya. Dream comes true gitulah ceritanya. Tipe groupies ini cenderung memuja pacarnya berlebihan. Bahkan melindungi pacarnya berlebihan dengan berbagai cara. Pokoknya berlebihan banget intinya.

Tipe pacar ini cocok untuk yang selalu beranggapan ada konspirasi untuk menghancurkan negeri ini dimulai dari kenaikan harga sapi. Karena itu, pemerintah tidak boleh kalah dengan mafia/kartel. Impor harus ditutup sepenuhnya.

Masalah harga daging yang naik terus, pedagang tidak dapat pemasukan, penjual makanan resah, semua tidak dipermasalahkan. Toh itu cuma sebentar sanggah mereka.

Kadang perang melawan mafia itu merepotkan. Pedagang dan pengguna produk di jalur distribusinya terpukul semua. Ibarat gajah lawan gajah berantem, pelanduk mati kegencet.

5. Harga Daging Sapi dan Pacar yang Suka Anggap Enteng Banyak Hal

Tipe pacar menyebalkan salah satunya yang seperti ini. Di-BBM cuma notifikasi D. Dikirim WA, double centangnya tak kunjung berwarna biru, ditelepon tidak diangkat. Dihubungi via sosial media tidak ada respon. Tapi tetap sayang. Nyebelin banget ya.

Ini tipe pacar yang meremehkan hubungan. Padahal kan dihubungi cuma sekali-sekali. Sekali pagi, sekali siang, sekali sore, sekali malam #halah. Pacar tipe ini, semua hal dianggap woles banget. Dianggap gak ngefek sama hidupnya. Dan selalu berpikir, gitu aja kok repot.

Tipe pacar ini cocok dengan yang menjawab permasalahan jangka pendek daging sapi dengan jawaban enteng: tidak ada daging sapi ya bisa makan ayam, kambing, kelinci, tahu, tempe, ikan dan lain-lain. Benar juga sih.

Tapi apakah berpikir nasib pedagang yang tidak bisa berjualan dalam rantai distribusi daging sapi? Tentunya mereka tidak berpikir, wong kontak dari pacar yang menyayangi saja jarang dibalas. Apalagi pedagang daging sapi yang tidak kenal sama sekali. Yo rak?

Tipe-tipe seperti ini mencoba memberikan solusi ‘sok bijak’ atas permasalahan jangka pendek dengan solusi jangka panjang, ngentengin banget. Tapi ya itu kan bawaan lahir tiap-tiap orang.

Demikian tipe-tipe pacar yang saya analisis dan sesuai dengan permasalahan daging sapi hari ini. Tipe pacar anda seperti apa? Apa? Masih jomblo? Oalah… Itu masalahmu sendiri kalau begitu.

Foto: haiineola.com