Lima Jenis Makhluk Penghuni Facebook

Lima Jenis Makhluk Penghuni Facebook

nativedge.com

Untuk kesekian kali dalam sebulan terakhir, Mat mengatakan bahwa ia melupakan kata sandi akun Facebook-nya. Jika sudah begitu, berarti tugas saya untuk membuatkannya akun baru. “Ini perkara penting,” kata teman saya itu, dengan mimik muka tak jauh berbeda saat ia datang untuk ngutang.

Saya mafhum kalau Facebook saat ini sudah menjadi gaya hidup. Bagi makhluk seperti Mat yang sudah keranjingan, tak akan benar-benar tahan untuk tidak membuka Facebook barang sebentar. Apalagi beberapa waktu yang lalu sepertinya ia sedang terlibat perang komentar dengan pengguna akun lain perihal Ahok dan surat Al-Maidah 51.

Tapi saya tidak bisa terus-terusan memaklumi Mat. Selain tentu saja membuang-buang sepersekian menit waktu saya, tapi juga sudah terlalu banyak alamat email beserta password yang mesti diingat.

Saya sendiri sejak pertama kali menggunakan Facebook pada 2009 – dari zaman update status unyu-unyu sampai stalking mantan – pernah beberapa kali mesti gonta-ganti akun karena keseringan lupa password. Selama itu, total kurang lebih tujuh akun yang dibuat atas nama saya. Itu belum termasuk akun palsu untuk kepoin mantan.

Suka dukanya? Jangan ditanya! Mulai dari kegirangan karena membludaknya jempol di luar ekspektasi – padahal foto yang diunggah hasil editan dan status yang tulis hasil salinan – sampai mewek karena mantan pacar mengunggah foto saat ia pelukan dengan pacar barunya. Asem seperti aroma ketiak lupa pakai deodoran, tapi terkadang manis kayak kamu gulali.

Terlepas dari itu semua, terpujilah Tuhan, yang telah melahirkan Mark Elliot Zuckerberg ke dunia. Saya tidak mau tahu latar belakang Mark selama saya bisa update status Facebook. Perkara Mark seorang ateis keturunan Yahudi adalah urusan dia sendiri.

Seperti dikutip dari laman Wikipedia, Mark Zuckerberg dibesarkan sebagai seorang Yahudi dan menjalani bar mitzvah ketika menginjak usia 13 tahun. Ya meskipun kabarnya ia menetapkan dirinya sebagai seorang ateis.

Bagi kamu yang paranoid kayak Hitler dan saking parnonya bahkan sampai menilai Garuda Pancasila yang digantung di kelas-kelas setiap sekolah sebagai bagian propaganda kaum Zionis karena bentuknya mirip Dewa Horus dalam kepercayaan kaum Yahudi, semestinya kamu ikuti saran saya berikut:

1. Klik Pengaturan & Privasi di akun anda.

2. Klik Keamanan.

3. Klik Nonaktifkan di samping kanan akun.

Atau, sekalian hapus akun anda dan jangan lupa banyak-banyak beristighfar. Itu pilihan paling bijak sekaligus juga untuk menyelamatkan kadar keimanan yang gampang goyah. Lagipula Facebook sudah terlalu sesak dengan orang-orang pintar.

Sekarang, baiklah, sebagai orang yang sudah malang melintang selama hampir tujuh tahun di dunia perpesbukan, saya akan mengelompokkan lima jenis makhluk berdasarkan postingan­-nya di tembok Facebook. Tentu saja anda berhak menambahkannya. Tapi setidaknya ini sudah cukup mewakili.

1. Bijak Bestari

Mario Teguh memutuskan resign dari jualan kata-kata hebat di televisi, tapi kalian tidak perlu khawatir kehilangan semangat diri. Sebab, di lini masa Facebook, bertebaran motivator-motivator yang tak kalah super.

Kata siapa itu hasil browsing dan copy-paste? Saya haqqul yakin kata-kata mutiara tersebut diperas dari kehidupan pelik mereka sendiri. Sudah sepatutnya anda bersyukur atas kehadiran mereka berikut tanda pagar yang menyertai di beranda.

Masalah apakah si pengunggah status bijak itu ternyata masih mewek karena ditinggal mantan, atau boikot kuliah karena telat uang kiriman dari orang tua, anggap itu perkara lain. Hidup memang tidak semudah cocote si pengunggah status bijak. Juga tak seindah paras saya.

2. Like & Share

Manusia jenis ini begitu sensitif melihat gambar piring terbang, kulit semangka yang kebetulan berbentuk tulisan arab atau ular berkepala babi. Mereka pun diberi kelebihan berupa jempol yang bisa bergerak mendahului nalar.

Orang tipe ini juga mudah sekali terharu karena melihat kebaikan, keanehan, dan keajaiban yang terjadi di media sosial. Tapi biasanya malah ambil ponsel terus selfie-selfie ketika melihat kecelakaan di tengah jalan atau musibah bencana alam.

3. Intelektual Papan Atas

Tipe orang seperti ini akan mengikuti setiap perkembangan apapun, lalu ia akan memberikan komentar dan pandangan-pandangannya. Itu bagus, asal tidak dibarengi dengan kebebalan yang menganggap bahwa ia paling tahu suatu hal dan menganggap orang lain tidak tahu apa-apa. Mengkritisi kebodohan tapi tak mau dikritik itu berarti sama saja, bukan?

4. Narsis

Tidak ada yang sia-sia dari apa yang diciptakan oleh Tuhan, dengan catatan seseorang mampu berinovasi tiada henti. Untuk itulah mengapa aplikasi edit foto tak pernah sia-sia dibuat. Kemudian berseliweranlah makhluk yang cantik-cantik dan ganteng kuadrat di beranda Facebook-mu.

Kehadiran aplikasi itu sekaligus mematahkan silogisme pak Ridwan Kamil, walikota Bandung yang juga dikenal penganut narsisma dan lex naturalis. “Jika tidak bisa jadi pria tampan, jadilah pria mapan, dengan begitu wajahmu termaafkan.” #HukumAlam

Ah, pak wali, dalam era narsis milenial saat ini, kemapanan adalah milik Don Pablo Putra Desa. “Jika tidak bisa jadi pria tampan, jadilah pria pengoleksi aplikasi edit foto, dengan begitu wajahmu termaafkan.”

5. Alayers

Satu-satunya alasan saya menyesali kenapa Mark Zuckerberg lahir ke dunia ini adalah keberadaan sejumlah akun dengan nama-nama seperti Putrinaghmaoz, Caiiankcmuanyaclalumnantimu, Dsniismpekpandpun, atau Deztyptuzcintagragragnaxnthu, Dedezstreetteamdorkzilia, dan nama-nama sejenisnya.

Saya yakin mereka bukan berasal dari Planet Namek atau penghuni Asgardia – kota mistis di langit yang dikuasai Dewa Odin dalam mitologi Nordik. Kaki mereka masih menapak di bumi. Tapi, suka atau tidak, harus diakui mereka punya kelebihan. Bukan, bukan karena kelebihan huruf dalam nama mereka, tapi semangatnya yang berlebay berlebih. Cemungudd eaaa…