Liga Keadilan, Gal Gadot, dan Bonek

Liga Keadilan, Gal Gadot, dan Bonek

hdwallpapers.in

DC Comics dan Warner Bros baru saja merilis poster film yang sedang mereka garap dan bakal tayang pada 2017, yakni ‘Justice League’. Film ini merupakan adaptasi dari komik keluaran DC, yang bercerita tentang sebuah perkumpulan yang dihuni pahlawan-pahlawan super.

Kemunculan film bergenre fiksi ini jelas dinanti oleh para pencinta komik dan penyuka kisah superhero, meski saya yakin orang awam juga berminat menyaksikan film ini. Ehm… Alasannya apalagi kalau bukan pesona mbak Gal Gadot – pemeran Wonder Woman – yang cetar dan semlohay itu.

Kehadiran mbak Gadot di tengah kumpulan makhluk-makhluk super berjakun macam Henri Cavill (Superman), Ben Affleck (Batman), dan Jason Momoa (Aquaman) bagai sebuah oase di hatimu tengah padang pasir nan tandus. Semoga ini niat baik dari DC Comics dan Warner Bros untuk memenuhi kuota perempuan di jajaran superhero. Bukan semata kemasan untuk pemanis etalase. Eh?

Film ini sendiri nantinya akan menampilkan upaya para superhero yang tergabung dalam Justice League alias Liga Keadilan dalam menghalau sang penjahat kelas kakap, Steppenwolf, beserta pasukan setianya bernama Parademons yang memburu tiga buah Mother Boxes di Planet Bumi.

Selayaknya film-film superhero yang pernah dirilis, Justice League tentu menjanjikan tayangan dengan efek animasi canggih nan eksepsional, meski alur ceritanya bakal mudah diprediksi. Benarkah? Bila pada akhir cerita anggota Justice League mampu menggagalkan usaha Steppenwolf dan pasukannya mendapatkan Mother Boxes, maka dengan senang hati saya akan menerima traktiran rujak cingur atau tahu campur dari anda. Setuju?

Plot baik lawan jahat sudah sejak lama menjadi salah satu komoditas unggul yang nikmat untuk difilmkan. Tak percaya? Anda boleh googling sepuas hati untuk mencari fakta terkait hal ini. Entah itu film yang bercokol superhero di dalamnya atau hanya diisi manusia-manusia biasa yang peduli pada nilai-nilai kebaikan, jumlahnya pasti segambreng.

Bahkan, sejumlah karakter jahat secara massal disulap menjadi “baik”, seperti pada film-film bernuansa anti-hero. Sebut saja karakter Max, yang berjuang dan menghalalkan segala cara setelah hidup di zaman post-apocalypse dalam film ‘Mad Max’. Lalu ada Jack Sparrow dalam film ‘Pirates of the Caribbean’ dan Dominic Toretto di film ‘The Fast and the Furious’.

Tahun ini, ada kisah seorang karakter konyol bernama Deadpool yang sudah tayang pada bulan Februari lalu. Sementara itu, yang baru rilis, ada kisah segerombolan berandalan yang mendaku dirinya sebagai ‘Suicide Squad’.

‘Suicide Squad’ semacam campuran penjahat terkenal dan tidak dikenal, seperti Deadshot, King Shark, Captain Boomerang, El Diablo, dan Harley Quinn. ‘Suicide Squad’ direkrut untuk menyelesaikan tugas yang dianggap terlalu berbahaya bagi superhero. Ujung-ujungnya menyelamatkan dunia juga dari ancaman bahaya.

Bicara soal plot baik versus jahat, saya pun ingin mengajak anda untuk melangkah ke lapangan sepak bola. Ada hestek di media sosial yang menarik atensi saya selama satu bulan terakhir. Kalimat #GrudukJakarta begitu akrab dan sempat muncul sebagai salah satu trending topic.

Setelah ditelusuri lebih jauh, hestek ini digemakan oleh Bonek, pendukung setia tim sepak bola sarat sejarah asal Surabaya, Persebaya. Kata gruduk sendiri kurang lebih bermakna menyerbu atau datang secara beramai-ramai ke suatu tempat. Lalu, apa maksud Bonek menggemakan hestek tersebut?

Setelah berjuang tanpa lelah dan pamrih menghadapi kenaifan PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) soal legalitas nama dan logo Persebaya pada Juni lalu, kini Bonek kembali “unjuk gigi” guna memperjuangkan klub kesayangan mereka. Dikenal sebagai salah satu fans paling militan dan loyal, Bonek menggemakan hestek tersebut sebagai salah satu upaya menuntut keadilan kepada Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Adalah Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI yang menjadi target utama Bonek, sehingga rela berpeluh keringat demi Persebaya. Kongres itu sendiri diadakan di Jakarta pada 3 Agustus 2016.

Sudah sejak lama, PSSI dengan berbagai alasan berupaya menenggelamkan kapal bernama Persebaya. Mulai dari dipaksa degradasi pada 2010 silam, dicap pengkhianat karena kubu Bajul Ijo berlaga di Indonesia Premier League (IPL), mengakui Persikubar di bawah manajemen PT MMIB sebagai Bajul Ijo yang asli, sampai mematikan Persebaya dengan tidak mengakui klub keberadaan tim yang pernah bertanding melawan kesebelasan asal Inggris, Queens Park Rangers, pada 2012 yang lalu itu.

Tujuan Bonek beramai-ramai datang ke Jakarta adalah menyampaikan aspirasi dan tuntutan mereka terhadap PSSI. Mengembalikan hak-hak Persebaya untuk dapat berkompetisi di persepakbolaan Tanah Air adalah yang paling utama. Tentu lucu, jika Persebaya yang masih terdaftar sebagai anggota resmi PSSI, namun dimatikan paksa lewat sederet dalih-dalih ajaib itu.

PSSI juga tak perlu khawatir, kalau-kalau Bonek meminta klub kesayangan mereka langsung main di kasta teratas. Harus main di level paling rendah di Tanah Air pun Bonek tak masalah dan akan selalu mendukung Persebaya. Yang penting, hak-hak Bajul Ijo dikembalikan. Sederhana sekali, tho?

Pada titik ini, saya merasa bahwa Bonek merupakan representasi ‘Justice League’ yang minus kekuatan super. Ya tak ada Bonek Superman, Bonek Aquaman, Bonek Batman, atau Bonek Wonder Woman. Bonek hanya kumpulan manusia-manusia biasa yang di dalam hatinya ada cinta yang luar biasa untuk si hijau Persebaya. Mereka rela melakukan apa saja demi klub kesayangannya. Demi keadilan…

Seperti yang selama ini kerap digaungkan oleh pentolan Bonek, Cak Andie Peci, keadilan adalah ibunda dari setiap perlawanan dan perjuangan Bonek. Maka perjuangan Bonek menuntut keadilan terhadap PSSI pun takkan pernah selesai hingga keadilan itu benar-benar tegak berdiri. Karena Bonek akan terus berjuang dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, demi Persebaya.

Salam Satu Nyali. Wani!