Saya Islam, Moderat, dan Toleran, Bukan Liberal

Saya Islam, Moderat, dan Toleran, Bukan Liberal

Ilustrasi (salah satu scene film Sang Kiai/grazia.co.id)

Hari ini banyak kita saksikan fenomena ketika seorang muslim yang memperjuangkan sikap berislam yang moderat, toleran, dan ramah dijuluki sebagai liberal. Hal ini menjadi semacam ‘mantra sakti’ bagi justifikasi negatif kepada muslim yang menjunjung toleransi.

Seiring berkembangnya zaman dan otak manusia, sebutan kafir dan zindiq (ateis) sudah dianggap kuno dan tidak tren lagi, kecuali bagi beberapa golongan yang masih doyan dauroh di dalam goa.

Beberapa orang yang frustasi karena tidak mendapatkan apapun dari mengkafirkan dan men-zindiq-kan orang lain, maka memilih menggelari orang-orang tadi dengan sebutan liberal.

Sebagaimana belakangan dilakukan oleh seorang ustad yutub dalam video yang viral di media sosial berjudul “Rahasia Univ Penganut Liberal dan Pandangan Jogja”. Dalam video berdurasi 6 menit 47 detik itu, ia bicara tentang gempa yang menjadi langganan bencana di Indonesia.

Kemudian menggeneralisir bahwa banyaknya orang liberal pada civitas akademika di salah satu kampus Islam di Jogja menjadi penyebab sering terjadinya musibah di kota tersebut. Aih, cocoklogi tujuh level di atas tingkat dewa kayaknya.

Liberal, menurut mereka, adalah orang-orang Islam yang memilih berpikir bebas, tidak terikat dengan ‘Islam’. Maka disebutlah mereka sebagai orang-orang yang tidak mau berislam secara kaffah. Sekali lagi, ‘Islam’ versi mereka dan kaffah menurut mereka tentunya.

Islam bagi mereka para penjustifikasi, Islam atau tidaknya orang lain harus sesuai standar yang mereka anut.

Islam yang text minded berputar di sekitar dalil naqli seraya menginjak-injak akal dan nalar, jika itu dianggap bertentangan dengan teks-teks suci yang mereka anut dan mereka tafsirkan secara dangkal.

Islam bagi mereka adalah Islam yang marah, ngamukan, dan tersulut sumbunya bila disenggol. Semakin pendek sumbunya, maka dianggap semakin besar ghirah (semangat) jihadnya.

Mereka tidak pernah mau tahu tentang moderatisme dan toleransi, karena bagi mereka bersikap toleran dan menjunjung pluralitas adalah liberal dan pengkhianatan terhadap kaffah-nya beragama. Semakin fanatik, maka semakin kaffah. Semakin ashobiyyah (fanatik buta), semakin dianggap membela agama.

Islam yang benar menurut mereka adalah yang memaksa semua orang untuk menjunjung tinggi kenyamanan dan kondusifitas mereka bila sedang ‘beribadah’, sehingga yang tidak sesuai harus menyesuaikan diri dengan mereka.

Islam yang benar dalam pandangan mereka adalah Islam yang hobi mengagresi ‘kesesatan’ agama dan mahzab yang berbeda dari mereka.

Dan, bagi mereka, Islam yang benar adalah yang sesuai standar mereka tentang apa itu Islam, bukan standar orang lain. Karena bagi mereka, Islam mereka adalah Islam versi ‘original’, absolut, dan murni. Sedangkan Islam yang dianut orang lain dianggap palsu.

Oh jangan tanya kepada mereka kenapa berkeyakinan begitu. Karena pokoknya mereka meyakini begitu, pokoknya, dan pokoknya ya begitu. Yaelah, tegang amat bang.

Tanpa sadar sebenarnya manusia-manusia sejenis inilah yang sebenarnya penganut ideologi liberal akut.

Ketika para muslim moderat (yang katanya liberal) begitu berhati-hati mengkafirkan orang lain, maka golongan (yang ngakunya) anti-liberal ini dengan begitu liberalnya mengkafirkan dan mensesatkan orang lain karena tidak sepaham.

Bagi mereka hal berat yang punya konsekuensi mahaberat semacam mengkafirkan adalah hal yang lumrah. Hingga mengkafirkan orang lain lebih mudah daripada membalikkan telapak tangan.

Dan itu, bagi mereka, adalah tanda kaffah-nya Islam. Mereka menjadikan firqah (golongan) mereka sebagai ukuran kebenaran bagi orang lain.

Ketika melihat kelompok yang sama, maka ia nyatakan selamat. Namun, ketika melihat yang berbeda, maka ia nyatakan sesat dan masuk neraka.

Guru linguistik mereka telah mengajarkan kata ‘beda’ adalah sinonim dari kata ‘sesat’. Mereka menjadikan golongannya dan ulama-ulama rujukan kelompoknya sebagai standar kebenaran itu sendiri, sebagai penjaga kemurnian ‘Qur’an dan Sunnah’.

Dengan begitu, siapapun berislam dengan penafsiran yang sesuai dengan mereka adalah pengikut ‘Qur’an dan Sunnah’. Sementara yang berbeda dari apa yang mereka dan para ulama mereka anut adalah kaum ingkar Sunnah dan tempatnya pasti neraka.

Betapa mudahnya mereka menjadikan diri mereka standar kebenaran orang lain, standar bagi selamat atau tidaknya manusia lain. Bukankah pola pikir seperti itu sangat liberal? Kalau sudah begitu, lalu siapa sebenarnya yang berislam secara liberal?

Ngarti ora son?