Kalau LGBT Penyakit Jiwa, Berarti Hetero juga?

Kalau LGBT Penyakit Jiwa, Berarti Hetero juga?

Ilustrasi (Stocksnap/pixabay.com)

Tidak bisa dipungkiri, permasalahan Indonesia dan LGBT cukup meresahkan. Bukan karena jumlah orang yang mengaku sebagai LGBT semakin banyak, tapi semakin maraknya kesalahpahaman.

Itu tak lain karena ingin menguatkan kehendak dari mayoritas yang menolak keberadaan LGBT. Padahal, LGBT sudah menetap di Indonesia sejak lama. Menjadi warga negara yang baik, meski mereka dianggap tidak baik oleh negara.

Belakangan ini, muncul berita mengenai Kementerian Kesehatan yang mengkategorikan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) sebagai masalah kesehatan jiwa. Padahal, sejak 1973, Asosiasi Psikiater Amerika sudah menghapus LGBT dari buku DSM yang membahas penyakit jiwa.

Dan, Indonesia sudah ditegur oleh APA pada 2016 mengenai hal ini, karena pada tahun tersebut Asosiasi Psikiater Indonesia menganggap LGBT sebagai penyakit jiwa.

Lalu, bermunculan alasan yang digunakan oleh beberapa kalangan, termasuk Kemenkes, yang bilang bahwa LGBT bertentangan dengan agama, norma, dan budaya.

Mereka lebih memilih untuk mengkategorikan LGBT sebagai penyakit berdasarkan agama, norma, dan budaya Indonesia, bukan jurnal dan hasil penelitian sains yang jelas-jelas tidak bisa membuktikan bahwa LGBT adalah penyakit jiwa.

Jadi sebenarnya Kemenkes itu apa sih? Kementerian Kespiritualan?

Bahkan untuk alasan LGBT bertentangan dengan agama, norma, dan budaya Indonesia masih bisa diperdebatkan. Ada beberapa opini yang tidak menganggap LGBT sebagai suatu kesalahan. Bagi saya, sesuatu yang masih bisa diperdebatkan antara menjadi salah atau benar, berarti hal itu belum bisa dianggap benar-benar salah.

Dalam agama Islam, misalnya, yang saya dengar dari beberapa kisah, sebetulnya tidak terlalu mempermasalahkan orientasi seksual seseorang. Yang biasanya dibawa oleh mereka yang mendiskriminasi adalah kisah umat Nabi Luth yang diazab karena ‘homoseksual’.

Padahal, berdasarkan beberapa penjelasan yang saya dengar dan baca, kaum Sodom dan Gomorrah terkena azab dari Tuhan karena perilaku mereka yang tidak ramah terhadap pendatang dan tamu. Kaum Sodom dan Gomorrah terkenal akan ancaman mereka untuk memperkosa setiap tamu yang datang untuk menunjukkan kekuasaan.

Sementara itu, kalau membahas norma-norma yang ada di Indonesia yang katanya bertentangan dengan LGBT, ada benar dan salahnya. Ini semua tergantung dari apa yang dibahas. Kalau kita membahas perilaku hubungan intim di ruang publik, jelas menyalahi norma yang berlaku di Indonesia.

Tapi, kalau kita membahas tindakan pemerkosaan, jelas melanggar hukum yang berlaku di Indonesia. Tapi apa perilaku seperti itu mengacu kepada LGBT?

Bukankah mereka – yang memiliki orientasi heteroseksual atau ketertarikan seksual terhadap orang-orang yang berbeda jenis kelamin – juga banyak melakukan pemerkosaan dan bermesraan di ruang publik?

LGBT hanyalah orientasi seksual yang jelas-jelas tidak menyalahi norma yang berlaku, melainkan perilaku pribadi yang bermasalah, menyalahi norma layaknya heteroseksual yang tidak jauh berbeda. Mau tahu apa yang menyalahi norma Indonesia? Mendiskriminasi, mengkriminalisasi, mengucilkan, dan melukai orang-orang, termasuk LGBT.

Lalu, masalah budaya. Budaya Indonesia sebenarnya salah satu budaya yang bertoleransi tinggi. Di Bugis mengenal lima jenis kelamin, bukan dua seperti yang selama ini kita kenal. Lantas, budaya apa yang kita bicarakan? Budaya Arab? Tiongkok? Islam? Kristen?

Tapi saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Kemenkes karena mengkategorikan LGBT sebagai penyakit jiwa. Sebab, kementerian – layaknya politisi – sangat menginginkan persetujuan dan dukungan dari masyarakat.

Sedihnya, beberapa kalangan menganggap bahwa dukungan dari masyarakat lebih penting dibanding mengerjakan sesuatu yang seharusnya mereka kerjakan.

Tapi dengan adanya pernyataan dari Kemenkes seperti itu, negara mampu ‘mengurangi’ populasi LGBT di Indonesia. Kata ‘mengurangi’ yang saya maksud adalah bakal makin banyak LGBT yang menutup diri dan tidak mengaku.

Karena yang berbahaya dari pernyataan itu adalah bakal maraknya terapi conversion yang jelas-jelas terbukti berbahaya. Untuk terapi conversion dan dampak yang dirasakan korban, bisa baca-baca dan menonton video mengenai hal itu.

Lalu pertanyaan selanjutnya, kalau LGBT dianggap penyakit jiwa, apakah heteroseksual juga? Karena pada dasarnya, heteroseksual, homoseksual, biseksual, aseksual, panseksual, dan lain-lain adalah sama. Sama-sama orientasi seksual.

Lagipula, kalau kamu menganggap mereka itu sakit, bukannya setiap penyakit akan dicari obatnya? Kalau kamu menganggap mereka sakit jiwa, bukannya penyakit jiwa bisa disembuhkan lewat terapi?

Sayangnya, nggak ada obat yang terbukti bisa menyembuhkan LGBT. Karena LGBT memang bukan penyakit. Dan, kalau itu dianggap sebagai penyakit jiwa, nggak ada terapi yang terbukti bisa menyembuhkan LGBT. Bukan begitu bapak ibu Kemenkes?

Sekali lagi, mereka yang berbeda orientasi seksual adalah saudaramu dalam kemanusiaan.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN