Lepas dari Kesepian dengan Cara yang Indah

Lepas dari Kesepian dengan Cara yang Indah

Ilustrasi (8tracks.com)

Suatu hari saya menyadari betapa me time itu penting. Studi yang dilakukan seorang peneliti dari Universitas Birkbeck, Dr Almuth McDowall sudah membuktikan bahwa me time yang berkualitas dapat meningkatkan kesehatan psikologis.

Lewat me time, manusia dapat menemukan keseimbangan dan kesejahteraan dalam hidup dan pekerjaan. Lalu saya harus me time di mana? Tempat asing mana yang pas?

Di tengah kebingungan itu, seorang kawan datang dengan sebuah anjuran, “Kota yang asik itu Salatiga. Enak. Kecil. Sepi. Sendiri. Terus bisa buat bunuh diri…”

Pikiran tentang bunuh diri memang hak setiap orang. Saya yakin setiap manusia memiliki dorongan untuk mencoba melepaskan diri dari dunia. Apalagi, belakangan ini, ketika fakta-fakta sosial makin njelimet. Globalisasi menyuguhkan berita-berita lengkap dengan kecurigaan-kecurigaan.

Masyarakat pun makin sibuk. Di dunia nyata maupun maya. Kita sama-sama bisa menyadari betapa bising hidup kita selama ini mengomentari – atau sekadar menyaksikan – segala hal yang lalu lalang di media sosial. Mulai dari hal receh hingga kemaslahatan umat manusia.

Asa Firda Inayah atau Afi, remaja Banyuwangi yang sempat dirisak karena plagiarisme, juga mengaku merasakan hal yang sama. “Saat tudingan (plagiarisme) itu muncul saya di masih di Jakarta. Saya menangis sendirian di kamar hotel. Saya depresi dan sempat berpikir bunuh diri,” kata Afi dalam sebuah wawancara.

Tentu bukan hanya Afi – yang jelas-jelas dirisak karena kesalahannya – jutaan manusia perkotaan di tengah keberulangan rutinitas dan alienasi khas industrinya pun tentu pernah menghadapinya.

Jika sudah ada kesadaran bahwa hidup ini berisik dan kita kesepian di tengah-tengahnya, hal yang ingin dilakukan tentu mencari jalan keluar dari ketidaknyamanan itu.

Jalan keluar dari segala bumbu kehidupan itu adalah keimanan, sodara-sodara. Keimanan pada karya sastra – atau yang saya lebih anjurkan adalah keimanan pada puisi.

Kesepian dan absurditas keberadaan manusia hanya dapat dilenyapkan melalui cerita-cerita. Saya mengamini Richard Rorty dengan konsep kultur poetik-nya (poetic culture). Bahwa semua cerita selalu bermula dari sebuah ruang sendiri atau privat.

Di dalam kesendirian, manusia mengalami berbagai peristiwa negatif atau penderitaan. Beberapa orang bungkam, memendamnya sendiri, hingga akhirnya jadi depresi (dan) atau memutuskan bunuh diri.

Sementara yang lain bisa mengungkapkannya dengan menulis. Dan, puisi adalah bentuk yang paling lentur untuk mengungkapkan perasaan manusia.

Menulis puisi yang estetis tentu jadi tujuan setiap orang, meski cara menujunya berbeda-beda, tergantung selera. Beberapa orang suka puisi Sapardi atau Sutardji dan berusaha menulis sepertinya.

Sedangkan beberapa orang mendewakan Pramoedya dan berupaya menulis quote-quote penuh ketegaran sepertinya. Beberapa berhasil, beberapa tidak. Tentu anda sudah mengira kalau ‘menjadi diri sendiri’ itu lebih bisa berhasil.

Terlepas dari itu, secara makna, setiap orang sudah memperolehnya ketika memutuskan menulis. Menulis puisi bermakna sebagai pelepasan rasa sakit dan penghinaan yang dirasakan manusia.

Kalau puisi dilempar ke ruang publik pun, ia akan dipahami sebagai puisi, bukan curahan hati semata – yang mengizinkan orang lain ikut campur tentang urusan orang lain – apalagi mempengaruhi setiap keputusan eksistensialnya; menciptakan rasa sakit dan penghinaan baru.

Kemudian, ruang publik berfungsi sebagai ruang bercerita, ruang mencurahkan isi hati. Ruang publik semacam menampung cerita-cerita dan air mata yang menyumbang banyak terhadap licinnya urusan hati. Iya, sebab licin, jadi sering tergelincir.

Maka, orang-orang yang menulis puisi atau penyair sebetulnya adalah pembentuk solidaritas sosial. Melalui tuturan dan tulisan-tulisan mereka, kita dapat melihat penderitaan yang dialami orang lain. Manusia pun akan mengasah kepekaan dan solidaritas. Penikmat puisi bisa terdorong untuk tidak menyakiti orang lain.

Saya kutip puisi ini…

Tentara tak berbekal mendarat

Di malam disuburkan lapar

(Bila fajar bawa berita

kayu apung istirahat mereka)

Tentara tak berbekal mendarat

Di malam disuburkan lapar

(Sitor Situmorang, Pendaratan Malam)

Ketika orang-orang seperti Sitor menulis tentang ‘pengorbanan tentara’ sebagai puisi, maka sesungguhnya ia melakukan reportase. Ia memberi kabar tentang sebuah realitas yang tidak baik-baik saja, hingga kemudian – dalam bahasa Rorty – kita bergerak menuju kemajuan moral.

Di tengah pluralitas Indonesia – yang terpisah secara tempat maupun ide – para penyair juga mampu berperan baik. Bayangkan, kalau setiap orang bisa menulis karya sastra tentang identitas masyarakat di tempat mereka. Kemudian, semua orang membacanya melalui puisi dalam buku atau internet, bersimpati, dan tergerak.

Maka, selesai sudah perkara merekatkan solidaritas dan hal-hal yang sedang diupayakan presiden lewat rapat-rapat ulama, tagar ‘Saya Indonesia, Saya Pancasila’, dan sebagainya.

Daripada depresi lalu bunuh diri, hendaknya kita berpuisi. Seperti tajuk yang dilempar Joko Pinurbo ke ruang publik, “Selamat menjalankan ibadah puisi dalam rangka mendekatkan diri padanya.”