Lemesin Ajah…

Lemesin Ajah…

quotesgram.com

“Taqlid yang paling buta ialah membebek pertikaian orang di kawasan lain hingga ikut menyebar fitnah2 mereka di negeri sendiri.” Begitulah kicauan KH Mustofa Bisri alias Gus Mus yang dibubuhi tagar #FatwaAhad. Saya pun jadi penasaran dan menelusuri cuitan ulama cum budayawan cum penyair tersebut. Apa maksudnya ada pertikaian di kawasan lain dan fitnah?

Setelah menelusuri, saya berkesimpulan kalau twit Gus Mus terkait pertikaian di Suriah, negara yang saat ini terjadi konflik yang menewaskan banyak warga sipil. Segala informasi soal itu mengalir deras ke penjuru dunia, termasuk Indonesia. Seperti lazimnya sebuah tragedi, banyak bermunculan tagar di media sosial. Misalnya #SaveAleppo.

Saking derasnya, banyak informasi terutama berupa foto-foto mengenaskan yang menyesatkan opini dan menimbulkan fitnah. Misalnya, foto anak kecil yang membawa potongan tangan ibunya yang penuh darah. Bocah ini disebut-sebut selamat dari serangan roket dekat rumahnya. Tapi ternyata itu hanya kostum Halloween. Foto itu pun diunggah pada 2013. Tapi ya bagaimana, sudah terlanjur viral. Bahkan ada ustad yang ikut-ikutan share segala. Sehat tad?

Lalu ini maksudnya apa? Kita memang sangat peduli kemanusiaan, tapi ya nggak begitu juga kali. Lemesin ajah… Di era globalisasi ini, kita memang mudah untuk mengakses data, informasi, atau berita dalam waktu sekejap melalui teknologi informasi. Bahkan ada frasa “Mbah Google”, ketika kita dirasa membutuhkan informasi apapun, meski istilah itu sebenarnya kurang tepat. Ya iyalah. Misalnya, simbahku, semakin tua, jalannya semakin pelan. Ya kurang tepat. Bukankah dalam mengakses Google, informasi yang kita peroleh sangat cepat, tapi memang belum tentu akurat.

Derasnya arus informasi memungkinkan kita untuk menyebarkan informasi dengan sama cepatnya. Jeleknya, kita sering lupa untuk mengecek kebenaran data, fakta, dan informasi. Arus sebar menyebar secara masif sering menimbulkan fitnah. Kenapa bisa terjadi? Bisa beragam alasan, misalnya terlalu puber dengan teknologi, tidak siap menghadapi globalisasi, level kecerdasan, hingga komoditi kepentingan tertentu.

Saya curiga, berbagai pertikaian di Suriah, termasuk dalam serentetan ‘revolusi’ di Timur Tengah dan sebagian Afrika, yang terkenal dengan sebutan ‘Arab Spring. Fenomena itu sendiri sudah menimpa banyak negara. Tunisia menjadi negara pertama yang melakukan ‘revolusi’ pada 2010. Lalu berlanjut di Mesir, Libya, dan lainnya.

Khusus di Mesir, ‘revolusi’ terjadi dengan penuh kejutan, yakni turunnya para ‘Ultras’ atau suporter sepak bola garis keras, Al Ahly dan Zamalek. Kedua kelompok ini bergabung untuk melawan rezim Hosni Mubarak. Patut diketahui, bahwa kedua kelompok ini, aslinya saling bermusuhan. Kalau di Indonesia, ibarat Aremania dan Bonek atau Viking dan The Jak. Tapi, saat pemberontakan itu terjadi, mereka menanggalkan atribut dan rivalitas mereka, demi ‘revolusi’ di Mesir.

Arab Springtak lepas dari isu politik dan kekuasaan. Isu tersebut biasanya dibungkus dengan isu agama. Misalnya saja isu konflik Sunni dan Syiah. Kedua golongan yang dahulunya berdampingan, saat ini sedang diadu domba. Dan, parahnya konflik ini “dikirim” ke Indonesia.

Di Indonesia sendiri, Sunni dan Syiah juga hidup berdampingan. Tidak ada masalah. Sebelum akhirnya ada yang membenturkan. Dan, saat ini, kehidupan warga Syiah di Indonesia menjadi tidak aman. Yang lucu adalah mereka tidak hanya “mengimpor” isu Sunni dan Syiah, tapi juga “mengimpor” fitnah. Fitnah bahwa ulama A adalah Syiah. Dan, ulama A darahnya halal. Santai lah…

Dalam kasus ini saja bisa dilihat bahwa globalisasi tidak hanya memberikan efek baik bagi kita. Tapi juga efek buruk. Globalisasi tidak bisa dicegah, karena itu tuntutan zaman. Yang ada hanyalah disaring. Globalisasi harus disaring, agar yang buruk tak masuk dengan begitu bebasnya.

Belum lama ini, netizen sempat digemparkan dengan berita terpilihnya Sadiq Khan sebagai wali kota London. Ia adalah wali kota pertama dari kalangan muslim. Iya, di London. Ibukota negara dzolim, kafir, dan liberal. Inggris yang menjadi musuh bersama para pembenci kapitalisme (bersama Amerika Serikat), ternyata memiliki seorang wali kota muslim.

Ini aneh. Aneh dong. Aneh karena mereka yang biasanya menghina Inggris, karena ikut terlibat dalam operasi militer di Timteng bersama AS, ternyata mampu menerima perbedaan. Saya kasihan saja. Kasihan mereka akan kekurangan bahan untuk menyalahkan Inggris dan AS. Toh, saat ini, Inggris ternyata selangkah lebih maju dari Arab Saudi. Negara digdaya, kaya, dan punya segalanya itu.

Jangankan pemimpin non-muslim, perempuan menyetir mobil saja dilarang. Apalagi menjadi pucuk pimpinan? Apalagi non-muslim? Beh, bisa jadi perkedel kalau macam-macam di sana. Sebenarnya, kalau mau adil, mereka yang ingin agar Islam lebih dihargai di negara Barat, ketika tahu bahwa ada seorang muslim yang menjadi wali kota di negara Barat, mereka harusnya juga memiliki keinginan agar negara Islam mengizinkan non-muslim dan perempuan menjadi pemimpin. Adil toh?

Yang lebih absurd lagi, mbok ya ada yang ingin agar fenomena Sadiq Khan juga terjadi di Jakarta. Ya betul, Teman Ahok. Mereka ingin agar minoritas menjadi pemimpin di Jakarta. Ngimpi kowe, le… Jakarta kok disamakan dengan London. Indonesia kok disamakan dengan Inggris. Ya jelas wagu.

Mana mau orang kita menerima keturunan Tionghoa, non-muslim, dan tak santun pula menjadi seorang pemimpin? Jangan, jangan salahkan orang Indonesia. Orang Indonesia itu lebih mendahulukan asas kekeluargaan. Misalnya yang terjadi di nun jauh di sana, sebuah provinsi yang berdekatan dengan Jakarta. Bagaimana tidak kekeluargaan, pemimpinnya masih satu keluarga.

Orang Indonesia itu juga paham mana yang harus menjadi polemik. Saking pahamnya, semua dijadikan polemik. Tiada hari tanpa polemik. Persis kayak kalian yang masih meributkan Jokowi dan Prabowo. Jadi ya isu di luar negeri seperti Sadiq Khan, biarlah ramai di Inggris. Nggak usah nebeng-nebeng. Kembali ke karakter dan prinsip masing-masing. Lemesin ajah….