Pengakuan Lelaki Semenjana tentang Perempuan Cerdas

Pengakuan Lelaki Semenjana tentang Perempuan Cerdas

Ilustrasi (thenation.com)

Saya selalu percaya bahwa perempuan cerdas jelas tidak akan mau dengan lelaki bodoh, insecure, dan penakut. Perlu saya jelaskan bahwa takut atau ukuran nyali tidak ada urusan dengan jenis kelamin.

Jadi, kalau ada produk olahan timun suri yang menyebut penakut perlu pakai rok, ya dia punya kualitas nalar satu digit di bawah punden berundak alias nggak ada.

Kembali dengan perempuan cerdas. Kalau kamu terdidik, mandiri, dan kritis, maka kamu tahu bahwa banyak lelaki di kolong langit ini yang penakut.

Kamu dipaksa percaya bahwa perempuan yang baik itu yang mau diajak susah dari nol, bukan yang sukses dan mapan seperti Khadijah.

Kamu dipaksa percaya bahwa perempuan yang baik adalah penurut dan tunduk. Bukan yang kritis, berani bicara, lugas, dan jujur seperti Aisyah.

Kamu dipaksa percaya bahwa perempuan yang baik itu diam di rumah, merawat anak dan suami, bukan yang bekerja menyamak kulit dan dermawan seperti Zainab binti Jahsy.

Sekujur peradaban Islam memiliki catatan sejarah perempuan hebat yang daya pikirnya lebih luas. Salah satu bukti peradaban Islam yang dibangun perempuan adalah perpustakaan Al-Qarawiyyin di Maroko.

Terletak di bekas ibu kota Maroko, Fez, Al-Qarawiyyin adalah rumah bagi beberapa manuskrip paling langka dan unik di dunia.

Selama ini hanya bisa diakses oleh kurator dalam beberapa kasus istimewa. Perpustakaan ini dibangun oleh seorang sarjana perempuan progresif muslim bernama Fatima al Fihri pada 859.

Di perpustakaan ini terdapat berbagai kitab klasik ajaran Islam, setidaknya ada 4.000 manuskrip yang berisi hukum, sejarah, dan ajaran Islam.

Salah satu koleksi paling penting perpustakaan ini adalah Al Qur’an dari abad ke-9, yang ditulis dalam kaligrafi Kufic serta kitab sirah tertua yang bercerita tentang kehidupan Nabi Muhammad.

Bayangkan, kalau Fatima al Fihri tunduk pada standar kepatutan pria-pria dengan maskulinitas rapuh, mungkin ia tidak akan dicatat sejarah.

Tapi ya buat apa? Perempuan nggak usah pintar-pintar. Gak perlu itu. Mereka cuma harus bisa melayani kalau diminta, diam kalau dipukul, dan pasrah kalau dilecehkan.

Kalau semua perempuan pintar, siapa yang bisa dibohongi? Siapa yang bisa disuruh masak ini-itu? Kalau semua perempuan pintar, siapa lagi yang bisa direndahkan?

Tapi yang rumit, kadang karena ingin progresif, beberapa dari kita kerap merisak perempuan yang ingin mengabdikan diri untuk keluarga.

Mereka yang ingin jadi ibu rumah tangga, mengabdikan diri kepada pengembangan mutu keluarga, mulai anak hingga suami dan asisten rumah tangga, dianggap lebih baik daripada yang sekolah. Sementara yang progresif dan maju menganggap jadi ibu itu rendah dan bentuk penindasan.

Hanya laki-laki yang punya hak mengatur orang lain, perempuan tidak. Menjadi ibu atau wanita karir itu bukan hak perempuan. Cuma laki-laki makhluk adiluhung di dunia ini yang bisa mengatur perempuan.

Laki-laki secara kodrati itu ya berkuasa dan berprestasi. Misalnya, genosida Yahudi siapa yang mulai? Ya tentu saja perempuan. Itu pembantaian orang-orang Armenia oleh kekhalifahan Turki siapa yang mulai? Ya tentu saja perempuan. Siapa yang memulai pembantaian cucu nabi di Karbala? Ya perempuan.

Ini nih kalau perempuan tidak dinikahi muda. Pernikahan dini, standar usia 16 tahun yang ada sekarang, terlalu tua. Perempuan lulusan SD ya harus bisa dinikahi. Usia 12 tahun ya bukan pedofil.

Mengapa perempuan harus sekolah tinggi-tinggi, kalau ujung-ujungnya cuma buat ngurus anak? Persetan Tahani Amer, muslimah berkewarganegaraan Amerika Serikat, yang bekerja untuk NASA atau Sameera Moussa, yang dijuluki sebagai Ibu Teknologi Atom Mesir.

Atau, Prof Nesreen Ghaddar yang memiliki gelar PhD dari MIT dan tercatat sebagai profesor teknik mesin di American University of Beirut. Atau, putri Yusuf Al-Qaradawi, Prof Ilham Al-Qaradawi – pakar fisika nuklir yang sukses membangun slow positron beam pertama di Timur Tengah.

Upaya untuk menjadikan perempuan terhormat kadang omong kosong dan kerap kali ambyar. Karena kadang hal mengerikan dari usaha merendahkan perempuan adalah tidak hanya laki-laki yang melakukan itu. Perempuan juga.

Perempuan dianggap lebih baik di rumah daripada bekerja, yang melahirkan normal lebih baik daripada sesar, dan yang tidak mau punya anak dianggap menolak rejeki.

Kemudian perempuan yang berdandan dianggap binal, yang tidak berdandan dianggap tak sayang suami, yang menyusui lebih baik daripada pakai susu formula. Semua ini lahir dari kebencian, misoginisme, yang dibalut dalam patriarki.

Sebagai manusia semenjana dan kerdil, saya yakin orang yang berpendidikan tinggi akan jauh dari agama. Apalagi perempuan berpendidikan tinggi. Pasti akan meninggalkan agama. Ini sudah pasti, tidak bisa tidak.

Saya takut dong kalau diri ini terlihat medioker. Untuk itu, saya lebih milih yang lulusan SD, yang mau diam di rumah. Tapi kalau memang nggak bisa diam di rumah nggak apa-apa deh, kerja di luar, asal mau tunduk sama perintah saya.

Bahaya, kalau misalnya mereka punya kesadaran kritis. Mereka bisa belajar betapa demokratisnya Nabi Muhammad memperlakukan istrinya. Sementara saya ingin mengeksploitasinya.

Untuk itu, perempuan jangan disekolahkan tinggi-tinggi. Sudah dari sononya laki-laki itu baik dan perempuan tidak. Perempuan itu bengkok dan perlu diluruskan. Kalau laki-laki mah dari sononya udah lurus.

Tidak perlu percaya statistik bahwa kejahatan banyak dilakukan laki-laki. Jangan percaya data yang menunjukkan bahwa pelaku kekerasan rumah tangga tertinggi adalah laki-laki.

Justine Musk, seorang penulis – mantan suaminya nggak penting, Justine sebagai individu lebih penting – menyebut musuh feminisme bukan laki-laki, tapi patriarki. Patriarki itu bukan laki-laki, tapi cara pikir.

Dan, perempuan bisa mendukung cara pikir ini, sebagaimana laki-laki bisa menjadi feminis dan memperjuangkan kesetaraan gender dan kemerdekaan berpikir.

Perempuan menolak menikah dituduh tidak laku. Perempuan yang kritis dicurigai tidak tahu adab. Perempuan yang mandiri dianggap menyeramkan dan bukan perempuan. Label-label produksi manusia zaman batu ini memang ajaib. Seajaib mereka yang percaya dengan label ini.

Kamu tumbuh dengan diajari bahwa perempuan itu mesti nurut sama suami. Perempuan mesti bisa nyapu, mesti bisa nyuci, mesti bisa masak, dan mesti bisa melayani. Laki-laki diajarkan bahwa mereka harus bisa tegas, kuat, jangan nangis, dan berani.

Itu mengapa saya selaku laki-laki yang sejak kecil diajarkan jadi pemimpin dan harus kuat, kaget melihat perempuan mandiri dan bisa hidup tanpa laki-laki. Saya takut tidak bisa berkuasa, karena menurut saya relasi pernikahan itu adalah relasi antara tuan dan budak.

Saya percaya feminis dan patriarkis itu perkara sudut pandang dan pola pikir. Bukan soal jenis kelamin. Laki-laki feminis dan perempuan patriarkis itu ada.

Untuk itu, saya berterima kasih kepada perempuan patriarkis yang melanggengkan budaya kuasa laki-laki.

Terima kasih juga kepada perempuan yang saling menghina sesama perempuan, alih-alih bersekutu dan berserikat melawan misoginisme.

  • label manusia zaman batu..

  • Tata Aditya Mahendra

    Infonya sangat bermanfaat gan

  • Alfian Andi Nugraha

    intinya kita jangan saling membedakan

  • RAHMAD JAZULI

    nice infonya gan