Lelaki Abad 21

Lelaki Abad 21

Ilustrasi (styleblend.com)

Menjadi lelaki itu gampang-gampang susah, susah-susah gampang. Kaum perempuan dunia seolah menuntut kesempurnaan, jika memang tak ingin dikatakan banyak maunya. Tuntutan yang tinggi kadang tak sebanding dengan keadaan. Kalau diabaikan, ujung-ujungnya bilang, “Ah… hambar banget.”

Percayalah! Pada abad ke-21 ini, tak (pernah) mudah menjadi seorang lelaki yang kaffah lagi tulen. Nuansa kekinian sedang tidak berpihak pada kaum Adam. Ada saja yang bilang, “Baik saja tidak cukup”, “Hari gini cuma modal tampang”, hingga yang paling menyesakkan dada: “Semua lelaki sama saja!”

Berat betul cobaan menjadi lelaki pada era modern. Apa yang membuat lelaki begitu serba salah? Itu bukanlah kebetulan, apalagi hoax. Tanpa bermaksud seksis, faktanya memang demikian. Mungkin benar, lelaki butuh ‘jamu kuat’ agar tahan lama menghadapi situasi.

Sebagai lelaki yang ditakdirkan menjadi pelindung, uhukk… tentu harus kuat menghadapi kenyataan, sembari memutar ulang lagunya Virzha berjudul ‘Aku Lelakimu’. Kemudian tetap tenang sembari menganalisis kenapa framing itu bisa terjadi? Asyik…

Usut punya usut, semua itu mengarah pada salah satu lagunya Ratu berjudul ‘Lelaki Buaya Darat’. Buset, logis juga sepertinya. Bukan begitu mbak Maia, teh Mulan, eh?

Sederet lirik lagu tersebut cukup bisa menggambarkan betapa kurang asemnya lelaki dalam mengelabui perempuan. Apapun motifnya, dari yang hanya sebatas status, sampai misi merealisasikan visi hidung belang sembari menggolkan misi keong racun.

Tetapi bukan berarti tidak ada yang tulus dengan segenap cinta dan kasihnya. Ada, sekalipun agak pahit diakui, agak-agak gimana gitu. #curhat.

Kalau kata orang tua, karma itu adil. Mungkin, dosa berjamaah kaum lelaki secara akumulatif sejak masa lalu menemukan titik adilnya. Hari ini adalah pengadilan dunia yang dimanfaatkan betul dengan melempar guyonan ala satire, semisal melalui meme di media sosial.

Sebenarnya sindiran melalui meme, status, atau baliho sekalipun kalau ada – efek pilkada – bagus adanya. Ia berguna sebagai menu refleksi paket lengkap hingga terapi otak. Semuanya demi menjaga kewarasan berpikir.

Jika lelaki terus berkubang dengan segala sisi kelamnya, hanya akan membangun era kegelapan pada masa depan. Kalau begitu kan nggak seru, dimana-mana habis gelap terbitlah terang. Pergi gelap, pulang terang.

Bagaimana lelaki bisa jadi imam besar, kalau tidak belajar menjadi tauladan sejak dalam pikiran. Ye kan? Kelak, istri dan anak-anak kita membutuhkan sosok seperti itu. Jadi, jangan baper juga, framing terhadap citra lelaki saat ini ada positifnya.

Namun, seringkali sebagian lelaki latah juga dengan situasi tersebut. Yang dianggap paling meresahkan adalah frekuensinya yang begitu masif, kemudian menjadi semacam doktrin bahwa semua lelaki itu sama saja. Gimana sama, ya beda dong. Saya dan Rangga (Nicholas Saputra) jelas beda, beda nasib aja sih.

Mungkin banyak yang lupa, pada abad ke-21 ini, dengan segenap kemajuan plus tantangan yang ada, perlu menitikberatkan pada pentingnya inovasi serta economic growth with equity. Kalau tidak, “They lost everything.” Gimana, udah kayak calon gubernur belum? Aihh…

Jadi begini, situasi kekinian melahirkan ‘inovasi’ yang sebenarnya mengarah pada semacam ‘trik-trik jitu’. Yang paling menonjol dan masih relevan adalah pintar menjadi buaya dan mahir menjelma ular. Ini seolah menjadi skill khusus sebagian lelaki.

Jika dipikir-pikir memang terkesan jahat. Tapi skill tersebut seolah menjadi sebuah keniscayaan. Sebab, pada abad ini, menjadi lelaki tidak cukup modal tampang. Kecuali anda itu Baim Wong atau Stefan William ‘Si Boy Anak Jalanan’.

Menjadi lelaki butuh kenekatan, senekat Nassar mempersunting ummi Muzdalifah, meski belakangan ceritanya lain. Menjadi lelaki juga tak bisa sekadar baik, pemalu, dan pintar saja. Lihatlah Andi Arsyil yang namanya melambung di dunia sinetron dan punya prestasi akademik, namun belum juga dapat jodoh yang sholehah.

Menjadi lelaki juga butuh muka tebal dengan mentalitas baja plus nyeleneh rasa intelek ala-ala Vicky Prasetyo. Buktinya, Zaskia Gotik pernah jatuh dalam dekapannya. Begitu juga dengan beberapa perempuan cantik nan tajir lainnya.

Pada akhirnya, ‘inovasi’ ala-ala lelaki kekinian dengan segenap pendekatan telah banyak menyukseskan visi dan misinya pada abad ke-21 ini. Terkadang, menjadi  buaya yang garang adalah bagian dari maskulinitas yang kentara untuk menonjolkan daya tarik. Pun, menjadi ular ialah bentuk adaptasi yang dingin, gesit, dan mematikan.

Hidup memang kadang sukar dipercaya. Seorang teman yang baik, Nazar Syah Alam, pernah berpetuah, “Bunglon tidak pernah bisa menolak takdir bahwa ia berubah-ubah.” Tetapi tidak ada yang lebih menggelikan daripada membayangkan stigma berlebihan terhadap laki-laki.

Namun, percayalah pada ketetapan-Nya bahwa lelaki yang baik akan dipertemukan dengan perempuan yang baik pula. Menjadi baik dengan hati yang bening, pikiran nan jernih, adalah sebuah keniscayaan seorang manusia.

Oh ya, kalau sudah menjadi orang baik, tapi tetap saja dapet jodoh yang tidak baik, itu gimana? Ya bukan gimana-gimana, itu masih mending. Ada yang dari dulu nggak dapet-dapet. Nah?

  • kuer

    Bahaya sit ujong jih bg 😃