Leicester dan Kejayaan Kaum “Subaltern”

Leicester dan Kejayaan Kaum “Subaltern”

Reuters

Minggu, 1 Mei 2016, Leicester City berada di ambang sejarah. Bukan sejarah minor, melainkan sejarah besar yang bisa terukir dengan satu syarat mudah. Mengalahkan Manchester United di kandangnya, Old Trafford. Apa susahnya mengalahkan MU di kandang? Norwich pernah. Begitu juga West Bromwich. Sungguh suatu pekerjaan yang mudah bagi Leicester.

Bonus dari kemenangan tersebut tentu saja gelar juara Liga Inggris pertama bagi Leicester. Bukankah nikmat, bagi sebuah tim kecil, memastikan gelar juara di kandang sebuah tim (yang katanya) terbesar dan tersukses di seantero Inggris Raya itu? Lagipula, ini bukan hanya soal juara, tapi sebuah keniscayaan bahwa hasil akhir tidak pernah berkhianat pada usaha keras, meski itu tim kecil dengan sumber daya terbatas.

Leicester, kendati dimiliki pengusaha asal Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha, sejatinya bukan tim kecil yang memiliki bujet belanja minim. Sejak diakuisisi pada 2010, Leicester adalah klub sepak bola dengan finansial yang bagus, walau tak setajir dan semegah Manchester City atau Chelsea.

Namun, pada musim lalu, bulan yang sama, tim ini sempat berkutat di zona degradasi dan megap-megap hanya untuk sekadar bertahan di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Musim ini, kondisinya jauh berbeda. Kini, mereka hanya butuh satu kemenangan untuk keluar sebagai juara baru. Surealis? Iya. Menakjubkan? Pasti.

Dan, lebih spesialnya lagi, kemenangan itu bisa diwujudkan tepat pada 1 Mei atau pada saat Hari Buruh Sedunia. Jika kalah, Leicester tetap bisa juara pada dua pekan mendatang. Tapi, bukankah narasi ini akan semakin hebat, andaikata tepat pada 1 Mei, sebuah tim kecil berhasil menghancurkan lingkaran hegemoni tim besar di Inggris?

Leicester pun menjawab secara spektakuler dari apa yang pernah dikeluhkan budayawan kondang Goenawan Mohamad beberapa waktu lalu perihal, “Siapa yang berhak mewakili kaum miskin?” Jawabannya sederhana, “Leicester, bung!

Leicester adalah ‘perwakilan’ dari kaum subaltern seperti kaum miskin maupun buruh, yang selama ini menjadi subyek hegemoni kelas-kelas yang berkuasa. Akses yang minim serta ketidakmampuan melepaskan belenggu penguasa, membuat perjuangan kaum tertindas ini serasa ‘terwakili’ oleh Leicester.

Leicester City (cilisos.my)
Leicester City (cilisos.my)

Dari sejumlah tim mapan di Inggris, hanya Arsenal yang sukses unbeaten kala bersua Leicester. Tapi tim-tim lain semisal Liverpool, Chelsea, hingga Manchester City, semuanya bertekuk lutut di hadapan sang pemimpin klasemen sementara Liga Inggris tersebut. Dan, jika pada 1 Mei 2016, pasukan ‘Setan Merah’ asuhan filsuf membosankan dari Belanda itu bisa dipukul mundur, kita bisa merayakannya sebagai Hari Buruh yang paling berkesan dalam 10 tahun terakhir.

Sang juara baru, Leicester, akan menjadi simbol kemenangan para kaum subaltern. Kemenangan Leicester adalah jawaban sebuah tim yang mewakili semangat kaum kecil, yang ingin berteriak selantang-lantangnya kepada kaum elit atau para penguasa.

Indonesia sendiri termasuk negara yang masih memiliki hegemoni kuat terhadap kaum kecil. Akses mereka yang senantiasa minim dan selalu mengorbankan banyak hal, seperti tanah dan kehidupan demi memajukan negara atas nama pembangunan. Mulai dari penggusuran, proyek reklamasi, pabrik semen di Rembang, hingga intimidasi warga Papua.

Karena itu, kemenangan Leicester patut dirayakan semaksimal mungkin, dengan euforia yang gegap gempita. Ini adalah musim bersejarah yang belum tentu akan terulang lagi musim depan. Nyaris tidak ada ‘Dewi Fortuna’ atas kejayaan Leicester musim ini.

Leicester mampu bermain taktis, cerdas, dan efisien. Hampir semua tim besar mereka taklukan. Mereka juga tampil efektif ketika di bawah tekanan. Sekelumit fakta yang menunjukkan bahwa Leicester sangat pantas juara. Kerja keras mereka adalah semangat yang perlu diresapi para kaum subaltern di negara ini. Seperti tutur mbah Pramoedya Ananta Toer, “Berjuang sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Karena itu, demi kemanusiaan dan semangat revivalis kaum kecil, Leicester harus juara secara spektakuler, tepat pada Hari Buruh Sedunia. Ketika itu semua terjadi, sudah sahih rasanya kita menyebut sebuah idiom manis, “Leicester adalah kita.”