Lebih Takut Lihat JIN atau PKI?

Lebih Takut Lihat JIN atau PKI?

JIN rupanya makin canggih saja, buktinya JIN bisa masuk internet. JIN yang dimaksud adalah Jemaat Islam Nusantara. Sejak penampakannya, Jemaat Islam Nusantara (JIN) langsung bikin heboh.

Silakan googling Jemaat Islam Nusantara (JIN), berbagai situs, blog, dan akun medsos ramai membahasnya. Tapi yang paling banyak, justru komentar atau pandangan yang mengutuk JIN, terutama dari kalangan yang mengklaim paling Islam.

Kenapa dikutuk? Banyak opini yang berseliweran, mulai dituding sebagai penyebar paham sesat, menolak budaya arab dalam Islam, berhubungan mesra dengan Syiah, sampai dianggap reinkarnasi dari Jaringan Islam Liberal (JIL) pimpinan Ulil Abshar Abdalla.

JIN juga dinilai sebagai pendukung wacana Islam Nusantara. JIN sebenarnya muncul tak lama sejak heboh baca Al Quran dengan langgam Jawa dalam peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara.

Apa yang salah dengan Islam Nusantara? Padahal, sejumlah kalangan menyebut Islam Nusantara sebagai Islam yang lembut dan santun, sejuk, serta sesuai adat ketimuran. Islam Nusantara juga diklaim mengakui perbedaan, menghargai kemajemukan, menghormati keragaman, dan suka dialog.

Bahkan, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj bertekad bahwa Nahdlatul Ulama (NU) akan terus memperjuangkan dan mengawal model Islam Nusantara.

Tak ketinggalan, Presiden Jokowi menyatakan dukungannya secara terbuka atas model Islam Nusantara. Jokowi berujar, “Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata karma. Itulah Islam Nusantara, Islam yang penuh toleransi.”

Jika demikian, kenapa harus dipersoalkan? Bukannya Islam itu adalah agama ‘Rahmatan Lil Alamin’, yang artinya rahmat untuk alam semesta, rahmat untuk semua? Jangankan Islam Nusantara, JIN, JIL, Syiah, Ahmadiyah, Wahabi, agama Islam juga menghormati segala perbedaan, termasuk agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan lainnya.

Paranoid?

Saat ini, rupanya masih banyak masyarakat Indonesia yang paranoid alias ketakutan yang berlebihan. Buktinya, belum habis polemik JIN, kini masyarakat punya ketakutan baru, yaitu isu kebangkitan komunis di Indonesia.

Kenapa takut? Bermula dari adanya isu bahwa Presiden Jokowi akan meminta maaf kepada keluarga kader dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Namun, belum jelas kebenaran kabar tersebut, sejumlah tokoh agama, partai, pensiunan jenderal, ormas, dan publik langsung heboh.

Banyak yang menyebut Jokowi dan PDI-P disusupi PKI, tindakan itu melukai hati bangsa, memaafkan berarti masyarakat Indonesia mengakui tragedi pembantaian PKI pada 1965, dan lainnya.

Terlepas dari Tragedi 1965 yang masih misteri, sebagian besar sejarawan sepakat bahwa setidaknya setengah juta orang dibantai atau terbesar dari peristiwa manapun dalam sejarah Indonesia.

Setelah pembantaian, otak masyarakat didoktrin bahwa PKI itu organisasi terlarang, komunis itu anti Tuhan, bengis, pemberontak, dan lain-lain. Makanya begitu muncul isu permintaan maaf, masyarakat langsung paranoid.

Banyak orang yang menyimpulkan ini bisa menjadi pintu gerbang kebangkitan komunis di bumi nusantara. Padahal, negara komunis itu sudah usang.

Ideologi komunis sebenarnya sudah runtuh, sejak pecahnya negara Uni Sovyet. Bahkan, Tiongkok saat ini disebut-sebut sebagai negara komunis, tapi dengan ekonomi kapitalis.

Namun, teori Marxisme, yang menjadi akar paham komunis di dunia, masih diperlukan untuk pisau analisis kondisi sosial dan ekonomi saat ini. Agar paham kapitalis tidak kebablasan. Dalam konteks ini, teori ‘kiri’ menjadi penyeimbang.

Bahkan, anak-anak muda saat ini terutama mahasiswa kerap berdiskusi secara terbuka dan ilmiah soal Marxisme, Komunisme, dan Sosialisme. Aktivitas ini sudah dimulai oleh para mahasiswa sejak reformasi 1998 untuk membuka khasanah ilmu pengetahuan.

Mereka tidak mendirikan negara komunis, meski sudah 17 tahun berlalu. Bahkan, buku-buku ‘kiri’ sudah dijual bebas di toko-toko buku ternama. Lebih canggih lagi, bisa belanja online segala.

Masihkah takut dengan komunisme dan PKI? Jika persoalannya takut dengan stigma anti Tuhan, itu berarti kadar keimanan bangsa ini patut dipertanyakan?

Lalu, bagaimana dengan orang-orang di Eropa dan Amerika, yang negaranya kapitalis, tapi banyak warganya yang mengaku atheis alias tidak percaya Tuhan?

Mark Zuckerberg, pemilik Facebook, terang-terangan menyebut dirinya seorang atheis. Sementara itu, Indonesia adalah negara dengan pengguna Facebook terbesar kedua di dunia. Enaknya pakai produk atheis…