Lebih Dalam Mencintai Papua (Sebuah Catatan dari Pedalaman)

Lebih Dalam Mencintai Papua (Sebuah Catatan dari Pedalaman)

Sumber foto: Dodi Rokhdian

Pada suatu pagi, di sebuah kampung di pedalaman Papua, tepatnya di Mumugu Batas Batu, Distrik Sawaerma, Asmat, terdengar riuh suara derap langkah puluhan manusia di atas rumah panggung yang terbuat dari kayu besi. Senyum manis pun terpancar dari wajah anak-anak berbagai usia, berkulit hitam, dan berambut keriting tersebut.

Mereka berkumpul di bangunan yang diperuntukkan sebagai ruang belajar, meski ketika itu banyak kaca yang pecah. Atap bangunan juga rusak tertimpa pohon tumbang. Air pun mengalir deras saat hujan turun, sehingga menimbulkan genangan di dalam ruangan yang lama tak terurus.

Ansel, guru agama yang ditugaskan di kampung tersebut, meminta anak-anak segera berkumpul di halaman. Tanpa diberi aba-aba, mereka berbaris rapi dalam dua barisan. Di bawah sinar mentari yang mulai terik, mereka kemudian berdoa. “Bapa kami yang ada di surga. Dimuliakanlah nama-Mu…”

Selepas membaca doa, anak-anak dibagi dalam tiga kelompok besar sesuai usia dan pengetahuan dasar mereka. Dua kelompok belajar di dalam ruangan, satu kelompok lainnya belajar di selasar bangunan.

Delapan buah meja panjang yang dilengkapi laci kemudian disusun rapi dengan kursi. Seharusnya tiap kursi diisi dua orang saja. Tapi karena keterbatasan jumlah meja dan kursi, beberapa kursi diisi tiga orang.

Buku dan pena lalu dikeluarkan dari saku celana. Beberapa anak membawa buku dan pena dalam tas, ada juga yang membawa perlengkapan belajar dalam kantong kresek hitam berukuran besar.

Saya menatap ke arah lantai, tak ada seorang pun yang bersepatu. Sebagian kecil mengenakan sandal jepit, sisanya bertelanjang kaki.

Pandangan mata lalu saya naikkan sedikit. Sebagian kecil dari mereka berseragam merah putih layaknya anak-anak di sekolah dasar. Beberapa mengenakan seragam olahraga bertuliskan Sekolah Dasar Kabupaten Asmat. Sisanya memakai kaos sepak bola lengkap dengan nomor punggung dan nama pemain, ada Messi, Ronaldo, juga Boaz.

Ketika itu, hawa ruangan pun semakin panas, karena atap bangunan terbuat dari seng. Papan tulis yang kehitaman semakin pudar terpaku di dinding ruangan. Kapur-kapur berserakan. Seorang murid bernama Yosepha Toraisop maju ke depan. Menggunakan kertas yang ia temukan di lantai, secara sukarela ia membersihkan papan dari tulisan-tulisan pelajaran hari sebelumnya.

Sesekali suara truk yang melintas di jalan berbatu terdengar oleh kami. Beberapa anak mengintip dari jendela, memperhatikan truk yang melintas. Hari itu, kami belajar bangun ruang. Bujur sangkar, persegi panjang, dan lingkaran. Mencoba menghitung keliling dan luasan dari bangun ruang yang kami pelajari.

Sekali dua kali diberi contoh, kebanyakan mereka langsung paham cara-cara menentukan keliling dan luasan bangun ruang yang kami pelajari. Sedikit saja yang butuh berkali-kali penjelasan agar materi yang disampaikan benar-benar bisa mereka pahami.

Suara truk yang melintas kembali terdengar. Kali ini, mesin truk mati tepat di depan sekolah kami. Tujuh orang berseragam loreng turun dari truk. Dengan langkah tegap, mereka bergerak menuju bangunan sekolah. Kami pun tetap melanjutkan pelajaran hingga seorang dari mereka mengetuk pintu dan memberi salam.

“Selamat pagi, Pak Guru,” sapa seorang pria berseragam loreng.

Saya dan Ansel segera menemuinya. Sedangkan Akbar – rekan kami – masih belajar bersama anak-anak.

“Selamat pagi, Pak,” jawab Ansel diikuti saya.

“Kami sedang patroli ini, jadwal piket. Kami mau lihat-lihat kegiatan di sini.”

“Oh baik, Pak, silakan,” kata Ansel.

Saya kembali ke kelas, melanjutkan pelajaran bangun ruang bersama murid-murid. Mereka bertujuh kemudian memasuki kelas, melihat langsung kegiatan belajar. Dua orang memeriksa buku murid-murid dengan seksama, sisanya sekadar hilir mudik di dalam kelas.

Kelas menjadi sunyi, tak seorang pun di antara saya dan murid-murid bersuara. Yang terdengar hanya suara sepatu para tentara yang beradu dengan lantai kayu. Sesekali para tentara itu bersuara, bertanya kepada saya atau murid-murid. Saya menjawab, murid-murid tidak. Lalu mereka pindah ke kelas sebelah, tempat Akbar belajar bersama anak-anak.

Usai melihat-lihat kegiatan kami, rombongan tentara itu memanggil saya, Ansel, dan Akbar. Mereka mengajak kami berbincang. Intinya mereka meminta kami siaga dan waspada, karena tak lama lagi tanggal 1 Desember tiba, 1 Desember 2014.

Mereka juga meminta kami kooperatif, kalau-kalau ada sesuatu yang mencurigakan di kampung terkait perayaan 1 Desember. Tanggal 1 Desember biasa diperingati sebagian orang di Papua sebagai Hari Kemerdekaan Papua.

Biasanya mereka yang menginginkan kemerdekaan Papua dari Indonesia akan merayakan 1 Desember dengan upacara pengibaran bendera Bintang Kejora. Tentara pasti melarang kegiatan itu. Kericuhan kerap terjadi saat perayaan 1 Desember. Tak sedikit korban bermunculan. Yang selamat langsung masuk penjara.

Saya tak ambil pusing dengan permintaan para tentara yang datang berkunjung ke sekolah. Diminta kooperatif untuk apa? Supaya jadi mata-mata? Agar ada yang ditangkap atas laporan saya?

Perihal Papua, entah sejak kapan saya begitu mencintai Papua. Sudah sejak lama saya selalu mengikuti berita perkembangan Papua. Berita apapun itu, asal ada kaitannya dengan Papua, saya pasti menyimaknya baik-baik.

Menyimak berita tentang Papua, yang melulu terdengar tentu saja tentang ketidakadilan yang diterima penduduk asli. Tentang ruang hidup, distribusi sumber daya alam, pelayanan kesehatan, fasilitas transportasi, hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, serta banyak hal lainnya.

Mari saya ajak anda langsung untuk melihat realitas yang terjadi di lapangan, terutama tentang layanan pendidikan yang sama sekali belum berpihak kepada kebanyakan anak-anak Papua. Kebetulan saya terjun langsung ke lapangan untuk hal ini.

Di Kabupaten Asmat, pelayanan pendidikan seakan dijalankan dengan setengah hati. Fasilitas pendidikan tak memadai. Yang kian memprihatinkan, tenaga guru sangat minim. Hal ini diperparah oleh sistem pendidikan yang mengadopsi langsung sistem pendidikan dari pusat untuk diterapkan di Kabupaten Asmat.

Dengan penyeragaman, semua harus sama. Muatan lokal untuk mengakomodasi kearifan lokal tempat murid-murid berasal diadakan sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Sama sekali tak menyentuh hal-hal prinsip yang dianut komunitas, tempat murid-murid berasal.

Padahal, konsep hidup keseharian murid-murid dan komunitas tempat mereka berasal sangat jauh berbeda dengan konsep hidup kaum urban, yang dijadikan dasar pijakan menyusun kurikulum sistem pendidikan di Indonesia.

Dengan kondisi semacam ini, banyak murid-murid yang kesulitan mengikuti pelajaran. Bukan satu-dua saja saya menemukan kasus anak usia sekolah menengah atas yang sekadar untuk membaca saja belum lancar.

Di atas kapal laut yang membawa saya dari Timika ke Agats (Ibukota Kabupaten Asmat), saya mendengar langsung cerita sedih dari para guru muda yang ditugaskan untuk mengabdi di Kabupaten Asmat. Mereka mengeluhkan banyaknya tuntutan yang dibebankan kepada mereka untuk diterapkan selama bertugas.

Jika membaca saja banyak yang belum lancar, bagaimana bisa menjejalkan materi-materi lain yang rasanya sangat berat dipelajari murid-murid di Papua? Beberapa dari mereka mengakali masalah ini dengan memberikan kelas tambahan di luar jam pelajaran. Kelas tambahan ini dikhususkan untuk belajar membaca.

Saya begitu mencintai Papua. Dan, saya yakin anda juga. Jika sekadar menggunakan perasaan semata, tentu saya berharap Papua tetap menjadi bagian dari Indonesia, negara yang di ibukotanya lah saya lahir, tumbuh, dan besar.

Tetapi, menyaksikan ketidakadilan yang dialami saudara-saudara kita di Papua dari satu sisi saja, misalnya pelayanan pendidikan, saya merasa sangat wajar bila mereka menuntut untuk merdeka dari Indonesia.