Langkah Konkret Menghadapi ‘Simpatisan Teroris’ di Media Sosial

Langkah Konkret Menghadapi ‘Simpatisan Teroris’ di Media Sosial

Ilustrasi (Gerd Altmann via Pixabay)

Terorisme lagi, terorisme lagi. Negara ini seakan tak henti diberikan cobaan. Tindakan biadab itu berlangsung lagi, lagi, dan lagi. Cukkk….!

Tindakan terorisme, kita tahu, tidak ditujukan langsung kepada ‘lawan’, melainkan di mana saja dan terhadap siapa saja. Tindakan keji itu dimaksudkan untuk memancing perhatian dari khalayak.

Hari ini, kekejian itu kembali terjadi. Tiga gereja di Surabaya, yakni Gereja Santa Maria Tak Bercelah di Ngagel, GKI di Jalan Diponegoro, dan GPPS Jemaat Sawahan di Jalan Arjuna diguncang ledakan bom.

Menurut polisi, waktu ledakan hampir bersamaan. Masing-masing pada pukul 07.30 WIB, 07.35 WIB, dan 08.00 WIB. Hingga Minggu (13/5) pukul 13.00 WIB dikabarkan 10 orang meninggal dan 41 korban luka dalam peristiwa itu.

Terorisme bukan sesuatu yang baru muncul kemarin sore. Sejarah mencatat, sejak abad 18, istilah teror dan terorisme sudah ada, walau fenomena yang terjadi sebenarnya sudah dirasakan jauh sebelumnya. Kata ‘terorisme’ berasal dari Bahasa Perancis, le terreur.

Jika kita melihat tujuannya, dari sejak dahulu teror bertujuan untuk memanfaatkan rasa takut yang memang lumrah ada di setiap diri manusia. Kegiatan teror ini diarahkan untuk menyerang titik tersebut.

Cara apapun yang digunakan, selama masyarakat menjadi panik atau kalut, maka misi tersebut dapat dikatakan berhasil.

Maka tak heran, jika belakangan di lini masa, saat muncul aksi teror, muncul pula aksi tagar #KamiTidakTakut atau #BersatuLawanTeroris. Karena itu adalah bentuk pernyataan yang dirasa tepat sasaran.

Jika para teroris ingin menyerang titik ketakutan kita, kita bentengi diri ini dengan pernyataan “Kami tidak takut”.

Tapi, apakah aksi di lini masa semacam itu cukup untuk menyudahi eskalasi aksi terorisme? Tentu saja tidak.

Jangan abaikan pendapat ini, bahwa teroris tidak hanya bekerja di lapangan, tetapi juga di media sosial. Logikanya, agar tujuan mereka tercapai, mereka butuh medium agar aksinya didengarkan dan lebih jauh lagi bisa mendapatkan simpati.

Yang mereka lakukan mungkin tidak terlihat secara verbal. Tapi, tetap perlu diwaspadai.

Kita bisa melakukan hal-hal kecil tapi berarti. Sudah saatnya kita lawan bibit-bibit aksi terorisme. Misalnya, melalui akun media sosial kita. Yuk, laporkan akun-akun ‘simpatisan teroris’ itu sebagai spam. Jangan sampai berkembang dan semakin merongrong.

Cukup sudah aksi teror menghantui, sekarang saatnya bersatu lawan terorisme. Dan… Jangan memanfaatkan situasi ini demi kepentingan politik. Itu!